Ondofolo Kampung Putali dan Kepala Sekolah Dukung Kehadiran MBG, Ini kata Mereka

SENTANI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat dukungan dari Tokoh Adat dan pihak sekolah. Meski sempat terjadi dugaan keracunan MBG di Distrik Depapre, program nasional tersebut dinilai tetap penting untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan mendorong mereka lebih aktif bersekolah.

 

Ondofolo Kampung Putali, Nulce Monim, menegaskan MBG merupakan program nasional pemerintah yang harus terus dijalankan selama belum ada keputusan dari pemerintah pusat untuk menghentikannya.

 

“Ini program nasional dan salah satu visi misi dari program Pak Presiden. Program ini sudah diprogramkan dari pusat sampai menjangkau semua daerah. Jadi bukan Papua saja,” ujarnya.

 

Menurutnya, tujuan MBG bukan sekadar memberikan makanan gratis kepada anak sekolah, tetapi memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesehatan anak.

 

Ia menilai pemberian makanan dari rumah belum tentu menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi anak. Karena itu, program MBG dinilai perlu didukung dengan catatan pengawasan terhadap kualitas makanan harus diperketat.

 

“Kalau kita kasih makan dari rumah, belum tentu nilai gizinya ada. Karena itu, program pemerintah ini kami tidak menolak. Tetap MBG akan jalan,” katanya.

 

Ia meminta masyarakat harus menghormati kebijakan pemerintah pusat terkait keberlanjutan program tersebut.

“Kalau dari pusat, Pak Presiden bilang berhenti, ya kita berhenti. Kalau Presiden bilang MBG jalan, ya jalan. Kita harus menjunjung pemimpin negara,” tegasnya.

 

Namun, ia meminta kasus dugaan keracunan yang terjadi di Papua menjadi bahan evaluasi serius, khususnya terkait kebersihan atau hygiene, proses pengolahan, pengemasan hingga pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada anak-anak.

 

Selain aspek kebersihan, Ondo Nulce meminta pemerintah memastikan kandungan gizi dalam menu MBG benar-benar diperhatikan dan dievaluasi secara berkala.

 

“Bukan hanya soal makanan, tetapi nilai gizi juga perlu diperhatikan. Tidak boleh ada makanan yang expired. Harus ada tim yang mengontrol nilai gizi dari MBG ini,” katanya.

 

Ia juga melihat dampak positif MBG terhadap semangat anak-anak untuk bersekolah, terutama di wilayah kepulauan. Menurutnya, kedatangan makanan MBG bahkan disambut antusias oleh anak-anak.

“Begitu kapal untuk membawa makanan anak sekolah masuk, anak-anak langsung cepat. Satu pulau ini mereka berteriak karena kapal MBG sudah masuk,” ungkapnya.

 

Ia meminta masyarakat tidak menggeneralisasi seluruh pelaksanaan MBG hanya karena adanya kasus di daerah tertentu. Menurutnya, setiap kejadian harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pelaksanaan program.

“Itu hanya kekeliruan teknis yang tidak bisa kita samaratakan. Saya minta hygiene, kemasan, dan waktu mengelola makanan perlu diperhatikan,” tegasnya.

 

Senada dengan itu, Kepala SD YPK Buyau Besar, Kampung Ebungfa, Distrik Ebungfauw, Ruth Marta Manuri, S.Pd., memastikan sekolah tetap melaksanakan program MBG.

 

Ruth mengatakan pihak sekolah tetap mendukung MBG karena merupakan program pemerintah pusat. Ia menyebut siswa juga menunjukkan antusiasme dalam menerima makanan bergizi tersebut.

 

“Sekolah tetap siap makan MBG karena ini program dari pusat, dari Jakarta. Ini aturan pemerintah dan kami harus ikut. Anak-anak juga semangat makan,” ujar Ruth.

 

Untuk memastikan makanan yang diterima siswa aman dikonsumsi, Ruth mengatakan dirinya terlebih dahulu mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada para siswa.

 

“Saya sebagai kepala sekolah coba dulu. Setelah itu baru saya suruh pengawas MBG membagikan kepada anak-anak,” katanya.

 

Menurut Ruth, keberadaan MBG turut memberikan dampak terhadap tingkat kehadiran siswa. Ia menyebut siswa yang sebelumnya malas datang ke sekolah kini mulai lebih rajin.

 

“Karena ada MBG, anak-anak yang tadinya malas sekarang sudah banyak yang rajin datang. Kehadiran murid meningkat,” ungkapnya.

 

 

Ia juga menilai menu yang diberikan selama ini cukup baik. Dapur penyedia MBG, menurutnya, juga telah memperhatikan aspek kebersihan.
Terkait dugaan keracunan MBG di Distrik Depapre, Ruth mengatakan pihaknya sempat membahas persoalan tersebut bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Namun, kejadian tersebut tidak menjadi alasan bagi sekolah untuk menghentikan program MBG.

 

Menurutnya, kasus tersebut justru harus menjadi evaluasi agar proses pengolahan makanan dilakukan lebih teliti dan makanan diperiksa sebelum diberikan kepada siswa.

 

“Tidak boleh langsung semua begitu. Mungkin itu kesalahpahaman atau kurang ketelitian dalam memasak. Harusnya guru coba dulu sebelum makanan diberikan,” jelasnya.

 

 

Ruth berharap pelaksanaan MBG ke depan semakin memperhatikan kebersihan, ketelitian dalam pengolahan, kualitas menu, serta pengawasan sebelum makanan dikonsumsi siswa.

 

Dengan dukungan masyarakat adat dan pihak sekolah, pelaksanaan MBG di Kabupaten Jayapura diharapkan tetap berjalan dengan perbaikan pada aspek pengawasan, sehingga tujuan utama program untuk memenuhi kebutuhan gizi dan meningkatkan semangat belajar anak dapat tercapai.

Related posts

Wakil Bupati Jayapura Resmi Buka Muswil VI RAPI Wilayah 2702 dan Bergabung Sebagai Anggota

Bams

PT Trigana Jayapura Sengaja Abaikan Penyelesaian Masalah Tanah

Jems

Pemkab Jayapura Raih Dua Penghargaan, Bawa Pulang Insentif Rp 4 Miliar

Bams

Kembali Lantik Pejabat di Pemkab Jayapura, Ini Pesan Bupati Yunus Wonda

Jems

Bupati Jayapura Letakkan Batu Pertama Pembangunan Gedung GKII Jemaat Petra Kemiri Sentani

Bams

Antisipasi Kegiatan KNPB, Polres Jayapura Lakukan Razia, Amankan 20 Kendaraan Roda Dua

Jems

Leave a Comment