BEI Ajak Konsultan Papua Bangun Ketahanan Keuangan
Lewat Literasi dan Investasi
Jayapura – Bursa Efek Indonesia (BEI) Papua berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua, DPP INKINDO Papua, dan PT Phillip Sekuritas Indonesia menyelenggarakan
Executive Sharing dan Financial Clinic di Aula Lantai 3 Gedung INKINDO Papua, di Kota Jayapura, Jumat, 24 Juli 2026.
Kegiatan bertema “Membangun Ketahanan Keuangan Perusahaan Konsultan melalui Literasi Keuangan dan Strategi Investasi” ini diikuti 100 anggota INKINDO Papua.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan perusahaan, produk jasa keuangan, instrumen pasar modal, pengelolaan likuiditas, serta kewaspadaan terhadap investasi ilegal.
Kegiatan dibuka oleh Ketua DPP INKINDO Papua, Novisca Anditiaman, dipandu oleh Bendahara DPP INKINDO Papua, Simon Nuburaj.
Materi disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan BEI Papua, Kresna Payokwa, mengenai pasar modal dan strategi ketahanan keuangan perusahaan konsultan, Kepala Bagian Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Papua,
Viktorinus Donny Vika Permana, mengenai literasi keuangan, produk jasa keuangan, perlindungan konsumen, dan kewaspadaan investasi ilegal.
Serta Representative Officer Jayapura PT Phillip Sekuritas Indonesia, Rifki Kurnia Putra, mengenai mekanisme investasi, pembukaan rekening efek, dan penggunaan aplikasi perdagangan saham.
SmKresna menjelaskan bahwa perusahaan konsultan perlu memperkuat pengelolaan likuiditas, dana cadangan, dan investasi untuk menghadapi tantangan seperti ketergantungan pada proyek pemerintah, keterlambatan pembayaran, perubahan arus kas, kenaikan biaya operasional, dan persaingan usaha.
Perusahaan juga perlu memisahkan dana operasional, dana darurat, dan dana investasi agar pengelolaan keuangan lebih terukur, sesuai tujuan, jangka waktu, dan profil risiko.
“Kolaborasi antara BEI Papua, OJK Papua, dan INKINDO Papua merupakan langkah strategis untuk memperluas literasi keuangan dan mendorong pengelolaan keuangan perusahaan yang lebih terencana,
bijak, dan bertanggung jawab,” ujar Kresna.
Peserta juga diperkenalkan pada instrumen seperti reksa dana, obligasi negara, obligasi korporasi, exchange traded fund, dan saham, termasuk prinsip hubungan risiko dan imbal hasil, diversifikasi, serta pemilihan instrumen sesuai tujuan keuangan.
Kresna turut menekankan pentingnya menghindari penggunaan dana operasional untuk investasi berisiko tinggi, keputusan investasi karena tren, harapan keuntungan instan, kurangnya diversifikasi, dan pencampuran keuangan pribadi dengan keuangan perusahaan.
Ketua DPP INKINDO Papua, Novisca Anditiaman menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai literasi keuangan berperan penting dalam memperkuat kapasitas serta ketahanan keuangan anggota INKINDO Papua.
“Kami berharap BEI, OJK Papua, dan para pemangku kepentingan dapat terus memberikan edukasi serta pendampingan mengenai pengelolaan keuangan dan investasi yang legal, aman, sesuai profil risiko,” ujar Novisca.
Melalui kegiatan ini, lintas instansi memperkuat komitmen bersama untuk meningkatkan literasi serta inklusi keuangan dan pasar modal di Papua.
Kolaborasi lanjutan diharapkan dapat dilakukan melalui edukasi pasar modal, konsultasi keuangan, pendampingan pembukaan rekening efek, dan kegiatan literasi investasi bagi anggota INKINDO Papua.
Diketahui, minat masyarakat Papua terhadap pasar modal terus meningkat. Jumlah investor pasar modal naik dari 102.846 investor pada Desember 2024 menjadi 128.249 investor pada Desember 2025, atau bertambah 25.403 investor dengan pertumbuhan sekitar 24,7 persen secara year-on-year.
Pada 2026, pasar modal di Papua diproyeksikan tetap tumbuh pada kisaran 20 hingga 25 persen, didukung edukasi berkelanjutan, perluasan Galeri Investasi, kanal digital, dan meningkatnya kepercayaan publik.
Optimisme ini sejalan dengan IHSG yang mencetak rekor tertinggi 9.133,873 pada 19 Januari 2026 dan kapitalisasi pasar BEI yang menembus Rp16.640 triliun.
