Ketua Komisi C DPRK Yahukimo Minta Pemerintah Perhatikan Korban Yali dan Mek Pasca konflik Antarsuku di Wamena

WAMENA — Anggota DPRK Yahukimo yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRK Yahukimo sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem, Yafet Saram, meminta pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan memberikan perhatian khusus kepada masyarakat Yali dan Mek yang menjadi korban dampak perang antarsuku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

 

Yafet menegaskan rumah-rumah warga yang terbakar, khususnya tempat tinggal masyarakat dan penampungan pelajar asal wilayah Yali dan Mek, harus segera didata dan dibangun kembali karena mereka bukan bagian dari kelompok yang bertikai.

 

“Rumah-rumah mereka harus dilihat secara khusus, didata dengan baik, dan dibangun kembali. Mereka ini korban yang tidak tahu apa-apa soal perang,” ujarnya di Wamena, Senin (25/5/2026).

 

Ia mengaku sangat prihatin dan marah atas tindakan kekerasan yang menyebabkan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban dalam konflik tersebut.

 

“Saya sebagai perwakilan suku Yali dan Mek sangat menyayangkan tindakan membakar manusia hidup-hidup di dalam rumah, apalagi ada mama-mama dan anak kecil. Ini sangat tidak bermoral,” katanya.

 

Menurut Yafet, kejadian tersebut merupakan hal baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah masyarakat Yali dan Mek, bahkan berdasarkan cerita para orang tua dan nenek moyang mereka.

 

“Kami belum pernah melihat, mendengar, bahkan cerita dari nenek moyang pun tidak ada kejadian seperti ini,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan masyarakat Yali dan Mek pada masa lalu memang dikenal memiliki tradisi perang antarsuku. Namun, menurutnya, perang pada zaman nenek moyang tidak pernah dilakukan dengan cara membakar manusia hidup-hidup.

 

“Kami orang Yali dan Mek dulu dikenal sebagai manusia kanibal, tetapi perang kami dulu tidak seperti ini. Nenek moyang kami berburu seperti berburu babi hutan atau burung, tetapi tidak pernah membakar manusia hidup-hidup bersama anak dan mama-mama,” katanya.

 

Yafet mengaku turun langsung ke Wamena untuk melihat kondisi para korban dan menyebut peristiwa tersebut sangat menyedihkan.

 

“Saya turun langsung melihat sendiri dan merinding. Ini sangat sadis dan menyakitkan,” ujarnya.

 

Menurutnya, masyarakat Yali dan Mek selama ini hidup damai dan tidak memiliki keterlibatan dalam konflik antara Suku Lany dan Suku Kurima.

 

“Kami tidak punya musuh dengan siapa pun. Orang Yali dan Mek hidup merantau untuk mencari makan dan mencari ilmu. Tetapi mereka ikut menjadi korban perang yang bukan urusan mereka,” katanya.

 

Dalam kesempatan itu, Yafet juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan semua pihak yang terlibat dalam upaya perdamaian perang antarsuku di Wamena.

 

Ia menjelaskan perang antara kelompok dari Lanny Jaya dan Kurima terjadi pada Jumat pekan lalu dan secara resmi berakhir setelah dilakukan prosesi perdamaian atau “patah panah” pada Sabtu, 23 Mei 2026. Proses perdamaian tersebut difasilitasi oleh Gubernur Papua Pegunungan, Jhon Tabo, dan dihadiri Bupati Yahukimo, Bupati Lanny Jaya, dan Bupati Jayawijaya selaku kabupaten induk.

 

Menurutnya, prosesi patah panah menjadi tanda bahwa kedua belah pihak sepakat menghentikan peperangan dan tidak lagi melanjutkan konflik.

 

“Saya atas nama lembaga DPRK Yahukimo dan Ketua Fraksi Partai NasDem memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati dan Wakil Bupati Yahukimo beserta seluruh jajaran pemerintah daerah yang turun langsung sejak hari pertama kejadian untuk melihat, mendengar, dan menangani situasi di lapangan,” ujarnya.

 

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Yahukimo bersama jajaran OPD, tenaga medis, hingga anggota DPRK turun langsung ke Wamena untuk memberikan bantuan, penguatan, dan pendampingan kepada masyarakat terdampak perang, khususnya warga Yahukimo yang berada di lokasi konflik maupun di pengungsian.

 

Menurutnya, suasana di Wamena saat konflik berlangsung sempat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Banyak warga mengungsi karena takut menjadi korban. Namun pemerintah daerah hadir memberikan rasa aman dan memastikan masyarakat tetap mendapat perhatian.

