Dari Tanah Anim Ha untuk Nusantara: Denyut Pangan Papua Merajut Kedaulatan NKRI
Oleh: Mikael Kaize
Dari ujung timur kepulauan Nusantara, di mana surya pertama kali menyinari bumi Indonesia, sebuah cerita besar tentang ketahanan bangsa sedang bersemi. Di tanah datar nan luas Kabupaten Merauke bumi Anim Ha yang sarat kearifan—kami membuktikan bahwa Papua bukan sekadar wilayah geografis pelengkap, melainkan pilar strategis penopang ketahanan pangan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, halaman Balai Kampung Waninggap Kai di Distrik Semangga bergemuruh oleh rasa syukur. Sekitar 700 warga berkumpul merayakan Pesta Padi 2026, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pangan Sedunia. Irama hentakan kaki dan ritme Tari Nggatsi yang dibawakan penuh wibawa oleh saudara-saudara kami masyarakat Marind dari Dusun Bahor, Kampung Waninggap Nanggo, membuncah di tengah udara hangat Merauke. Bagi kami sebagai anak adat, tarian itu bukan sekadar hiburan pentas. Tari Nggatsi adalah doa, ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas tanah yang subur, sekaligus jembatan budaya yang membuktikan bahwa modernisasi pertanian dan adat istiadat Papua dapat berjalan selaras, saling menguatkan.
Hal yang paling membanggakan dada saya sebagai pemuda Papua Selatan adalah menyaksikan siapa yang berdiri di garis depan perayaan ini. Pesta Padi Waninggap Kai bukan perayaan seremonial elite pejabat dari Jakarta.

Pesta ini digagas, dipersiapkan, dan dipimpin langsung oleh kelembagaan petani lokal kami melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sejahtera bersama masyarakat kampung. Mereka membagikan 500 paket sembako kepada sesama warga dan secara tegas menyatakan dukungan penuh pada kelanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) di bumi Papua Selatan. Ini adalah legitimasi sosial yang tulus: petani Papua berdiri tegak sebagai tuan rumah atas hasil keringatnya sendiri.
Lompatan ini bukanlah kebetulan. Kabupaten Merauke kini kian mantap menempati peran sentral dalam Kawasan Sentra Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) melalui Inpres No. 14 Tahun 2025.
Kerja keras di lapangan tercermin nyata: dari 84 ribu hektare rencana cetak sawah di seluruh Tanah Papua, 48 ribu hektare di antaranya terbentang di Merauke, diperkuat dengan optimalisasi Daerah Irigasi Waninggap Kai oleh Kementerian PU guna mengairi 1.000 hektare sawah produktif.
Data daerah membuktikan lonjakan itu; produksi padi Merauke yang pada 2024 sebesar 258.626 ton melompat menjadi 430.521 ton di 2025, menghasilkan lebih dari 200 ribu ton beras yang siap didistribusikan. Bahkan di peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini, beras premium lokal Merauke resmi diluncurkan. Kami tidak lagi hanya menjual gabah mentah, tetapi mengolah kemandirian pangan dari hulu ke hilir.
Selama berdekade, wacana tentang Papua kerap disempitkan pada isu tambang atau dinamika politik. Namun hari ini, dari petak-petak sawah Waninggap Kai hingga bentang tanah Semangga, kami mengukir narasi baru: bulir padi Merauke adalah kontribusi nyata anak-anak Papua untuk piring makan seluruh rakyat Indonesia.
Di sinilah makna kebangsaan terajut paling indah. Ketika tetes keringat petani Papua Selatan mengalir untuk memastikan saudara-saudara kami dari Sabang sampai Miangas tidak kekurangan pangan, di sanalah jiwa NKRI hidup sebenar-benarnya. Dari Merauke, kami tidak hanya menanam padi kami sedang menumbuhkan martabat, kemandirian, dan masa depan Indonesia yang berdaulat.
