Sulaiman Hamzah Tegaskan Pentingnya Penguatan Fungsi Dan Kapasitas Laboratorium Di Perbatasan

MERAUKE– Anggota Komisi IV DPR RI Sulaiman L. Hamzah mengunjungi Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Karantina) Papua Selatan, Badan Karantina Indonesia (Barantin), Rabu (6/5). Kunjungan ini bertujuan memperkuat fungsi, sinergisitas, dan pengawasan serta meningkatkan kapasitas layanan karantina di wilayah Papua Selatan.

Dalam pertemuan tersebut, membahas pentingnya penguatan fungsi dan kapasitas laboratorium dalam memberikan jaminan hasil pengujian yang dapat diakui secara nasional maupun internasional, berkaitan dengan fasilitasi perdagangan internasional. Ketersediaan peralatan laboratorium yang modern dan lengkap dinilai menjadi kebutuhan utama dalam mengawal program strategis pemerintah pusat dan daerah, terutama untuk sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan yang menjadi titik fokus pengawasan Barantin.

Papua Selatan memiliki potensi komoditas unggulan yang perlu dukungan melalui penguatan sistem perkarantinaan. Pemasukan komoditas tumbuhan dari luar negeri ke Papua Selatan, Karantina melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 dalam pengawasan serta cegah tangkal terhadap risiko masuknya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).

Ancaman masuknya OPTK berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama program startegis nasional (PSN), seperti tebu, padi, dan jagung. Selain itu, komoditas potensi ekspor perikanan, seperti gelembung ikan dan komoditas tumbuhan, yaitu pinang, sirih, cabai, dan bawang yang menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan perekonomian daerah.

“Penguatan pengawasan di wilayah perbatasan juga menjadi perhatian, khususnya pada Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Yetetkun dan PLBN Sota. Peran strategis perbatasan sebagai pintu keluar masuk komoditas menuntut pengawasan yang ketat, guna mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit serta menjaga keamanan hayati Indonesia,” ujar Sulaiman.

Melalui kunjungan kerja ini, diharapkan percepatan dukungan terhadap peningkatan kapasitas laboratorium, penguatan pengawasan perbatasan, serta optimalisasi potensi komoditas unggulan daerah. Upaya yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menjaga keamanan hayati, mencegah penyebaran penyakit, serta mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan perikanan di Papua Selatan.

Sulaiman menegaskan pentingnya dukungan pemerintah pusat dalam penguatan sarana dan prasarana serta optimalisasi dukungan terhadap potensi komoditas daerah. “Kami mendorong percepatan pemenuhan kebutuhan laboratorium, penguatan pengawasan di wilayah perbatasan serta dukungan terhadap komoditas unggulan daerah agar dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Kepala Karantina Papua Selatan, Irsan Nuhantoro menyampaikan bahwa dukungan pengawasan karantina yang optimal menjadi kunci untuk menjaga kualitas layanan, keamanan, dan kelancaran arus lalu lintas komoditas, baik antar pulau maupun antarnegara. Hal mendasar yang perlu disiapkan saat ini adalah penguatan laboratorium dan sistem pengawasan menjadi langkah penting dalam mendukung sistem perkarantinaan yang handal.

“Kami terus berupaya meningkatkan kapasitas laboratorium, memperkuat pengawasan di wilayah perbatasan, serta memastikan setiap komoditas yang dilalulintaskan memenuhi persyaratan karantina, sehingga mampu memberikan jaminan kesehatan dan keamanan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Irsan.

Selain itu, menurut Irsan laboratorium memiliki peluang untuk terus dikembangkan melalui peningkatan kapasitas pengujian, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta pemenuhan sarana dan prasarana sesuai standar ilmiah dan teknis. Hal ini penting untuk memastikan hasil uji yang akurat dan dapat dipercaya sebagai dasar ilmiah dalam pengambilan keputusan tindakan karantina.

Seiring dengan dinamika risiko yang terus berkembang, termasuk dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti pemasukan bibit tebu dan pengembangan peternakan melalui tantangan pengendalian penyakit juga semakin kompleks.

“Perkembangan penyakit zoonosis pada ternak utama seperti demam babi Afrika atau _African Swine Fever_ (ASF), penyakit mulut dan kuku (PMK), serta kulit berbenjol atau _Lumpy Skin Disease_

(LSD) pada sapi menuntut kemampuan deteksi yang cepat dan akurat. Kondisi ini mengharuskan laboratorium untuk semakin siap, adaptif, dan responsif dalam mendeteksi serta menganalisis potensi ancaman hama dan penyakit, sehingga kebijakan karantina yang diambil dapat lebih tepat, cepat, dan berbasis risiko,” terangnya.(Iis)

Related posts

Safari Ramadhan Di Kampung Yasa Mulya, Wabup Ucapkan Terima Kasih Dan Minta Dukungan

Bams

Warning Keras Wabup Fauzun Bagi Pelaku Penimbunan BBM

Bams

Ditemukan Terluka di Pinggir Jalan, Korban Kekerasan di Paniai Masih Dirawat Intensif

Fani

Gubernur: Pemerintah Dan Masyarakat Siap Bekerjasama Dengan Kodaeral XI

Bams

Dandim 1706/Nduga Turut Launching Nduga Pandai Berhitung

Fani

Dengan Semangat dan Kepedulian, Satgas TMMD ke-123 Hadirkan Manfaat bagi Warga Kbusdori

Fani

Leave a Comment