Ketika Harapan Ikut Menjadi Korban

“Tidak ada seorang ibu di pedalaman Papua yang menunggu datangnya perang. Yang mereka tunggu adalah suara pesawat.”

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pesawat hanyalah alat transportasi. Datang, mendarat, lalu pergi. Namun di pedalaman Papua, maknanya jauh berbeda.

Di kampung-kampung yang hanya dapat dijangkau melalui udara, suara baling-baling pesawat kecil berarti obat-obatan akan tiba, guru datang mengajar, tenaga kesehatan bergantian bertugas, atau seorang pasien akhirnya dapat dievakuasi. Bagi banyak orang Papua, pesawat kecil bukan lambang kemewahan. Ia adalah jembatan kehidupan.

Karena itu, ketika seorang pilot penerbangan misionaris kehilangan nyawanya di Balinggama, Yahukimo pada awal Juli 2026, pikiran saya tidak langsung tertuju pada politik. Yang muncul justru sebuah pertanyaan sederhana: mengapa orang yang datang membawa pelayanan justru menjadi korban?

Pertanyaan itu semakin mengganggu ketika melihat rangkaian peristiwa beberapa tahun terakhir.Pada April 2021, dua guru di Distrik Beoga tewas ketika sedang mengajar. Beberapa bulan kemudian, tenaga kesehatan Gabriela Meilani meninggal dunia setelah menjadi korban serangan di Kiwirok. Pada tahun-tahun berikutnya, kembali muncul laporan mengenai guru dan tenaga kesehatan yang menjadi korban kekerasan di sejumlah wilayah Papua.

Dalam kurun lima tahun terakhir saja, sejumlah guru kehilangan nyawa ketika sedang mengajar. Tenaga kesehatan menjadi korban saat menjalankan tugas. Pilot Susi Air asal Selandia Baru disandera selama lebih dari satu setengah tahun. Pilot helikopter medis asal Selandia Baru meninggal dunia. Dua pilot Smart Air warga negara Indonesia juga menjadi korban. Terakhir, Nicholas F. Goselin, pilot Associated Mission Aviation asal Amerika Serikat, kehilangan nyawanya ketika baru mendarat membawa penumpang Papua. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa profesi-profesi yang selama ini identik dengan pelayanan masyarakat ikut terdampak konflik.

Apakah semua itu hanya rangkaian insiden yang berdiri sendiri?

Ataukah ada perubahan dalam pemilihan sasaran pada konflik bersenjata di Papua?
Saya sengaja menggunakan istilah pemilihan sasaran, bukan perubahan strategi. Strategi adalah kesimpulan yang memerlukan pembuktian. Yang dapat kita amati lebih dahulu adalah pola sasarannya.
Selama bertahun-tahun, konflik di Papua lebih sering dipersepsikan sebagai benturan antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang itu tampak melebar. Guru, tenaga kesehatan, pekerja sipil, hingga pilot ikut menjadi korban.

Mengapa?

Saya tidak mempunyai jawaban pasti. Namun ada beberapa kemungkinan yang patut dikaji.
Dalam kajian keamanan dikenal konsep hard target dan soft target. Hard target adalah sasaran dengan perlindungan tinggi, seperti instalasi keamanan atau aparat yang dipersenjatai. Sebaliknya, guru, dokter, perawat, bidan, pilot sipil, maupun pekerja kemanusiaan merupakan soft target. Mereka tidak membawa senjata dan hampir tidak memiliki perlindungan.

Di sisi lain, berkembang pula konsep soft target–high impact. Artinya, sasaran dipilih bukan semata karena nilai militernya, melainkan karena dampak yang dapat ditimbulkan.

uru memang hanya satu orang. Tetapi ketika guru menjadi korban, sekolah bisa berhenti. Guru lain takut datang. Anak-anak kehilangan kesempatan belajar.

Tenaga kesehatan juga hanya satu orang. Tetapi ketika ia pergi, pelayanan kesehatan ikut lumpuh. Ibu hamil kehilangan pertolongan. Pasien kehilangan akses pengobatan.

