Jayapura,- Solidaritas Rakyat Menolak Diskriminasi di Indonesia terhadap finalis Miss Indonesia 2025 asal Papua Pegunungan, Marince Kogoya.
Pernyataan sikap itu disampaikan disampaikan dengan tegas Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia Papua (PAK HAM Papua), Mathius Murib didampingi Ketua Solidaritas, Nebon Pahabol, SH, M.KP, Sekretaris, bendahara Soolidaritas Rakyat, Tiana Wandik dan Merince Kogoya saat menggelar jumpa pers disalah satu Caffe di Abepura, Kota Jayapura – Papua, Jumat 29 Agustus 2025.
Dimana tindakan panitia yayasan Miss Indonesia yang mendiskualifikasi Merince Kogoya dalam ajang Miss Indonesia 2025 dinilai merupakan bentuk diskriminatif, intoleransi, dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama.
Menurutnya, hal itu disebabkan oleh sebuah video yang diunggah di media sosial pada tahun 2023 lalu, yang memperlihatkan Merince Kogoya mengibarkan bendera Israel dengan nyanyian dan doa, sehingga video tersebut menarik perhatian netizen yang kemudian mendorong pantia Miss Indonesia untuk mengabil tindakan dengan mengemilinasi Merince Kogoya.
Dalam keterangan pers itu, mereka menjelaskan bahwa Merince Kogoya selama ini dikenal sebagai pemuda gereja yang aktif dalam gerakan doa internasional Sion Kids Movement (ISKIM) Papua.
Menurutnya, aktivitas rohani yang dilakukan Merince Kogoya ini murni keagamaan dan tidak berkaitan dengan politik. Namun, pada 26 Juni 2025, Merince secara tiba-tiba didiskualifikasi dari ajang Miss Indonesia setelah unggahan foto kegiatan doa yang menampilkan Panji Daud (Bendera Israel) menjadi sorotan.
Posisi Merince pun kemudian langsung digantikan dengan peserta lain tanpa proses seleksi ulang yang transparan. “Perlakuan ini mencerminkan diskriminasi sistemik terhadap orang Papua yang taat beragama, sekaligus penistaan terhadap hak konstitusional warga negara,” tegas Nebon Pahabol.
Terkait dengan tindakan tersebut, Solidaritas Rakyat Menolak Diskriminasi, dalam pernyataannya menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:
1. Menolak segala bentuk anti-Semitisme dan diskriminasi simbol keagamaan dalam ibadah umat Kristiani.
2. Menolak diskriminasi rasial dan intoleransi terhadap orang Papua.
3. Menuntut penghormatan terhadap kebebasan beragama sesuai UUD 1945 dan hukum internasional.
4. Meminta permintaan maaf terbuka dari Yayasan Miss Indonesia dan MNC Group serta pemulihan nama baik Merince Kogoya.
5. Mendesak evaluasi sistem seleksi Miss Indonesia agar lebih adil dan transparan.
6. Mengajak seluruh elemen bangsa menjaga toleransi antarumat beragama.
7. Menyatakan siap mengambil langkah lebih tegas apabila diskriminasi terhadap orang Papua terus berlanjut.
Selai itu, Solidaritas Rakyat menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan untuk mencari keistimewaan, melainkan menuntut keadilan.
“Kami tidak menyebarkan kebencian, tetapi menyuarakan kebenaran. Kami adalah bagian dari bangsa Indonesia dan berhak mendapat perlakuan yang sama,”tandas Nebon Pahabol (Tiara).