Keuskupan Jayapura Gelar Sinode Guna Rumuskan Arah Baru Gereja di Tanah Papua

Jayapura – Keuskupan Jayapura menggelar Sinode guna menyongsong masa depan Gereja Katolik yang lebih kontekstual di Tanah Papua. Demikian dikatakan Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, di kantor Keuskupan Jayapura.

Mgr. Yanuarius mengungkapkan bahwa Sinode ini tidak muncul secara mendadak, sebab Sinode Keuskupan Jayapura telah resmi dicanangkan sejak tahun 2024 yang lalu.

Pencanangan tersebut merupakan awal dari proses “berjalan bersama” yang melibatkan seluruh lapisan umat. Sejak tahun 2024, Gereja telah melewati berbagai tahapan mulai dari tingkat Komunitas Basis, Paroki, hingga Dekanat. “Proses sinode dari bawah telah berjalan lancar melalui musyawarah iman dan selebrasi di tingkat regional, hingga akhirnya kita sampai pada tahap akhir di tingkat Keuskupan tahun 2026 ini,” jelas Uskup.

Mgr. Yanuarius menekankan bahwa Sinode ini adalah respons terhadap realitas Papua yang kompleks. Antara lain persoalan akut seperti konflik sosial, kekerasan, kemiskinan, hingga degradasi lingkungan yang merusak tanah leluhur.

“Tanpa Sinode, kita berisiko terjebak dalam rutinitas yang tidak lagi menjawab realitas Papua. Sinode adalah alat episkopal yang kontekstual untuk mendengar suara Roh Kudus melalui diskusi bersama guna mengubah wajah pelayanan kita di tengah publik,” ujar Mgr. Yanuarius.

Uskup pertama putra asli Papua ini menjelaskan tiga target utama dari Sinode 2026 adalah pertama Pembaruan Visi-Misi: Menetapkan visi “Membangun Gereja Misioner yang mandiri, partisipatif, solider, dan terlibat dengan semua pihak di tengah masyarakat.”

Kedua, Penyusunan Rencana Strategis (Renstra): Hasil sinode akan menjadi titik pijak penyusunan program kerja untuk 15 tahun ke depan yang akan dievaluasi secara berkala.

Dan ketiga, Pertobatan Pastoral: Mengajak elemen Gereja meninggalkan pola pikir lama yang eksklusif menuju pola pikir yang dialogis, terbuka, dan berani berinovasi demi Injil.

Dikatakannya pula, selaras dengan semangat Paus Fransiskus, Sinode ini menekankan pentingnya mendengarkan suara kaum marginal. Uskup berharap proses ini memperkuat partisipasi kaum muda, keluarga, kaum miskin, hingga penyandang disabilitas.

“Gereja harus menjadi rumah bersama. Kita ditantang untuk mampu berdialog dengan semua pihak, termasuk pemerintah, pihak adat, hingga TNI, POLRI, dan OPM untuk selalu mencari jalan kesatuan, perdamaian, dan keadilan sesuai ajaran sosial Gereja,” tambahnya.

Hajatan besar ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk dukungan moril dan material dari Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kota Jayapura, serta Pemerintah Kabupaten Keerom, Pegunungan Bintang, hingga Jayawijaya.

Related posts

Telkomsel Imbau Pelanggan Waspada terhadap Penipuan Digital Berkedok Layanan Resmi

Fani

Selesaikan Penyidikan Kasus Curat Rp10 Juta, Polsek Muara Tami Limpahkan Tersangka SRMJ

Fani

Matius Fakhiri Jadi Calon Tunggal Ketua Umum KONI Papua ‎

Bams

Balai Bahasa Papua Gelar Selebrasi Krida Duta Bahasa, Ini Tujuannya

Fani

Tokoh Masyarakat Papua Kecam Aksi Kekerasan di Festival Budaya Lembah Baliem

Fani

Kopi Papua Kembali Tampil di World of Coffee Jakarta

Fani

Leave a Comment