BTM: Papua Dalam Napas Marhaenisme Bung Karno

JAYAPURA,- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Papua menggelar Haul Bung Karno ke-56 sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai II Kantor Sekretariat DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Kota Jayapura, Minggu (21/6/2026) sore, menjadi momentum untuk mengenang sekaligus melanjutkan cita-cita perjuangan Sang Proklamator.

Mengusung tema “Setialah Kepada Sumbermu, Kekuatan Kita Harus Tetap Bersumber Kepada Kekuatan Rakyat, Tetap Apinya Semangat Rakyat”, acara tersebut diisi dengan doa dan haul Bung Karno, resepsi, pemutaran film perjuangan Bung Karno, serta pengumuman pemenang lomba pidato Bulan Bung Karno 2026.

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Benhur Tomi Mano (BTM) dalam pidato kebangsaannya yang bertajuk “Papua Dalam Napas Marhaenisme Bung Karno”, menegaskan bahwa Bung Karno memiliki peran besar dalam perjuangan mengembalikan Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Hari ini kita tidak hanya mengenang wafatnya Bung Karno pada 21 Juni 1970. Kita hadir untuk mengenang, meneladani, dan melanjutkan cita-cita besar Sang Proklamator yang telah mempersembahkan hidupnya bagi kemerdekaan dan persatuan Indonesia,” ujar BTM.

Menurutnya, Papua merupakan salah satu perjuangan terbesar Bung Karno dalam sejarah bangsa. Setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Bung Karno tetap berpegang teguh bahwa revolusi Indonesia belum selesai selama Irian Barat belum kembali ke Indonesia.

Pada 19 Desember 1961, Bung Karno mencanangkan Trikora yang kemudian menjadi tonggak perjuangan pembebasan Irian Barat. Perjuangan tersebut membuahkan hasil melalui Perjanjian New York tahun 1962 dan pada 1 Mei 1963 Papua resmi kembali ke dalam administrasi Indonesia.

Namun, kata BTM, perjuangan Bung Karno tidak berhenti pada aspek teritorial. Bung Karno juga memikirkan masa depan Orang Asli Papua melalui pembangunan sumber daya manusia, salah satunya dengan mendirikan Universitas Cenderawasih pada 10 November 1962.

“Bung Karno memahami bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya membebaskan wilayah, tetapi juga mencerdaskan rakyatnya. Beliau ingin agar putra-putri Papua menjadi pemimpin di tanahnya sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, kepercayaan Bung Karno kepada Orang Asli Papua terlihat dari penunjukan Eliezer Jan Bonay dan Frans Kaisiepo sebagai Gubernur Irian Barat.

Menurut BTM, warisan terbesar Bung Karno bagi Papua bukanlah gedung atau jabatan, melainkan ajaran Marhaenisme yang mengedepankan keberpihakan kepada rakyat kecil, semangat gotong royong, persatuan, dan keadilan sosial.

“Papua yang kaya sumber daya alam harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Papua. Papua yang kaya budaya harus tetap menjaga identitas dan martabatnya. Papua harus maju tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, masih sangat relevan bagi pembangunan Papua saat ini.

Pada kesempatan tersebut, BTM juga memberikan apresiasi kepada para pemenang dan peserta Lomba Pidato Online Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang dinilai berhasil menunjukkan bahwa pemikiran Bung Karno masih hidup di kalangan generasi muda Papua.

“Saya berharap para juara tidak berhenti sampai di sini. Teruslah belajar, teruslah membaca, dan teruslah berani menyampaikan gagasan, karena masa depan Papua membutuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat,” katanya.

BTM menyampaikan penghargaan kepada DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jayapura dan DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura yang berhasil meraih predikat DPC Terbaik dalam memeriahkan Bulan Bung Karno Tahun 2026.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Bulan Bung Karno DPD PDI Perjuangan Papua, Joni Y. Betaubun, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno dirancang bukan sekadar seremoni, tetapi juga sebagai upaya membumikan nilai-nilai perjuangan Bung Karno dalam kehidupan masyarakat.

“Bulan Bung Karno bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi bagaimana kita mengaktualisasikan nilai-nilai perjuangan beliau dalam kerja-kerja nyata di tengah masyarakat,” ujar Joni.

Ia menjelaskan, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari upacara Hari Lahir Pancasila, diskusi publik, lomba pidato, penanaman sagu di Kampung Sereh, aksi bersih lingkungan di Kampung Yobeh, hingga Haul Bung Karno ke-56.

Menurut Joni, rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa PDI Perjuangan hadir tidak hanya dalam ruang politik, tetapi juga dalam upaya menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan terus hadir di tengah masyarakat.

Rangkaian Bulan Bung Karno Tahun 2026 sendiri akan ditutup pada 30 Juni mendatang dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para pahlawan bangsa.

 

Related posts

Inilah Empat Permasalahan Pendidikan Papua 2024

Bams

Petani di SP 1 Komitmen Menangkan JOEL

Fani

30 Kepala OPD Papua Berstatus Plt

Bams

Tujuh WNA China Ditangkap di Nabire, Senjata Rakitan Ditemukan di Lokasi Tambang Ilegal

Bams

Insiden Terulang, Kapal Nelayan Kembali Ditangkap PNG, Danlantamal Soroti Persyaratan

Bams

Kinerja Positif Pendapatan dan Belanja Negara APBN Hingga Juli 2024

Fani

Leave a Comment