Uskup Jayapura : Pesparani Bukan Sekadar Mencari Juara
Biak, Perayaan Pesparani II kali ini memiliki makna istimewa karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Demikian dikatakan Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Theophilus Matopai You, dalam kotbah saat misa pembukaan.
Ia juga mengingatkan umat tentang peringatan Santo Simon dan Santo Yudas Tadeus, yang dalam tradisi Gereja Katolik dikenang sebagai rasul yang mewartakan Injil.
Menurutnya, Pesparani tidak boleh hanya dimaknai sebagai ajang untuk memperlihatkan kemampuan bernyanyi atau menentukan siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman, membangun persaudaraan, dan memperkuat kesaksian sebagai warga Gereja.
Tema “Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua”, kata dia, mengingatkan seluruh umat bahwa meskipun berasal dari kabupaten yang berbeda, memiliki karakteristik budaya yang beragam, serta berada dalam wilayah dua keuskupan, yakni Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Timika, mereka tetap dipersatukan oleh iman kepada Tuhan.

Perbedaan tersebut, lanjutnya, bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang patut disyukuri dan menjadi dasar untuk memperkuat persaudaraan.
Sebagai umat Tuhan, seluruh peserta dipanggil untuk bersatu memuliakan-Nya melalui puji-pujian, sekaligus mewujudkan semangat kasih dalam kehidupan bermasyarakat.
Uskup Jayapura juga mengajak seluruh pihak untuk mendoakan agar seluruh rangkaian Pesparani II Katolik Provinsi Papua dapat berlangsung dengan baik, penuh sukacita, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Dari Biak, Pesan Persaudaraan untuk Papua
Pembukaan Pesparani II Katolik Provinsi Papua di Biak memberikan gambaran bahwa iman, budaya, dan toleransi dapat berjalan bersama dalam semangat persaudaraan.
Tarian Woor masyarakat Biak, tarian dari Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Kei, keterlibatan perempuan berhijab dalam prosesi budaya, serta lantunan lagu-lagu rohani menjadi bagian dari pesan yang lebih besar: keberagaman bukan penghalang untuk bersatu.
Di Kota Karang Panas Biak, setiap nada yang dilantunkan dan setiap tarian yang dipersembahkan seolah menyampaikan pesan bahwa persaudaraan tidak harus menghapus perbedaan.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap orang bersedia saling menghormati, membuka ruang bagi sesama, dan menjaga kedamaian.
Melalui Pesparani II, semangat “Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua” diharapkan tidak hanya bergema di panggung perlombaan, tetapi juga hidup dalam keseharian masyarakat Papua yang menjunjung tinggi kasih, toleransi, dan persatuan.
