Ketika Rakyat Papua Menjadi Korban
Oleh: Yopie Kogoya
Beredarnya video yang diduga memperlihatkan penembakan terhadap tiga orang masyarakat sipil asli Papua karena dituduh sebagai mata-mata TNI mengguncang nurani kita. Apabila informasi tersebut benar, maka yang terjadi bukan sekadar pembunuhan, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang kembali memperlihatkan betapa mahal harga yang harus dibayar oleh rakyat Papua akibat konflik yang berkepanjangan.
Tidak ada perjuangan yang dapat dibenarkan dengan menghilangkan nyawa warga sipil hanya berdasarkan dugaan. Menuduh seseorang sebagai mata-mata tanpa proses pembuktian, kemudian mengeksekusinya di tempat, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan, hukum, dan prinsip perlindungan terhadap warga sipil yang diakui secara universal.
Papua telah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kekerasan. Ironisnya, yang paling sering menjadi korban justru masyarakat yang seharusnya dilindungi. Mereka bukan pembuat kebijakan, bukan pemegang senjata, melainkan rakyat biasa yang setiap hari berjuang menghidupi keluarganya.
Data sepanjang 1 Januari hingga 23 Juli 2026 menunjukkan betapa seriusnya situasi tersebut. Dalam kurun waktu itu terjadi 97 gangguan keamanan. Sebanyak 11 aparat keamanan gugur dan 13 lainnya mengalami luka-luka.
Dari kalangan masyarakat pendatang, 15 orang meninggal dunia dan 17 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, 7 Orang Asli Papua meninggal dunia dan 2 lainnya mengalami luka-luka dalam insiden yang teridentifikasi.
Di luar itu, masih terdapat 19 korban meninggal dan 19 korban luka dari masyarakat asli Papua yang identitasnya belum berhasil diidentifikasi. Di pihak TPNPB/OPM sendiri tercatat 28 orang meninggal, 11 orang mengalami luka-luka, dan 55 orang diamankan oleh aparat penegak hukum.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat seorang ibu yang kehilangan anaknya, seorang istri yang kehilangan suaminya, seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan sebuah keluarga yang hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tidak ada satu pun nyawa manusia yang layak dipandang sebagai sekadar konsekuensi biasa dari konflik.
Peristiwa dugaan pembunuhan terhadap tiga warga sipil tersebut kembali mengingatkan bahwa kita, rakyat Papua, berada di posisi yang paling rentan. Kita dapat menjadi korban baku tembak, korban salah sasaran, korban intimidasi, maupun korban kecurigaan. Padahal, siapa pun yang mengaku berjuang demi Papua semestinya menempatkan kami, rakyat Papua, sebagai pihak yang pertama dilindungi, bukan justru dijadikan sasaran.
Perjuangan apa pun akan kehilangan maknanya ketika dibangun di atas darah orang-orang yang tidak berdosa. Tidak ada cita-cita yang menjadi mulia apabila diraih dengan membunuh warga sipil. Tidak ada kemerdekaan yang memperoleh kehormatan apabila jalannya dipenuhi oleh air mata rakyat sendiri.
Kita, masyarakat Papua, dikenal sebagai masyarakat yang religius. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan moral. Dalam kehidupan sehari-hari, nama Tuhan selalu hadir dalam doa, pengharapan, dan setiap langkah kehidupan. Karena itu, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa bukan hanya pelanggaran terhadap hukum, tetapi juga pelanggaran terhadap nilai-nilai yang diajarkan Tuhan.
Tidak ada Tuhan yang memuliakan perjuangan yang dibangun di atas penderitaan rakyat kecil. Tidak ada ajaran agama yang membenarkan perampasan nyawa orang yang tidak bersalah. Sebaliknya, setiap agama mengajarkan kasih, penghormatan terhadap kehidupan, dan martabat setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Jika perjuangan itu benar-benar dilakukan demi kami, rakyat Papua, maka rakyat Papua seharusnya menjadi pihak yang paling dilindungi. Ketika kami, rakyat Papua sendiri dibunuh karena tuduhan yang belum pernah dibuktikan, maka perjuangan itu kehilangan dasar moralnya.
Karena itu, dugaan peristiwa ini harus diusut secara objektif dan transparan. Fakta-fakta harus diverifikasi, identitas korban dipastikan, dan apabila terbukti terjadi pembunuhan terhadap warga sipil, para pelaku harus diseret untuk dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku. Keadilan bagi korban bukan hanya penting bagi keluarga mereka, tetapi juga bagi masa depan Papua.
Pada akhirnya, ukuran sebuah perjuangan bukan hanya ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai, melainkan juga oleh cara yang ditempuh untuk mencapainya. Ketika warga sipil dijadikan sasaran, siapa pun pelakunya, sesungguhnya yang sedang dikalahkan adalah nilai kemanusiaan itu sendiri.
Papua tidak membutuhkan lebih banyak kuburan. Papua membutuhkan lebih banyak kehidupan. Papua membutuhkan rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keberanian semua pihak untuk menghentikan lingkaran kekerasan yang telah berlangsung terlalu lama.
Sebab setiap nyawa yang hilang adalah ciptaan Tuhan. Dan tidak ada perjuangan yang layak dibangun di atas darah rakyat yang tidak berdosa.
