Eksistensi Cendol Sagu Papua Sebagai Kuliner Tradisional Dan Dampaknya Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Kampung Tambat
MERAUKE-Kampung Tambat adalah sebuah Kampung di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang terkenal sebagai salah satu pusat pengolahan sagu modern menggunakan mesin (dwitrap) dan juga memiliki potensi wisata seperti camping ground (Tablem Country). Kampung ini berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengolahan sagu.
Sagu atau yang dikenal dengan nama lokalnya “saksak” di Papua, merupakan salah satu makanan khas yang sangat penting bagi masyarakat Papua. Bahan makanan yang berasal dari pohon sagu ini memiliki nilai gizi yang tinggi dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi kuliner Papua (Harsanto: 2020). Di samping itu, sagu juga dikenal sebagai makanan pokok yang tahan lama dan sangat bergizi, cocok untuk mendukung kehidupan di lingkungan yang terisolasi sebagaimana banyak daerah di Papua.
Pentingnya sagu dalam budaya Papua, sagu tidak hanya menjadi makanan pokok, tetapi juga memiliki nilai penting dalam budaya Papua (Warami, Hugo: 2018). Proses pengolahan sagu merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga dan seringkali menjadi momen sosial yang penting dalam komunitas Papua. Tradisi-tradisi seperti festival sagu juga sering diadakan untuk merayakan panen sagu dan menghormati keberlimpahan alam.
Dengan segala keunikannya, sagu tidak hanya menyediakan nutrisi yang diperlukan bagi masyarakat Papua, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dan hubungan yang erat antara manusia dan alam Papua. Dalam setiap gigitannya, olahan sagu Papua tidak hanya mengisi perut, tetapi juga memuaskan jiwa dengan kenangan akan warisan budaya yang kaya dan beragam.
Sagu merupakan salah satu tanaman pangan yang dijadikan sebagai komoditi unggulan dan makanan pokok terutama bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di kabupaten Merauke. Penyebaran sagu di daerah ini terdapat di 60 kampung lokal termasuk di kampung Tambat (Adrianus, dkk:2023).
Cendol sagu Papua merupakan salah satu minuman tradisional yang sangat di gemari oleh masyarakat Merauke. Inovasi kuliner segar yang memanfaatkan sagu lokal. Biasanya, cendol sagu ini di buat dari tepung beras, atau tepung hunkwee sering di sajikan dengan santan, susu dan gula merah. Namun, dalam usaha ini kami menghadirkan inovasi baru dengan menggunakan sagu sebagai bahan utama.
Sagu dipilih karena memiliki tekstur yang lebih kenyal serta lebih sehat karena bebas gluten. Teksturnya kenyal, lebih tahan lama. Peluang usaha cendol sagu sangat menjanjikan, terutama karena masyarakat Merauke saat ini semakin sadar akan manfaat mengkonsumsi makanan alami dan sehat. Dengan konsep penyajian yang unik dan cita rasa yang lezat, cendol sagu diharapkan dapat menjadi minuman favorit di berbagai kalangan.
Kuliner tradisional Merauke berfungsi sebagai inovasi pelestarian produk bahan lokal, terutama melalui pemanfaatan sagu bahan lokal yang diolah menjadi hidangan khas dan dimodifikasi untuk pasar modern. Inovasi pelestarian produk bahan lokal di Papua adalah upaya kreatif dan strategis untuk mengembangkan serta mempertahankan produk-produk yang bersumber dari bahan alam dan kearifan lokal Papua melalui sentuhan inovasi, baik dalam aspek pengolahan, pengemasan, maupun pemasaran digital (Everett Rogers: 2003).
Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai ekonomi, daya saing dan keberlanjutan budaya produk tersebut, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam dan identitas lokal.
Dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada di Kampung Tambat ini sehingga dipandang perlu meningkatkan pemahaman pemanfaatan sumber daya alam lokal yang ada melalui pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga.
Untuk itulah melalui program pengabdian masyarakat ini dosen Unmus ingin memperkenalkan dan memasarkan cendol sagu Papua kepada ibu-ibu di kampung Tambat sebagai produk/usaha kuliner inovatif berbasis makanan tradisional, yang dipadukan dengan gula aren asli, santan segar dan es serut untuk memberikan rasa manis, gurih dan segar.
Tim dosen terdiri dari Ketua, Angla Florensy Sauhenda S.Pd.,M.Pd serta anggota, Marnina, S.S., M.Hum dan Tarsisius Kana, S.E.,M.Si. Angla menjelaskan, tim PKM memberikan pelatihan/pendampingan kepada ibu-ibu di kampung Tambat cara membuat cendol sagu dengan baik dengan memanfaatkan potensi sagu di kampung ini sebagai sumber daya lokal sehingga dapat menjangkau pasar lokal hingga online dan bagaimana sagu dapat diolah menjadi hidangan modern yang menarik berbeda dari olahan tradisional seperti sagu sep (dibakar dengan kelapa) atau papeda (bubur sagu).
Namun sebelum melakukan pendampingan, kelompok ibu-ibu rumah tangga perlu diberikan sosialisasi pembuatan cendol sagu tanpa pengawet. Pemilihan jenis sagu sebagai bahan utama dengan tepat, komposisi bahan-bahannya, serta dampak negatif bahan pengawet terhadap kesehatan manusia. Ketiga hal dasar tersebut sangat penting untuk dipahami para peserta sosialisasi sehingga pada saat proses pembuatan boleh terlaksana sesuai dengan target.
Pendampingan ini bertujuan agar bahan lokal tetap di lestarikan serta mempunyai nilai jual guna menambah penghasilan keluarga disamping itu pula dilakukan pemberdayaan untuk ibu rumah tangga untuk meningkatkan ekonomi keluarga dengan bahan dasar sagu. Pada saat sosialiasi ini perlu juga disingkapkan pendapatan yang akan mereka peroleh apabila mereka sudah dapat memproduksi secara mandiri seusai berakhirnya PKM ini nantinya.
Tujuan keikutsertaan ibu-ibu kampung Tambat ini diharapkan agar pengetahuan mereka senantiasa berkembang sehingga membuat cendol sagu dengan varian tergantung dari kreatifitasnya mereka masing-masing. Sehingga dampaknya secara langsung dapat dirasakan oleh setiap masyararat.
Dengan adanya kegiatan pelatihan dan pendampingan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan ibu-ibu rumah tangga dalam pembuatan produk, dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan ekonomi berbasis kearifaan lokal, dan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. (iis)
