Persaingan Ketat Mengubur Mimpi Kota Jayapura
Biak – Mimpi besar kota Jayapura untuk meraih Champion pada seluruh mata lomba paduan suara pada ajang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Katolik Tingkat Provinsi Papua terkubur sudah.
Persaingat Ketat dengan kabupaten Biak Numfor sukses mengubur ambisi Kota Jayapura walau perbedaan nilai sangat tipis. Biak Numfor meraih nilai 80,20, sedangkan Kota Jayapura harus puas di posisi kedua dengan nilai 80,00. Selisih hanya 0,20 poin membuat persaingan kedua kontingen berlangsung ketat hingga pengumuman hasil akhir.
Sementara itu, Kabupaten Jayapura menempati posisi ketiga dengan nilai 76,00. Adapun kontingen yang berada di posisi keempat Kabupaten Keerom memperoleh nilai 74,03 dan meraih predikat silver.
Kemenangan ini menjadi tambahan prestasi bagi Biak Numfor sekaligus memupus harapan Kota Jayapura untuk mendominasi seluruh kategori paduan suara dalam ajang Pesparani II Papua.
Dewan juri memberikan sejumlah catatan penting bagi para peserta. Tiga juri yang bertugas adalah Pastor Bernard Antonius Rahawarin, Pr., selaku ketua, didampingi Allesandro Andriano Egbertus Pinangkaan dan Bayu Nerviadi.
Pastor Bernard menekankan bahwa keberhasilan sebuah paduan suara tidak hanya ditentukan oleh kualitas vokal masing-masing penyanyi, tetapi juga kemampuan seluruh anggota menyatukan suara dalam satu kesatuan harmonis.
Menurutnya, keberhasilan bernyanyi tercapai ketika seluruh suara dapat menyatu dalam frekuensi dan harmoni yang tepat.
“Ketika Anda bernyanyi, jika semua terserap masuk ke dalam frekuensi yang ada, itu baru sukses,” tuturnya.
Sementara itu, juri Allesandro Andriano Egbertus Pinangkaan menyoroti ketepatan pelafalan bahasa Latin dalam tiga lagu yang dibawakan para peserta, yakni Jubilate Deo, Cantate Domino, dan Rorate Caeli
Menurutnya, kejelasan pengucapan, terutama pada akhir kata dan penempatan tekanan, menjadi aspek penting yang harus diperhatikan oleh setiap peserta.
Ia juga mendorong panitia dan para pelatih untuk memperkuat pembinaan melalui diskusi dan pendalaman materi sebelum kompetisi berikutnya.
“Untuk panitia di tahun berikutnya, mari kita diskusikan materi ini supaya lebih mantap. Jadi, pembinaan kita berjalan dan diskusi lebih dimatangkan, sehingga semua belajar bersama-sama,” imbaunya.
Adapun juri Bayu Nerviadi memberikan perhatian pada teknik penampilan peserta, mulai dari cara berbaris ketika memasuki panggung hingga kesiapan saat mulai bernyanyi.
Menurutnya, kerapian penampilan perlu dipersiapkan sejak awal agar peserta mampu tampil lebih percaya diri dan profesional.
Ia juga mengingatkan pentingnya penjiwaan dalam membawakan lagu. Bernyanyi bukan sekadar menghasilkan suara yang indah, melainkan menyampaikan karakter dan penghayatan lagu secara tepat.
Bayu menilai, euforia yang berlebihan di tengah penampilan dapat mengganggu konsistensi kualitas suara. Karena itu, setiap kelompok perlu menjaga keseimbangan antara ekspresi, penghayatan, dan kontrol vokal.
“Penjiwaan menjadi catatan tersendiri karena menyanyi itu bukan sekadar menyanyi, tetapi juga penjiwaan,” katanya.
