Dari Papua ke Surabaya, BTM Bakar Semangat Pejuang Muda Piala Soekarno
Jayapura,- Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Dr. Drs. Benhur Tommy Mano, MM, membakar semangat 16 tim yang ambil bagian dalam turnamen Piala Soekarno di Surabaya.
Ia meminta seluruh pemain tampil berani, pantang menyerah, sekaligus tetap menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan.
Benhur Tommy Mano (BTM) menegaskan bahwa seluruh tim yang datang dari berbagai penjuru Indonesia memiliki satu tujuan yang sama, yakni meraih kemenangan.
“Semua datang ke Surabaya tentu membawa satu penyakit yang sama: ingin menang. Dan memang harus begitu. Kalau datang jauh-jauh hanya mau jalan-jalan, salah pilih acara. Ini Piala Soekarno,” ujarnya.
Menurutnya, Surabaya sebagai Kota Pahlawan memberikan energi tersendiri bagi para pemain. Karena itu, ia meminta seluruh peserta tidak tampil dengan mental biasa-biasa saja.
Ia mengingatkan para pemain agar tidak minder menghadapi lawan yang memiliki nama besar maupun pemain yang lebih terkenal.
“Sepak bola tidak dimainkan oleh nama besar. Sepak bola dimainkan oleh kaki, kepala, hati, dan keberanian. Begitu peluit berbunyi, semua mulai dari nol-nol. Di situlah kalian membuktikan siapa kalian,” tegasnya.
BTM juga mengajak para pemain membawa semangat keberanian yang menjadi bagian dari nilai perjuangan Soekarno. Menurut dia, pemain tidak boleh kalah sebelum pertandingan dimulai, apalagi hanya karena melihat reputasi lawan.
“Jangan kalah sebelum bertanding. Dan yang lebih penting, jangan pernah kalah di dalam kepala sebelum kalah di papan skor,” katanya.
BTM menekankan pentingnya sportivitas. Keberanian di lapangan bukan berarti bermain kasar. Pemain harus tetap menghormati lawan, wasit dan panitia.
“Kalau menang, rangkul yang kalah. Kalau kalah, jabat tangan yang menang. Hari ini lawan kita mungkin mengambil tiga poin dari kita. Besok dia bisa menjadi saudara kita seumur hidup. Itulah olahraga,” ujarnya.
BTM juga berharap Piala Soekarno tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga menjadi wadah untuk menemukan talenta-talenta muda potensial dari berbagai daerah.
Ia meminta panitia dan pihak terkait tidak hanya melihat klub maupun asal daerah pemain, tetapi juga memperhatikan kemampuan individu yang tampil di turnamen.
“Siapa tahu ada mutiara yang selama ini belum terlihat. Mungkin ada anak dari Papua, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, atau dari daerah mana saja,” katanya.
Menurutnya, turnamen tersebut bisa menjadi pintu bagi pemain muda untuk melangkah ke level yang lebih tinggi.
“Hari ini dia bermain di Piala Soekarno. Besok siapa tahu dia bermain di Liga Indonesia. Dan beberapa tahun lagi, siapa tahu Garuda ada di dadanya,” tuturnya.
BTM menilai keberhasilan terbesar Piala Soekarno bukan semata-mata ketika satu tim mengangkat trofi, melainkan ketika turnamen mampu membuka jalan bagi masa depan pesepakbola muda Indonesia.
BTM juga memberikan pesan khusus kepada tim Banteng Papua Raya yang datang dari Papua.
Ia mengingatkan bahwa para pemain telah menempuh perjalanan panjang dari Jayapura menuju Surabaya. Para pemain tersebut sebelumnya dilepas dari Jayapura pada 5 Agustus.
“Anak-anakku sudah datang jauh-jauh dari Papua. Tanggal 5 Agustus lalu kami lepas kalian dari Jayapura. Sekarang kalian sudah sampai di Surabaya. Jadi tugas saya tinggal mengingatkan: jangan bikin kami menyesal sudah kasih kalian tiket ke Surabaya,” ujarnya disambut semangat peserta.
BTM meminta Banteng Papua Raya menunjukkan permainan terbaik. Namun ia juga menegaskan bahwa tim Papua tidak ingin mendapatkan kemenangan dengan mudah.
“Kepada 15 tim yang lain, kalau ketemu Papua, main sungguh-sungguh. Jangan kasih kami jalan mudah. Karena kalau mau menjadi juara, kami juga tidak mau mendapatkannya karena dikasih. Kami mau merebutnya secara terhormat di lapangan,” tegasnya.
BTM juga membawa pesan persatuan, ia mengatakan keberagaman daerah harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh.
Menurutnya, 16 tim yang hadir merupakan gambaran Indonesia dalam keberagaman.
“Saya tidak melihat 16 kelompok yang terpisah. Saya melihat Indonesia dalam 16 jersey yang berbeda,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Papua tidak boleh dipandang sebagai wilayah pinggiran Indonesia. Demikian pula Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara merupakan bagian yang sama pentingnya dalam rumah besar Indonesia.
“Papua bukan halaman belakang Indonesia. Jawa bukan satu-satunya halaman depan Indonesia. Kita semua halaman depan Republik Indonesia,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap kehadiran tim Papua di Surabaya menjadi bagian dari semangat persatuan. Begitu pula ketika tim-tim dari daerah lain berkunjung ke Papua, mereka diharapkan datang bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai saudara.
“Anak Papua datang ke Surabaya bukan datang ke negeri orang. Dan suatu hari kalau saudara-saudara datang ke Jayapura, jangan merasa sebagai tamu. Datanglah sebagai saudara yang pulang ke rumah Indonesia dari pintu yang lain,” katanya.
BTM kembali membakar semangat para pemain untuk bertanding dengan mental pejuang. “Jangan hanya kenang namanya. Jangan hanya ceritakan sejarahnya. Bawa semangatnya, bawa keberaniannya, dan warisi apinya!” serunya.
Seruan tersebut kemudian ditutup dengan pekikan “Piala Soekarno”, “Indonesia”, dan “Merdeka”.
