Tiga ASN Tewas Ditembak, Tokoh Adat Tabi: Jangan Ganggu Pelayanan dan Masa Depan Papua
SENTANI – Penembakan terhadap tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan oleh KKB mendapat kecaman keras dari sejumlah tokoh adat di wilayah Tabi, Kabupaten Jayapura.
Para tokoh adat menilai tindakan kekerasan yang diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tersebut tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengganggu pelayanan pemerintahan dan menimbulkan rasa takut bagi masyarakat maupun aparatur yang menjalankan tugas di Papua.
Kecaman itu disampaikan Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau; Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H.; dan Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, saat diwawancarai di Sentani, Jumat (11/9/2026).
ASN Datang untuk Melayani Masyarakat
Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau, mengatakan para ASN yang bertugas di Papua datang dengan tujuan menjalankan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, para pegawai tersebut meninggalkan keluarga dan kampung halaman demi melaksanakan tugas pemerintahan, bahkan sebagian di antaranya berasal dari luar Papua seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Toraja.
“Sebagai tokoh adat, saya mengutuk keras peristiwa tersebut. Ini sangat mengganggu pelayanan dan pekerjaan aparat sipil negara,” ujar Yakob.
Ia menilai kekerasan terhadap ASN yang sedang menjalankan tugas justru akan memberikan dampak langsung kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan pemerintah.
Yakob juga mengingatkan agar Papua tidak dicitrakan sebagai daerah yang membenarkan kekerasan.
“Peristiwa ini sangat mencoreng nama baik orang Papua pada umumnya. Papua dikenal sebagai tanah damai, tanah Injil, bukan tanah yang mengakui dan membenarkan perbuatan seperti ini,” katanya.
Yanto: Jangan Jadikan Masyarakat Sipil Korban
Sementara itu, Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga ketiga korban.
Yanto menegaskan bahwa masyarakat sipil tidak seharusnya menjadi korban dari konflik maupun kepentingan kelompok tertentu.
“Kalau berjuang, berjuanglah yang beradab. Jangan masyarakat sipil selalu menjadi korban,” tegasnya.
Menurut Yanto, ketiga korban merupakan masyarakat yang hidup dan berbaur dengan warga setempat serta menjalankan pekerjaan untuk memberikan pelayanan.
“Masyarakat yang menjadi korban ini adalah masyarakat yang hidup dan berbaur dengan kehidupan kita setiap hari. Mereka bekerja di sana untuk kemanusiaan dan membantu mengembangkan kehidupan masyarakat di daerah Puncak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa apa pun latar belakang seseorang, hak hidup tetap harus dihormati.
Harly: Jangan Cederai Orang Papua
Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H., turut mengecam tindakan kekerasan tersebut.
Ia menilai tindakan brutal yang mengabaikan nilai kemanusiaan tidak boleh menjadi bagian dari penyelesaian persoalan di Papua.
“Kejadian-kejadian yang tidak berpeduli pada kemanusiaan, tidak ada rasa kemanusiaan dalam melakukan tindakan brutal seperti ini, sangat kami sayangkan,” tegas Harly.
Harly juga mengingatkan kelompok-kelompok yang masih berseberangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak melakukan tindakan yang justru mencoreng masyarakat Papua secara keseluruhan.
“Kami berharap saudara-saudara kita yang masih berseberangan dengan NKRI, apakah mereka betul-betul sebagai OPM atau hanya pelaku kriminal yang menggunakan senjata api, kami harap menjaga hal-hal yang justru menjadi penilaian buruk atau mencederai orang Papua secara keseluruhan,” ujarnya.
Desak Pelaku Ditindak Tegas
Para tokoh adat Tabi mendesak TNI dan Polri segera mengungkap kasus tersebut dan menindak para pelaku sesuai hukum yang berlaku.
“Kami para tokoh di sini mengutuk keras perbuatan tersebut. Kami minta TNI dan Polri segera bertindak tegas terhadap siapa saja pelakunya,” kata Yanto.
Ia meminta aparat negara memastikan masyarakat sipil dan ASN yang menjalankan tugas mendapatkan jaminan keamanan.
“Oleh sebab itu kami minta dilakukan tindakan hukum yang tegas dari aparat negara, dari Polri maupun TNI, untuk menindak para pelaku seperti ini,” ujarnya.
Tokoh Adat Tabi: Papua Harus Tetap Damai
Para tokoh adat Tabi juga mengajak masyarakat di wilayah Lapago dan seluruh Papua untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian.
Menurut mereka, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat tidak mungkin berjalan maksimal jika masyarakat terus hidup dalam ketakutan.
“Kepada seluruh masyarakat di wilayah Lapago, di mana banyak sekali kejadian-kejadian terjadi, kami harap untuk sama-sama berkomitmen seperti kami untuk menciptakan Papua yang aman dan damai,” katanya.
“Kami ingin Papua ini aman, damai. Papua bisa berkembang maju, pembangunan rakyat bisa sejahtera. Kemajuan satu daerah dan kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh keamanan dan kedamaian,” tegasnya.
Yanto mengatakan masyarakat adat di Sentani telah berkomitmen menjadikan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat.
“Kami tokoh-tokoh adat di Sentani sudah menjadikan Sentani dan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama. Siapa pun boleh datang menikmati hidup yang aman di Tanah Tabi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat Papua menjaga persatuan dan meninggalkan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
“Di mana pun kita berada, mari kita jaga kesatuan dan persatuan seluruh orang Papua. Mari kita tinggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan,” ajaknya.
Para tokoh adat Tabi juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga korban yang dinilai telah mengabdikan diri untuk melayani masyarakat Papua.
“Kepada ketiga korban dan keluarga besar mereka, kami atas nama masyarakat adat menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa yang tinggi karena mereka sudah mengabdi di sini, membantu orang Papua, bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan melayani rakyat,” pungkasnya.
