Harga Komoditas Naik, Inflasi Papua Tembus 3,80 Persen
Jayapura – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perkembangan harga berbagai komoditas di Provinsi Papua pada April 2026 secara umum menunjukkan tren kenaikan.
Berdasarkan hasil pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK), tercatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,80 persen, di mana IHK meningkat dari 105,83 pada April 2025 menjadi 109,85 pada April 2026.
Sementara, inflasi bulanan (month-to-month atau m-to-m) tercatat sebesar 0,98 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date atau y-to-d) sebesar 1,39 persen.
Kepala BPS Papua, Adriana Helena menyampaikan, kenaikan inflasi tahunan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 6,82 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 10,60 persen.
Kenaikan turut terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 5,48 persen, transportasi sebesar 2,68 persen, pendidikan sebesar 2,27 persen, serta penyediaan makanan dan minuman dan restoran sebesar 3,37 persen.
Kelompok lain yang juga mengalami kenaikan adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,36 persen, kesehatan sebesar 1,19 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,36 persen.
“Namun demikian, terdapat beberapa kelompok yang justru mengalami penurunan indeks, yakni pakaian dan alas kaki yang turun 3,53 persen serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang turun 1,71 persen,” jelasnya, Senin, 4 Mei 2026.
Sejumlah komoditas tercatat dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, ikan tuna, tomat, tarif angkutan udara, daging ayam ras, beras, hingga cabai rawit dan ikan cakalang.
Selain itu, komoditas seperti sigaret, biaya pendidikan, serta makanan jadi seperti nasi dengan lauk dan sate juga turut menyumbang kenaikan inflasi.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, seperti ikan mumar, bawang putih, bayam, telur ayam ras, bensin, serta sejumlah komoditas sandang seperti sepatu dan pakaian.
Untuk inflasi bulanan April 2026, kenaikan harga terutama didorong oleh komoditas seperti ikan tuna, tarif angkutan udara, tomat, serta berbagai jenis sayuran dan ikan.
Sementara itu, komoditas seperti daging ayam ras, emas perhiasan, cabai, dan telur ayam ras menjadi penyumbang deflasi pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil sebesar 2,31 persen.
“Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen, transportasi sebesar 0,36 persen, serta penyediaan makanan dan minuman dan restoran sebesar 0,24 persen,” pungkasnya.
