PLN UIP MPA Hadirkan Pembelajaran Langsung Pengembangan PLTP bagi Masyarakat Halmahera Selatan

Tomohon – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) terus memperkuat pendekatan partisipatif dalam pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tawa Songa Wayaua berkapasitas 10 MW di Kabupaten Halmahera Selatan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengajak unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari Desa Tawa, Songa, dan Wayaua melakukan studi ke PLTP Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara, pada Kamis (25/6).

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan informasi yang terbuka dan berbasis pengalaman nyata kepada masyarakat. Melalui kunjungan langsung ke kawasan operasional PLTP Lahendong, peserta dapat melihat bagaimana pembangkit listrik tenaga panas bumi beroperasi secara aman, ramah lingkungan, serta mampu tumbuh berdampingan dengan aktivitas sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat sekitar.

Rombongan yang terdiri dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Kecamatan Bacan Timur, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta warga mengunjungi sejumlah lokasi, di antaranya PLTP Lahendong Unit 1 dan 2, kawasan pertanian hidroponik dan peternakan ayam petelur binaan PLN Indonesia Power melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Yayasan Masarang sebagai pusat pengolahan gula aren, hingga area sumur Klaster 13 milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong.

Staf Ahli Bupati Halmahera Selatan Bidang Ekonomi, Asbur Somadya, mengapresiasi kesempatan yang diberikan PLN kepada masyarakat untuk melihat secara langsung implementasi pembangkit panas bumi yang telah beroperasi.

“Kunjungan ini memberikan gambaran nyata kepada kami mengenai bagaimana PLTP beroperasi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Kami juga melihat secara langsung bahwa keberadaan pembangkit mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Pengalaman ini menjadi bekal penting untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat di Halmahera Selatan,” ujar Asbur.

Selama kunjungan, peserta juga menyaksikan secara langsung aktivitas ekonomi masyarakat yang berkembang di sekitar kawasan panas bumi, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga industri pengolahan gula aren. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan selaras dengan aktivitas masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Senior Manager Perizinan, Pertanahan, dan Komunikasi PLN UIP MPA, Abas Joni Wibowo, menjelaskan bahwa studi ini merupakan bagian dari strategi komunikasi dan keterlibatan pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan PLTP Tawa Songa Wayaua.

“PLN mendapat penugasan dari pemerintah untuk mengembangkan PLTP Tawa Songa Wayaua sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional dengan kapasitas 10 MW. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat secara langsung bagaimana pembangkit panas bumi beroperasi, sehingga masyarakat memperoleh gambaran yang utuh berdasarkan kondisi nyata di lapangan,” jelas Abas.

Ia menambahkan bahwa pengembangan PLTP tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi bersih, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara proyek dan masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi merupakan energi yang ramah lingkungan sekaligus mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Harapannya, akan terbangun simbiosis mutualisme antara keberadaan PLTP dengan masyarakat melalui terciptanya peluang usaha, peningkatan kesejahteraan, dan pengembangan potensi daerah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Abas menegaskan bahwa kehadiran PLTP Tawa Songa Wayaua akan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat sistem ketenagalistrikan di Halmahera Selatan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.

“Dengan hadirnya PLTP, sistem kelistrikan di Halmahera Selatan diharapkan menjadi lebih andal karena pembangkit dapat beroperasi selama 24 jam tanpa bergantung pada pasokan bahan bakar fosil.

Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini juga diharapkan mampu mengurangi emisi karbon, mendorong tumbuhnya sektor-sektor ekonomi baru, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal selama proses pembangunan maupun operasional pembangkit,” tutup Abas.

Melalui pendekatan yang mengedepankan keterbukaan informasi, dialog, dan pembelajaran langsung, PLN UIP MPA berkomitmen memastikan setiap tahapan pengembangan PLTP Tawa Songa Wayaua berjalan dengan mengedepankan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik.

Sejalan dengan komitmen tersebut, PLN optimistis pengembangan energi panas bumi di Halmahera Selatan akan menjadi penggerak terwujudnya ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi daerah, serta pembangunan yang berkelanjutan.

Related posts

Kemenkeu Sebut Papua Jadi Fokus Utama Pembangunan Nasional

Fani

Astra Motor Manokwari Hadirkan Roadshow di Pasar Wosi

Fani

Tarif Listrik April-Juni 2024 Tetap

Fani

Gubernur Papua Selatan Minta Fairfield By Marriott Hotel Rekrut Tenaga Kerja Lokal

Bams

BPJS Ketenagakerjaan Beri Perlindungan Sosial Petugas PSU Pilgub Papua

Fani

Kolaborasi Telin dan Citra Connect Perkuat Ekonomi Digital Indonesia

Fani

Leave a Comment