Update Jumlah Kumulatif Dugaan Keracunan MBG, 543 Warga Terdampak, Bupati Yunus Wonda: Tidak Ada Korban Jiwa
SENTANI ā Bupati Jayapura, Yunus Wonda, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa dugaan keracunan pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.
Hingga pembaruan data terakhir, jumlah kumulatif warga yang terdampak mencapai 543 orang. Data tersebut disampaikan Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama TNI-Polri dan Forkopimda dalam konferensi pers di Kantor Distrik Depapre, Sabtu (8/8/2026).
Dalam konferensi pers, Bupati Jayapura Yunus Wonda didampingi Dandim 1701 Jayapura Kolonel Inf Taufik Hidayat, Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan serta jajaran Forkopimda.
āIni harus di-update dengan benar, total kasus kumulatif itu 543 orang,ā tegas Yunus Wonda.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 402 warga telah mendapatkan penanganan medis dan diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik. Sementara sebagian lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Bupati juga menyebut terdapat tiga ibu hamil yang masih dalam pemantauan dan perawatan medis.
āDari mulai hari pertama, hari kedua sampai hari ini, tidak ada yang meninggal,ā tegasnya.
Didominasi Anak-anak
Data pemerintah daerah menunjukkan warga terdampak paling banyak berasal dari kelompok usia anak-anak.
Tercatat 1 kasus usia di bawah 1 tahun, 58 kasus usia 1ā4 tahun, 132 kasus usia 5ā9 tahun, dan 203 kasus usia 10ā14 tahun.
Selanjutnya, kelompok usia 15ā19 tahun sebanyak 58 kasus, 20ā24 tahun sebanyak 26 kasus, 25ā29 tahun sebanyak 21 kasus, dan 30ā34 tahun sebanyak 12 kasus.
Sedangkan usia 35ā39 tahun tercatat 6 kasus, 40ā45 tahun 4 kasus, 46ā49 tahun 4 kasus, 50ā54 tahun 6 kasus, 55ā59 tahun 4 kasus, 60ā64 tahun 3 kasus, serta 65 tahun ke atas sebanyak 5 kasus.
Dengan total 543 kasus, kelompok usia 10ā14 tahun menjadi yang tertinggi dengan 203 kasus.
Jika kelompok usia di bawah 15 tahun digabungkan, jumlahnya mencapai 394 orang atau sekitar 72,6 persen dari seluruh warga terdampak.
Berdasarkan jenis kelamin, pasien perempuan tercatat lebih banyak, yakni 320 orang atau 59 persen, sedangkan laki-laki sebanyak 223 orang atau 41 persen.
Yunus menjelaskan, gejala yang dialami warga tidak seluruhnya muncul sesaat setelah menyantap makanan MBG. Sebagian reaksi baru dirasakan setelah mereka tiba di rumah.
āPeristiwa yang terjadi setelah anak-anak makan jam 11 atau jam 12, reaksi yang terjadi setelah sudah sampai di rumah baru terjadi reaksi,ā jelasnya.
Kendate Catat Kasus Tertinggi
Dari sebaran wilayah, Kampung Kendate menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak tertinggi, yakni 125 kasus.
Kemudian Tabla Supa 94 kasus, Dormena 91 kasus, Waiya 68 kasus, Wambena 56 kasus, dan Amay 36 kasus.
Sementara itu, Tablanusu tercatat 19 kasus, Yewena 14 kasus, Maribu 12 kasus, Yapase 11 kasus, Yongsu 4 kasus, Demokisi 2 kasus, Entiebo 2 kasus dan Endokisi 1 kasus.
Menurut Yunus, jumlah warga yang masih menjalani perawatan terus mengalami penurunan.
āTren kasus semakin menurun. Dari puncak 543 kasus, jumlah kasus yang masih dirawat terus menurun,ā katanya.
Tim Gabungan Pantau Warga hingga Kampung
Meski kondisi mulai membaik, Pemerintah Kabupaten Jayapura tidak akan menghentikan penanganan setelah warga diperbolehkan pulang.
Pemda bersama TNI-Polri dan Forkopimda akan membentuk tim gabungan yang turun langsung ke kampung-kampung terdampak untuk memastikan kondisi kesehatan warga.
Tim akan memantau kemungkinan munculnya kembali keluhan atau gejala setelah warga kembali ke rumah.
āSetelah semua kembali ke kampung masing-masing, tidak sampai di situ. Pemda bersama TNI-Polri akan lakukan langkah-langkah dengan membentuk tim untuk memastikan lagi kondisi mereka,ā ujarnya.
Tim medis gabungan nantinya akan mendatangi warga secara langsung, sehingga pemantauan tidak hanya dilakukan melalui puskesmas maupun rumah sakit.
āTim medis gabungan antara pemerintah, TNI-Polri, semuanya akan turun langsung ke kampung-kampung untuk memastikan bahwa anak-anak tidak lagi mengalami keluhan atau gejala yang kembali,ā kata Yunus.
Dipantau hingga Dua Minggu
Pemkab Jayapura menargetkan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan selama satu hingga dua minggu ke depan.
Apabila dalam periode tersebut tidak ditemukan lagi warga dengan gejala yang berkaitan dengan kejadian ini, pemerintah akan menyatakan kondisi telah kembali normal.
āKami harus pastikan satu minggu ke depan, setelah itu kami pastikan lagi dua minggu ke depan. Kalau benar-benar sudah tidak ada lagi, maka pemerintah akan mencabut bahwa daerah ini sudah kami anggap daerah hijau,ā ujarnya.
Namun, apabila setelah masa pemantauan masih ditemukan warga yang sakit, pemerintah akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.
āKalau setelah itu ada sakit, itu sakit harus kita lihat, tidak lagi ada kaitan dengan kasus MBG ini,ā pungkas Yunus.
Ia menegaskan, penanganan kejadian tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh Pemkab Jayapura, TNI-Polri, Forkopimda, tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh masyarakat, gereja dan masyarakat.
Sementara itu, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penyelidikan tim terkait.
