Pasific Pos.com
Headline

Pansus Kemanusiaan DPR Papua : Usut Tuntas Pelaku Penembakan Tokoh Agama di Intan Jaya

Pansus Kemanusiaan DPR Papua saat menggelar jumpa pers terkait konflik Intan Jaya.

Jayapura, – Kali ini Pansus Kemanusiaan DPR Papua angkat bicara terkait konflik yang terjadi selama sepekan ini di Kabupaten Intan Jaya.

Setelah sebelumnya Wakil Ketua I DPR Papua, DR. Yunus Wonda, SH. MH dan anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa menyoroti insiden kasus penembakan yang terjadi berturut-turut selama sepekan di Kabupaten Intan Jaya, hingga rakyat sipil jadi korban, bahkan seorang hamba Tuhan yang bernama Pdt. Yeremia Zanambani, S. Th juga menjadi korban dari keberutalan pelaku penembak tersebut, yang mengakibatkan Pdt. Yeremia meninggal dunia.

Dari rentetan kejadian itu, Pansus Kemanusian DPR Papua memintah agar Kapolda Papua dan Pangdam XVII/ Cenderawasih segera mengusut secara tuntas pelaku penembakan terhadap hamba Tuhan Pdt Yeremia Zanambani yang terjadi Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya pada, Sabtu (19/9).

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Pansus Kemusiaan DPR Papua, Feryana Wakerkwa didampingi Wakil Ketua Pansus, Namantus Gwijangge dan beberapa anggota Pansus Kemanusiaan DPR Papua yakni, Paskalis Letsoin, Emus Gwijangge dan Las Nirigi saat menggelar jumpa pers di Hotel Horison Kotaraja, Selasa (22/9).

Feriana Wakerka mengatakan, jika ada orang yang mengatakan bahwa Pdt. Yeremia ini ditembak karena diduga salah sasaran, lantaran saat itu terjadi operasi militer di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, itu perlu dilihat kembali kebenarannya.

“Jadi kalau dikatakan Pendeta ini ditembak sala sasaran, perlu dilihat kebenarannya. Karena tidak mungkin sekali, jika melihat lokasi tempat tinggal dan tempat bekerja dari Pendeta ini tidak jauh dengan pos TNI. Sehingga sangat tidak mungkin kalau ada yang mengatakan Pendeta itu tertembak karena salah sasaran. Seharusnya kan mereka sudah tahu siapa bapak pendeta ini,” kata Feryana.

Atas kejadian tersebut, Pansus Kemanusian DPRP dengan tegas meminta kepada negara baik pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Gubernur, DPRP, dan MRP menanggapi peristiwa ini secara serius dan segera memerintahkan Kapolda Papua, dan juga Pangdam untuk mengusut tuntas pelaku penembakan terhadap seorang hamba Tuhan dengan memberi hukuman yang pantas dan setimpal sesuai perbuatannya.

“Jika tidak, kami pastikan bahwa kasus – kasus kemanusian menghilangkan nyawa manusia Papua, yang terjadi baik dengan sengaja, maupun tidak sengaja, atas nama kepentingan negara di Papua akan tetap terjadi terus menerus, tanpa satu pun kasus yang diselesaikan,” ujarnya.

Dikatakan, jika memang Indonesia ingin agar kami bangga menjadi bagian dari warga Indonesia, setidaknya perlakukan kami orang Papua selayaknya dengan orang Indonesia lainnya.

“Dan ketika perlakuan pembunuhan itu masih saja terus terjadi, maka rasa cinta kami terhadap Indonesia bisa hilang, sama dengan mereka. Sekalipun kami pakai Garuda di dada, pasti kami merasakan hal yang sama. Jadi kami berharap pelaku ini dibawa ke rana hukum untuk di proses secara hukum.
Supaya tidak terjadi lagi pembunuhan terus menerus diatas tanah ini,” harapnya.

Wakil Ketua Pansus DPR Papua, Namantus Gwijangge mengatakan, turut prihatin dan berbelasungkawa atas kejadian di Intan Jaya. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

Menurut legislator Papua ini, peristiwa itu seharusnya tidak perlu terjadi. Untuk itu pihaknya meminta Presiden Jokowi agar penanganan di Papua itu harus jelas.

“Jadi mereka yang melawan sekalipun itu mereka ditangkap tapi harus dibina. Apalagi dalam kejadian kali ini, korbannya adalah seorang pendeta yang notabene penerjamah alkitab dalam bahasa daerah. Jadi bagi kami orang-orang yang punya jasa besar itu sesungguhnya sangat luar biasa. Tetapi sangat disayangkan hal yang sama pernah terjadi di Mapenduma Nduga, itu juga adalah seorang penerjamah alkitab. Jadi kalau di pikir, ini luar biasa sakit hati,”ungkapnya.

