ASN DPRK Nduga Jadi Korban Brutal Massa Usai Laga Persipura, Korban Minta Seluruh Pelaku Ditangkap

SENTANI – Kericuhan pasca pertandingan antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Jumat (8/5/2026), memakan korban dari kalangan masyarakat sipil yang diduga menjadi sasaran amuk massa secara brutal.

Korban diketahui bernama Seniut Murib, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai staf di DPRK Nduga. Ia menjadi korban pengeroyokan saat melintas dari Koya menuju Sentani usai beraktivitas, tanpa mengetahui adanya pertandingan maupun kericuhan di sekitar lokasi.

Saat ditemui di kediamannya pada Rabu (13/5/2026), Seniut menuturkan dirinya tiba-tiba diserang ketika terjebak kemacetan di sekitar lokasi kerusuhan.

“Saya dari Koya mau pulang ke Sentani. Sampai di dekat situ sudah macet dan ada ban dibakar. Setelah lewat Polsek Sentani Timur, tiba-tiba saya dilempar batu lalu dipukul pakai kayu balok di bagian telinga. Setelah itu saya sudah tidak sadar,” ungkapnya.

Akibat lemparan batu dan pukulan tersebut, korban kehilangan kendali atas kendaraan hingga menabrak beberapa mobil dan trotoar. Dalam kondisi tak sadarkan diri, korban diduga kembali dikeroyok oleh sejumlah orang di lokasi kejadian.

“Setelah tabrak trotoar saya tidak tahu apa-apa lagi. Saya sadar sudah di rumah sakit,” katanya.

Insiden itu menyebabkan Seniut mengalami luka serius dan harus menjalani operasi. Hingga kini ia masih menjalani masa pemulihan akibat luka yang dideritanya.

Tak hanya menjadi korban pengeroyokan, kendaraan milik Seniut juga mengalami kerusakan parah setelah menabrak trotoar.

Mobil tersebut kemudian dirusak dan dibakar massa yang saat itu tengah melakukan pengejaran terhadap wasit pertandingan.

Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, muncul narasi bahwa kendaraan korban melintas di jalur yang salah dan diduga membawa wasit pertandingan. Namun pihak kuasa hukum korban membantah tudingan tersebut.

Kuasa hukum korban, Naomi Demotekay, S.H. dan Theodora Indah Yosiana, S.H., menegaskan bahwa klien mereka murni pengguna jalan dan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan pertandingan maupun perangkat pertandingan.

“Korban bukan dalam kondisi mabuk. Kendaraan hilang kendali karena korban lebih dulu terkena lemparan batu dan pukulan kayu balok hingga kehilangan kesadaran,” tegas Naomi.

Pihak kuasa hukum juga mengungkapkan bahwa sebelum pengeroyokan terjadi, massa sempat meneriakkan bahwa mobil korban diduga membawa wasit pertandingan.

“Ada teriakan bahwa mobil ini membawa wasit. Setelah kendaraan dirusak dan mereka melihat tidak ada siapa-siapa di dalamnya, mereka kembali berteriak mengejar wasit,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Seniut meminta aparat kepolisian segera menangkap seluruh pelaku pengeroyokan dan memproses mereka sesuai hukum yang berlaku.

“Pelakunya harus ditangkap dan diproses hukum. Mobil saya juga harus dikembalikan,” tegas Seniut.

Sementara itu, pihak kuasa hukum menyampaikan apresiasi kepada Polda Papua dan Polres Jayapura atas langkah cepat dalam menangani kasus tersebut.

“Kami mengapresiasi langkah cepat Kapolres Jayapura. Saat ini sudah ada empat tersangka yang status hukumnya telah dinaikkan,” kata Naomi.

Selain meminta proses hukum berjalan hingga tuntas, pihak kuasa hukum juga berharap adanya perhatian dari pemerintah serta panitia pelaksana pertandingan terhadap kondisi korban, termasuk biaya pengobatan dan kerugian akibat kendaraan yang dirusak dan dibakar massa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts

Karyawan Freeport Indonesia Menggunakan Hak Suaranya pada Pilkada Serentak 2024

Bams

Letkol Reza Mamoribo Jabat Dandim 1702/Jayawijaya

Fani

Pengguna Layanan Keimigrasian, Simak Imbauan Penting Ini

Fani

Fakhiri Calon Tunggal Ketua DPD Partai Golkar Papua

Bams

Jauhkan Prajurit Dari Judi Online, Danlanud SPR Sweeping Handphone

Jems

Harga Emas di Papua Tembus Rp1,3 Juta Per Gram

Fani

Leave a Comment