Kalau Sesama Orang Papua Sudah Saling Membunuh, Kita Berjuang untuk Siapa?

Penulis : Septinus Lokbere

Saya orang Papua. Saya menulis ini karena marah, kecewa, dan menyesal.

Marah karena nyawa orang kecil lagi-lagi dijadikan bukti keberanian. Kecewa karena yang jatuh bukan “musuh” dalam pidato, melainkan ibu, anak, suami-istri, pegawai dinas, pedagang pasar, dan orang yang datang membawa obat atau membuka landasan. Menyesal karena sebagian dari kita sudah terbiasa mendengar tembakan dan melihat video eksekusi, lalu menganggapnya biasa.

Perjuangan yang membunuh orang tak bersenjata bukan perjuangan. Itu kelakuan. Dan kelakuan itu, biar dilakukan segelintir orang yang mengaku berbicara atas nama Papua, tetap memalukan seluruh kami yang hidup di tanah ini.

Lihat rentetannya. Jangan pura-pura tidak ingat.

Pada 5 April 2024, di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, pilot Glen Malcolm Conning—warga negara Selandia Baru—tewas ditembak. Ia bukan prajurit. Ia menerbangkan orang dan barang ke kampung yang tidak punya jalan. Publik juga sudah mengenal nama Philip Mehrtens, pilot yang disandera bertahun-tahun. Mereka datang membawa koneksi, bukan meriam. Kalau Papua merdeka besok, kampung itu tetap butuh penerbang. Siapa yang akan berani mendarat jika menolong orang bisa berujung jadi mayat atau sandera?

Lalu nakes. Lalu pekerja bangunan. Orang yang memasang tiang, mengaduk semen, menjaga puskesmas. Mereka ditembak atau diusir dengan alasan “bekerja sama dengan aparat.” Kalau setiap orang yang menggaji diri dari pekerjaan sipil dianggap pengkhianat, desa kita sendiri yang akan kosong.

Yang paling membuat saya malu sebagai orang Papua: tiga orang Papua dieksekusi di jalan. Ada sepasang suami istri di antara mereka. Tuduhannya hanya mata-mata aparat. Tidak ada pengadilan. Tidak ada adat yang menimbang. Yang ada rekaman, lalu rekaman itu disebar seolah-olah itu prestasi. Membunuh sesama OAP, lalu memamerkan mayatnya, bukan keberanian. Itu kebuasan. Kalau tuduhan saja sudah cukup untuk mengeksekusi suami-istri di jalan, besok tetangga kita sendiri bisa jadi target hanya karena iri, salah paham, atau dendam lama.

Agustus 2026 memaksa kita menatap wajah sendiri. Di Distrik Jila, Mimika, pos diserang. Seorang mama dilaporkan tewas. Sejumlah perempuan OAP—anak orang kita—dibawa masuk hutan. Sampai hari ini jumlahnya masih diperebutkan. Yang tidak bisa diperebutkan hanya ini: perempuan itu sesama orang Papua. Menyandera mereka adalah merampas kebebasan manusia. Perempuan seharusnya dilindungi, bukan dijadikan perisai, istri paksa, atau bukti bahwa suatu kelompok “ada.”

Tujuh September 2026, dini hari, kawasan pasar di Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, hangus. Sebanyak 11 orang tewas. Enam di antaranya anak-anak. Semuanya pendatang dari Sulawesi Selatan—orang Makassar, Bugis, Toraja—yang hidup dari kios semipermanen. Ada dua keluarga utuh yang habis bersama anak-anaknya. Polisi masih menyelidiki penyebabnya. Ada saksi yang melihat orang di depan rumah sebelum api membesar. Saya tidak menunggu vonis untuk berkata: pasar adalah tempat orang makan. Membiarkan 11 jiwa, termasuk anak umur dua tahun, mati terbakar di tempat mereka berdagang, adalah kekejaman. Mereka bukan tentara. Mereka tetangga yang jualan.

Sembilan September 2026, di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, tiga pegawai Dinas Pertanian dan Peternakan ditembak. Mereka pergi mengurus pertanian, bukan membawa senjata. Kalau pegawai dinas sudah sah jadi sasaran, pelayanan ke kampung akan berhenti. Yang lapar tetap orang kita.

Saya tidak membela kekerasan dari pihak mana pun. Saya juga tidak buta bahwa ada luka lama dan darah yang belum selesai dihitung. Tapi kemarahan tidak memberi izin mengeksekusi suami-istri di jalan, menyandera anak perempuan, menembak petugas pertanian, atau membiarkan anak-anak pedagang mati di pasar.

Mereka bilang ini perjuangan. Saya tanya pelan: berjuang untuk siapa? Kalau Papua merdeka, negara itu akan diisi manusia yang sama. Akan ada guru, bidan, pilot, tukang, pegawai dinas, dan pedagang dari luar yang sudah puluhan tahun hidup di sini. Kalau sekarang mereka sudah dibunuh, nanti yang tersisa hanya orang yang pandai menembak dan orang yang pandai menyebar video. Itu bukan bangsa. Itu kebun dendam.

Saya marah kepada segelintir orang Papua yang sudah kehilangan rasa. Saya kecewa kepada siapa pun yang masih mencari alasan setelah jenazah mama, jenazah suami-istri, jenazah anak di pasar, dan jenazah pegawai. Saya menyesal karena terlalu lama kita berbisik.

Cukup. Kembalikan perempuan Jila kepada orang tuanya. Berhenti menembak orang sipil. Berhenti menyebar video eksekusi seolah itu medali. Kalau ada dendam, selesaikan di adat dan di hukum—bukan dengan nyawa orang yang tidak bersenjata sebagai tinta.

Saya tetap orang Papua. Tanah ini tetap tanah saya. Justru karena itu saya tidak mau tanah ini hanya dikenal sebagai tempat orang saling menembak sesamanya, lalu membakar tempat orang lain mencari makan.

Related posts

Policy Brief: Kebijakan Manajemen Rumah Sakit dalam Mengurangi Beban TBC dan Memperkuat Ketahanan Kesehatan

Jems

Tanggapan Marinus Tentang Pernyataan Menolak Calon Tunggal Pilkada: Tokoh Gereja Tidak Boleh Bersikap untuk Urusan Publik Diluar Perspektif Alkitab

Jems

Ketika Daerah Mulai Melawan Pusat

Bams

Pentingnya Tata Kelola Syariah Menyeluruh Bagi Industri Pariwisata Yang Menerapkan Konsep Wisata Halal

Fani

Euforia Piala Dunia, Jangan Sampai Saldo Rekening Ikut Kebobolan

Fani

Sosok PW Seperti “Bintang Jatuh “

Fani

Leave a Comment