Kemudian lanjut Namantus, disini kami garis bawahi bahwa perintah presiden jelas, sehingga kita mau aparat keamanan dalam hal ini TNI/Polri yang ditugaskan di daerah-daerah konflik sebaiknya lebih mengutamakan pendekatan kemanusiaan yang lain.

“Kasus kejadian ini kalau bisa ditahan dan bisa pakai cara lain, ya tidak mungkin terjadi. Tetapi karena kehilapan dan terlalu marah dan terlalu brutal sehingga insiden ini terjadi. Sebenarnya hal ini tidak seharusnya terjadi, dan ini sangat kami sayangkan,”ucapnya.

Menurut Namantus, seharusnya ketika ada tindakan-tindakan seperti ini, harus ada konfirmasi kepada pimpinan yang ada di wilayah Papua. Karena mereka yang setengah mati mempertahankan keamanan di Papua.

“Jadi mereka yg ditugaskan langsung dari pusat, mulai dari sekarang seharusnya berkoordinasi dengan baik dengan yang bertugas di Papua dalam hal ini Pangdam dan Kapolda. Supaya pendekatan yang selama ini mereka bangun itulah yang dilakukan, karena itu jauh lebih baik,”tandas Namantus Gwijangge.

Anggota Pansus DPR Papua, Paskalis Letsoin menilai kalau kasus ini masih simpang siur, sebab dari pihak TNI/ Polri menyatakan mereka bukan pelaku dari penembakan pendeta itu. Begitu pun sebaliknya dari pihak yang bersebrangan lewat juru bicaranya Semi Sabon mengatakan mereka juga bukan pelakunya.

Oleh sebab itu ungkap Paskalis Letsoiin pihaknya akan turun kelokasi untuk melihat secara langsung dan mengumpulkan data-data serta bukti – bukti yang akurat soal kasus penembakan Pdt Yeremia Zanambani.

“Pada prinsipnya dasarnya kami berharap kedua bela pihak, baik TNI/ Polri dan kelompok yang bersebrangan ini bisa menahan diri. Kami tidak mau, ada korban masyarakat yang mati sia – sia. Apalagi yang jadi korban seorang hamba Tuhan yang kerjanya melayani Tuhan dan sesama,” ujar Politisi PDIP ini.

Sementara itu, Emus Gwijangge menambahkan, dalam menyikapi kasus ini untuk menuju proses yang lebih lanjut, kami Pansus Kemanusiaan butuh data yang akurat.

“Sekalipun beritanya kami sudah lihat di sejumlah media maupun di Medsos yang sudah menyebar luaskan kejadian itu, tetapi kami Pansus Kemanusiaan juga butuh data yang akurat, sehingga kami Tim akan bergerak turun lakukan investigasi di lapangan untuk memastikan siapa pelaku sebenarnya, “tekannya.

Apalagi ujar Emus, penembakan ini juga Pansus Kemanusiaan belum tahu siapa pelaku sebenarnya, sebab ada kelompok-kelompok lain yang saling lempar. Sehingga kami sebagai wakil rakyat merasa harus turun lakukan investigasi,

Hal senada dikatakan oleh anggota Pansus Kemanusiaan lainnya yakni Las Nirigi, kasus ini harus segera ungkap pelakunya dan diproses secara hukum.

“Kasus ini harus di proses secara hukum, jangan kasih kabur. Kami tidak menerima hamba-hamba Tuhan terus menjadi korban. Jadi pihak aparat dalam hal ini TNI/Polri harus turun ke lapangan untuk selesaikan konflik ini,”tandas Las Nirigi.

Artikel Terkait

DPR Papua Bersama Komnas HAM RI Sepakat Kawal Proses Kasus Intan Jaya Hingga Tuntas

Tiara

Pansus Kemanusiaan DPR Papua Minta Tim Pencari Fakta Intan Jaya Harus Terbuka

Tiara

Ini Kata Ketua Tim Pencari Fakta Selama di Intan Jaya

Ridwan

Kapolda : Tinggal Menunggu Waktu Untuk Penindakan Terhadap KKB

Ridwan

KKB Kembali Beraksi Di Intan Jaya

Ridwan

Hentikan Kekerasan di Intan Jaya, Yan Mandenas : Mari Gunakan Ruang Dialog

Bams

Pansus Kemanusiaan DPR Papua Sampaikan Hasil Investigasi Penembakan di Intan Jaya

Tiara

Tim Pencari Fakta Intan Jaya Ditembaki KKB, Dosen UGM Jadi Korban

Ridwan

Legislator Papua Soroti Kasus Penembakan di Nduga dan Intan Jaya

Ridwan