Begitu pula seorang pilot. Ketika ia tidak lagi terbang, obat-obatan tidak datang, pasien tidak dapat dievakuasi, dan kampung-kampung kembali terisolasi. Yang berhenti bukan sekadar penerbangan.
Yang ikut terganggu adalah kehidupan.  Di antara berbagai peristiwa tersebut, kisah Nicholas F. Goselin menyisakan pertanyaan yang paling sulit saya jawab.

Nicholas lahir pada 16 November 1996 di Connecticut, Amerika Serikat. Ia tumbuh di negara dengan berbagai pilihan hidup yang nyaman. Ia dapat saja membangun karier sebagai pilot di negaranya sendiri.
Namun jalan yang dipilihnya berbeda.

Ia bergabung dengan Associated Mission Aviation, sebuah organisasi penerbangan misionaris yang selama bertahun-tahun melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil. Pesawat-pesawat kecil itu membawa guru, tenaga kesehatan, pendeta, logistik, obat-obatan, sekaligus mengevakuasi pasien dari kampung-kampung yang sulit dijangkau.

Terbang di pegunungan Papua bukan pekerjaan mudah. Kabut datang tanpa diduga. Lembah sempit. Landasan pendek. Risiko selalu ada. Namun semua itu tetap dijalani. Bukan karena ketenaran. Bukan pula karena kekayaan.

Melainkan karena keyakinan bahwa masyarakat di pedalaman pun berhak memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan hidup yang sama. Karena itu saya terus bertanya-tanya.

Apa sebenarnya yang ingin dicapai ketika orang-orang yang datang membawa pelayanan juga menjadi korban?

Mungkin ada penjelasan yang belum kita ketahui. Mungkin pula ada dinamika yang tidak seluruhnya dipahami publik. Karena itu, jawaban atas pertanyaan tersebut hanya dapat diperoleh melalui fakta dan penyelidikan yang objektif.

Namun ada satu hal yang tidak memerlukan banyak perdebatan. Yang paling merasakan akibatnya adalah masyarakat Papua sendiri. Negara mungkin masih mampu membangun sekolah baru. Tetapi seorang anak Papua tidak pernah bisa mengulang satu tahun pelajaran yang hilang. Negara mungkin masih mampu mengirim tenaga kesehatan baru.

Tetapi seorang ibu di pedalaman tidak bisa menunda persalinannya sampai pengganti datang.
Negara mungkin masih mampu mencari pilot lain. Tetapi pesawat yang berhenti terbang berarti obat-obatan terlambat tiba, pasien gagal dievakuasi, dan kampung kembali terputus dari pelayanan dasar.

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang Papua. Guru yang datang ke pedalaman tidak datang untuk menjadi kaya.

Tenaga kesehatan tidak memilih distrik terpencil karena mengejar kenyamanan.  Pilot-pilot kecil yang setiap hari melintasi kabut dan pegunungan tidak melakukannya demi ketenaran. Mereka datang karena percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan. Bahwa setiap keluarga berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Bahwa setiap manusia, sejauh apa pun tempat tinggalnya, berhak memperoleh harapan yang sama.
Mereka datang bukan membawa senjata. Mereka datang membawa pelayanan. Mungkin saya keliru.
Mungkin masih ada jawaban yang belum kita ketahui. Tetapi sampai hari ini saya belum menemukan penjelasan yang dapat menjawab satu pertanyaan sederhana.

Kalau tujuan akhir dari setiap perjuangan adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Papua, bukankah guru, tenaga kesehatan, dan pilot yang datang melayani seharusnya menjadi orang-orang pertama yang dilindungi?

Penulis : Irenius Eratus

Related posts

CATATAN BHAKTI PROFESI SEORANG GURU

Bams

Policy Brief: Kebijakan Manajemen Rumah Sakit dalam Mengurangi Beban TBC dan Memperkuat Ketahanan Kesehatan

Jems

Mission Impossible – Dead Reckoning: Fiksi Ataukah Realitas?

Bams

Urgensi Penegakan Etika Dalam Pelayanan Kesehatan

Jems

Persipura dan Waktu Tuhan

Bams

Kebutuhan Evaluasi Keselamatan Mobil Listrik GSM TAXI

Fani

Leave a Comment