 

Yafet juga memberikan apresiasi kepada Bupati Jayawijaya yang dinilai aktif turun langsung mengunjungi titik-titik pengungsian dan memastikan kondisi keamanan Kota Wamena kembali kondusif.

 

Selain itu, ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Pegunungan yang telah memediasi pertemuan ketiga bupati hingga tercapai kesepakatan damai.

 

“Perang sudah berakhir pada Sabtu kemarin. Tidak ada lagi kelanjutan perang antara Suku Lany dan Suku Kurima,” katanya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Yafet juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Yali dan Mek di Wamena yang dinilainya menunjukkan sikap dewasa dan tetap memilih jalan damai meski menjadi korban dalam konflik tersebut.

 

“Saya sampaikan terima kasih atas sikap dewasa orang Yali dan Mek di Wamena yang menerima setiap keburukan dari suku lain sekalipun tidak bersalah,” ujarnya.

 

Menurutnya, sikap masyarakat Yali dan Mek yang tidak membalas kekerasan dengan kekerasan merupakan bentuk nyata ajaran Tuhan untuk saling mengampuni sesama manusia.

 

“Karena Tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan sesama umat. Dari sikap orang Yali dan Mek terlihat bagaimana mereka mampu memaafkan sekalipun tidak bersalah,” katanya.

 

Yafet menegaskan masyarakat tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi harus menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

 

“Kita jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Setiap tindakan dan pengalaman hidup harus menjadi pelajaran untuk berbenah menjadi lebih baik,” ujarnya.

 

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Yali dan Mek tidak memiliki permusuhan dengan siapa pun dan ingin hidup damai bersama seluruh masyarakat Papua Pegunungan.

 

“Kita hidup bukan untuk saling membunuh dan memusuhi, tetapi saling mengasihi. Kami orang Yali dan Mek tidak punya musuh,” katanya.

 

Menurut Yafet, ajaran agama dan nilai kemanusiaan harus menjadi dasar dalam menjaga hubungan antarsesama masyarakat.

 

“Dalam sepuluh hukum Tuhan sudah jelas, jangan membunuh dan jangan memusuhi sesama manusia. Jadi kita harus selalu menerima dengan senyum dan tawa apa pun keburukan orang lain terhadap kita,” ujarnya.

 

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Yali dan Mek yang hingga kini masih bertahan di tempat-tempat pengungsian meski mengalami banyak penderitaan akibat konflik tersebut.

 

“Saya sampaikan terima kasih kepada masyarakat Yali dan Mek yang sudah berkorban tetapi masih bisa bertahan di tempat pengungsian. Semoga ada jalan keluar bagi masyarakat,” katanya.

 

Yafet menilai konflik berkepanjangan akan menghambat pembangunan di Papua Pegunungan, termasuk pembangunan kantor gubernur dan infrastruktur pemerintahan lainnya.

 

Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Tolikara, Lanny Jaya, Yahukimo, Jayawijaya, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, hingga pemerintah pusat untuk bersama-sama membantu membangun kembali rumah dan tempat tinggal masyarakat terdampak.

 

Ia juga meminta perhatian khusus terhadap enam rumah penampungan pelajar asal wilayah Yali dan Mek yang ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.

 

Menurutnya, rumah-rumah itu selama ini menjadi tempat tinggal pelajar SMP dan SMA yang menempuh pendidikan di Wamena dan berasal dari enam distrik di wilayah Yali dan Mek.

 

“Semua pihak harus duduk bersama membantu masyarakat Yali dan Mek yang menjadi korban agar mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak kembali,” ujarnya.

 

Yafet berharap perdamaian yang telah disepakati melalui prosesi adat patah panah dapat dijaga bersama agar konflik serupa tidak kembali terjadi di Papua Pegunungan.

Related posts

Gubernur Papua Salurkan 12 Ekor Sapi Kurban di Empat Daerah

Bams

September 2024, Serapan Anggaran Papua Capai 60 Persen

Bams

Tim Paslon Yemis – Tanus Gugat Pilkada Lanny Jaya ke MK

Fani

3 Legislator Papua Tengah Konsultasi Tugas Kedewanan ke DPR Papua

Bams

Pastikan Menu MBG Layak, Wabup Fauzun Bakal Lakukan Sidak

Bams

Terkait Sejumlah Statemen Kadistrik Sarmi, Jubir DJ : Posisi Bapak PNS Bukan Penyelenggara Pemilu

Bams

Leave a Comment