Sambangi RRI, Peserta Pelatihan Life Skill OAP Antusias Praktek Jadi Penyiar
MERAUKE-Kunjungan ke LPP RRI Merauke menjadi salah satu agenda yang diikuti oleh peserta pelatihan life skill broadcasting untuk Orang Asli Papua (OAP) yang berlangsung Jumat (16/10).
Seperti yang diketahui, saat ini tengah berlangsung pelatihan life skill yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan dengan berfokus pada beberapa keahlian. Para peserta begitu bersemangat menelusuri setiap ruangan dan studio.
Setelah beberapa hari menerima materi tibalah saatnya peserta diajak turun ke lapangan untuk melihat secara langsung proses penyiaran. Peserta didampingi oleh empat instruktur yaitu Wilhelmina Welliken, Petrus Cabui, Rizky Firmansyah dan Anisa Rizki Sabrina. Sedangkan pihak RRI dihadiri oleh Tri Atmojo selaku Ketua Tim Teknologi Media Baru, Ketua Tim Pemberitaan, Bambang Hermawan dan Kasubag TU, Rina Suprapti.
Dalam kesempatan itu peserta mendapat berbagai informasi terkait siaran RRI, antara lain tentang layanan penyiaran melalui beberapa saluran atau program siaran utama serta bidang siaran pendukung untuk melayani wilayah Kabupaten Merauke dan sekitarnya di Provinsi Papua Selatan.
Mencakup informasi, aspirasi, pemberitaan daerah, dialog interaktif, wawasan kebangsaan. •hiburan, gaya hidup, musik, wadah kreativitas generasi muda serta kanal siaran berita nasional yang direlay untuk mengikuti perkembangan informasi dari pusat.
Siaran pemberitaan dan warta berita: Menyajikan warta berita daerah, dialog luar studio serta program khusus seperti Patroli Siaran Udara dan kerja sama siaran bersama instansi pemerintah daerah. Siaran Perbatasan dan Pelosok (3T): Memperkuat ketahanan informasi di wilayah tapal batas Indonesia–Papua Nugini.
Siaran interaktif dan Podcast: Memanfaatkan platform digital serta studio podcast untuk dialog kebijakan publik dan kisah inspiratif lokal.
Selain itu disampaikan pula tentang RRI Digital dan cara mengakses siaran RRI Merauke di aplikasi RRI Digital. Bahkan peserta dapat mencoba menjadi penyiar dengan menggunakan fasilitas yang ada. Dalam hal ini para peserta mempraktekkan langsung ilmu yang telah diperoleh di dalam studio.
Wilhelmina mengatakan, untuk broadcasting tidak cukup hanya teori tetapi harus disertai dengan praktek. Oleh sebab itu peserta diajak ke RRI untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Harapannya dapat meningkatkan pemahaman dan ketertarikan untuk mau terus belajar. Semua ini akan menjadi bekal di kemudian hari ketika suatu saat ingin bekerja sebagai penyiar RRI.
Ia sangat mendambakan anak asli Papua dapat menjadi penyiar hebat di radio-radio serta menjadi corong dalam menyampaikan pesan-pesan edukatif juga motivasi. “Itulah kebahagiaan kami ketika bisa melihat mereka mampu mengendalikan satu mic di RRI, ” ujarnya.
Sementara itu Salina Falentin Kayep dan Panggrasia Amokap, dua peserta pelatihan menyampaikan perasaan senangnya karena pada akhirnya bisa memasuki studio RRI bahkan ikut mencoba menjadi penyiar. “Saya senang sekali bisa datang dan praktek langsung. Momen ini begitu menyenangkan, saya betul-betul exited, ” terang Salina.
Ketika mengetes kemampuannya bercuap-cuap di depan mic, Salina merasa gugup namun di sisi lain juga sangat senang karena bisa praktek secara langsung. Panggrasiapun tidak kalah senangnya karena ia mengakui belum pernah memasuki studio RRI satu kalipun padahal dirinya asli warga Merauke. Ia juga merasa gugup ketika praktek karena baru pertama kali.
Baik Salina maupun Panggrasia, sama-sama menyukai dunia broadcasting sehingga mendaftarkan diri ikut pelatihan. Mereka mengaku sangat cocok dengan pola yang diajarkan oleh empat instruktur karena sangat praktis dan mudah dilakukan. Materi yang diberikan juga mudah dipahami dibarengi dengan skill yang dinilai sudah sangat mumpuni. “Pokoknya seru sekali karena empat instruktur ini asyik-asyik orangnya dan materinya tidak membosankan,” ungkap Panggrasia.(iis)
