Persipura Bergejolak, Alberth Merauje Sebut Negara Kurang Turun Tangan
Jayapura, – Anggota DPR Papua dari Fraksi NasDem, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, menilai kericuhan yang terjadi usai pertandingan playoff promosi Liga 1/Super League antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, pada Jumat 8 Mei 2026, dipicu karena kurangnya intervensi negara dalam persepakbolaan di Indonesia Timur.
Kekalahan 0-1 Persipura dari Adhyaksa FC membuat tim berjuluk Mutiara Hitam itu gagal promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Gol tunggal Adilson Silva pada akhir babak pertama memastikan tiket Adhyaksa FC ke Liga 1 sekaligus memperpanjang masa Persipura di Liga 2 sejak terdegradasi pada musim 2021/2022.
Sebagaimana diketahui, insiden tersebut berawal dari kekecewaan ribuan suporter yang memadati Stadion Lukas Enembe kemudian memicu kericuhan. Massa pun turun ke lapangan, merusak fasilitas stadion hingga membakar puluhan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua di sekitar lokasi pertandingan.
Dari hasil pantauan di lapangan, lebih dari 20 unit kendaraan hangus terbakar. Kendaraan yang terbakar terdiri dari mobil pribadi jenis Avanza, Ayla dan Agya, kendaraan patroli polisi hingga truk Dalmas milik aparat keamanan. Bahkan mobil Ambulance ikut menjadi sasaran amukan massa dan hangus terbakar.
Selain kendaraan, sejumlah fasilitas stadion juga mengalami kerusakan berat. Kursi tribun dicabut dan digunakan untuk melempar, pos penjagaan dirusak, portal masuk dan keluar stadion dihancurkan hingga kaca-kaca fasilitas pecah akibat amukan massa. Dalam situasi ricuh tersebut, kendaraan aparat keamanan juga dilaporkan ikut dibakar massa.
Bahkan, ditengah kericuhan itu, sekelompok masyarakat mengambil kesempatan dengan membawa bendera Bintang Kejora ke dalam lapangan dan mengibarkannya di tiang bendera Stadion Lukas Enembe. Aksi tersebut terekam dalam sejumlah video hingga viral di media sosial.
Dari kejadian tersebut, Albert Merauje menekankan, sepak bola seharusnya dipandang bukan sekadar olahraga, melainkan alat pemersatu bangsa dalam bingkai NKRI dari Sabang sampai Merauke.
Padahal ungkap Alberth Merauje, Persipura selama ini menjadi representasi Indonesia Timur dan simbol kebanggaan masyarakat Papua.
“Negara kurang proaktif melihat sepak bola sebagai bagian menjaga nasionalisme dan persatuan bangsa. Persipura ini mewakili Indonesia Timur dan Papua. Negara harus hadir menjaga stabilitas dan rasa kebangsaan masyarakat,” ujar Albert Merauje saat dihubungi Pasific Pos lewat via telepon, Sabtu 9 Mei 2026, sore.
Mantan pengamat sepak bola itu pun menilai pertandingan berisiko tinggi seperti laga penentuan promosi Persipura seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat, PSSI hingga seluruh penyelenggara pertandingan.
“Ini, panitia pelaksana juga tidak bekerja maksimal. Mereka harus berkoordinasi dengan PSSI, wasit dan seluruh penyelenggara pertandingan karena ini pertandingan besar yang dampaknya sudah bisa diprediksi sejak awal,” kata Alberth.
Sebagai anggota Komisi IV DPR Papua yang membidangi infrastruktur, Albert juga menyoroti perlunya antisipasi terhadap risiko kerusakan fasilitas negara dan keselamatan penonton.
Menurut Alberth Merauje, seluruh penonton yang membeli tiket seharusnya mendapat jaminan keselamatan melalui asuransi, termasuk kendaraan yang masuk ke area stadion.
