Akhir Pelarian Algojo Maybrat: Runtuhnya Manfred Fatem

Penulis : Maria

Selama bertahun-tahun, nama Manfred Fatem, Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong  Rayamenjadi momok kelam di bumi Maybrat.

Jejak kekejamannya berlumuran darah warga tak berdosa dan aparat negara. Pada pengujung 2020, ia mengeksekusi seorang warga sipil secara sadis di Kampung Sori, lalu dengan dingin berfoto di samping jasad korban demi menyebar teror di media sosial.

Teror berlanjut lewat intimidasi dan perampasan bahan pangan yang memaksa ratusan warga asli Papua mengungsi ke hutan, perusakan dan pembakaran alat berat pembuat jalan, hingga penyerangan berdarah pada Hari Raya Natal 2023 di Pos Bousah yang merenggut nyawa prajurit penjaga perbatasan, Kopda Hendrianto.

Tak berhenti di situ, tangannya juga berlumuran darah prajurit Korps Marinir dalam serangkaian kontak tembak di wilayah penugasan, hingga kelompoknya sempat merampas sepucuk senjata serbu Caracal milik prajurit baret ungu tersebut. Namun, rantai kejahatan itu akhirnya menemui jalan buntu pada Oktober 2026.

Titik balik keruntuhannya bermula pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Patroli gabungan TNI berhasil mengendus persembunyian kelompoknya di belantara Aifat. Sadar posisinya terancam, Manfred melepas tembakan pertama yang memicu kontak senjata sengit. Malam itu, dua algojo kepercayaannya tewas tersungkur, sementara Manfred yang terluka berhasil kabur menembus lebatnya hutan rimba.

Dalam kondisi terdesak dan menahan luka tembak, Manfred sempat mencoba mengecoh aparat dengan berpindah-pindah tempat. Namun, kondisi fisiknya yang memburuk tak bisa dibohongi. Pada 8 Oktober, dua anak buahnya yang bersenjata parang dan panah mendatangi Puskesmas Pembantu di Kampung Ayata untuk meminta paksa obat-obatan demi mengobati luka sang komandan.

Manuver ini terbaca jelas oleh aparat: Manfred terluka parah dan sedang bergerak menuju rute pelarian di sepanjang aliran Sungai Kamundan.

Pagi hari tanggal 9 Oktober 2026 menjadi akhir perjalanannya. Dansatgas Yonif 9 Marinir yang telah menggelar tim penyergap (ambush) secara senyap di sektor pelintasan Sungai Frambu–Kamundan mendapati Manfred melintas bersama dua komandan batalyonnya, Anton Fatem dan Yesias Fatem.

Di tangan Anton, masih tergenggam senjata Caracal milik Marinir yang pernah mereka rebut. Saat mereka masuk ke jarak tembak efektif sekitar 50 meter, prajurit Marinir membuka tembakan serentak yang terarah.

Dua rekannya tertembak dan tubuhnya hanyut ditelan derasnya arus sungai bersama senjata Caracal tersebut, sementara Manfred Fatem tewas terkapar di tepian air dengan sepucuk senapan serbu AK-101 yang masih tergeletak di sampingnya.

Pelarian sang gembong teror resmi berakhir di tangan prajurit Marinir, menuntaskan dendam gugurnya rekan seperjuangan sekaligus menutup lembaran kelam kekejamannya di tanah Maybrat.

Related posts

IMPLEMENTASI FUNGSI PELAKSANA PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS DI DISTRIK ANGKAISERA KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN

Bams

ANAK-ANAK PAPUA JANGAN MENJADI KORBAN MBG

Bams

Urgensi Penegakan Etika Dalam Pelayanan Kesehatan

Jems

Mata-Hati, Mata-Mata, Hati-Hati

Fani

Kalau Sesama Orang Papua Sudah Saling Membunuh, Kita Berjuang untuk Siapa?

Fani

Kendalikan Inflasi Dengan Peningkatan Produksi Pangan Lokal

Fani

Leave a Comment