“Kalau penonton sudah beli karcis berarti keselamatan mereka harus dijamin. Kendaraan yang masuk area stadion juga harus diasuransikan supaya kalau terjadi insiden seperti ini masyarakat bisa mendapatkan perlindungan,”tandasnya.
Legislator Papua itu menyebut kerusakan yang terjadi di area stadion merupakan tanggung jawab panitia pelaksana.
“Negara rugi besar karena fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar rusak akibat kurangnya antisipasi,”cetusnya.
Selain itu, Albert juga meminta evaluasi terhadap manajemen, pelatih dan pemain Persipura. Sehingga menurutnya, seluruh elemen tim harus memahami besarnya harapan masyarakat Papua terhadap Persipura.
“Penonton datang bukan hanya dari Jayapura, tetapi dari Sarmi, Serui sampai pegunungan dengan kapal dan pesawat untuk menonton Persipura. Harusnya sejak babak pertama pemain bermain habis-habisan untuk mencetak gol,” katanya.
Namun kata Albert, aparat keamanan juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam insiden tersebut karena aparat justru menjadi korban saat berupaya mengendalikan situasi.
“Kita juga tidak bisa menyalahkan aparat karena aparat juga menjadi korban di lapangan,” tandas Alberth
Lanjut dikatakan, di dalam suatu pertandingan sepak bola selalu memiliki kemungkinan menang atau kalah. Karena itu, seluruh risiko seharusnya sudah diantisipasi sejak awal, termasuk kemungkinan terjadinya konvoi maupun kericuhan jika Persipura kalah.
“Kalau Persipura menang pasti ada konvoi dan itu dijaga. Kalau kalah dampaknya bisa berkali-kali lipat. Risiko seperti ini harus dipikirkan sejak awal,”ucapnya.
Oleh karena itu kata Alberth, negara juga perlu melakukan intervensi dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Indonesia Timur guna menjaga stabilitas sosial dan mencegah terjadinya kerusuhan.
“Kurangnya intervensi negara dalam persepakbolaan di Indonesia Timur menjadi salah satu pemicu terjadinya kerusuhan. Negara harus hadir lewat Menpora, PSSI dan seluruh pihak untuk menjaga stabilitas dan rasa kebangsaan masyarakat Papua,”tandas Alberth Merauje.
Pada kesempatan itu, Albert juga menegaskan, dengan adanya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua yang kemudian diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021, negara seharusnya tidak hanya fokus pada sektor kesehatan, pendidikan dan ekonomi, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pembangunan olahraga di Papua.
Apalagi kata Alberth, Papua selama ini telah ditetapkan sebagai provinsi olahraga sehingga keberpihakan negara terhadap perkembangan sepak bola Papua perlu diwujudkan secara nyata.
“Negara sudah berikan Otsus. Undang-undang otonomi khusus itu bukan hanya berlaku untuk kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya, tetapi juga harus menyentuh bidang olahraga. Negara sudah bilang Papua sebagai provinsi olahraga, jadi harus diwujudnyatakan. Bagaimana olahraga mau berkembang kalau tidak dimasukkan dalam level nasional,” ujar Albert.
Politisi Partai NasDem Papua itu pun melalui kebijakan Otonomi Khusus tersebut, negara seharusnya hadir memberikan perhatian dan intervensi terhadap Persipura sebagai tim Mutiara Hitam yang selama ini mewakili Indonesia Timur di kompetisi sepak bola nasional.
“Di situlah harus ada intervensi negara dan keberpihakan kepada Persipura sebagai tim Mutiara Hitam yang mewakili Indonesia Timur,” tekannya.
Dari kejadian tersebut, Albert Merauje berharap ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar setiap event nasional di Papua dan Indonesia Timur dipersiapkan lebih matang dengan mempertimbangkan seluruh risiko yang mungkin terjadi.
“Setiap event besar di Indonesia Timur harus dikaji dengan baik dalam bingkai negara supaya hal-hal seperti ini tidak terulang lagi,”tandasnya. (Tiara).
