Pasific Pos.com
HeadlineSosial & Politik

Seriusi Masalah Papua? Fredy Numberi : Mekanisme Dialog Harus Dibangun

Ketua Forum Senior dan Milenial (FORSEMI) Papua, Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi (foto Tiara).

“Jangan Tabu Dengan Dialog”

Jakarta – Terkait situasi Papua saat ini, Ketua Forum Senior dan Milenial (FORSEMI) Papua, Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi, turut prihatin.

Oleh karena itu kata, tokoh senior Papua Freddy Numberi, jika ingin serius menyelesaikan masalah di Papua segera dibuka ruang dialog. Karena dengan jalan dialog merupakan sesuatu yang baik untuk menyelesaikan berbagai masalah di Papua.

“Di negara – negara demokrasi di dunia ya, dialog itu merupakan suatu keniscayaan. Artinya dialog itu dalam rangka untuk menyelesaikan masalah. Kita lihat di Inggris, antara Irlandia dan Inggris, akhirnya masalah dua negara itu selesai melalui dialog, termasuk di Kanada juga ada konflik, akhirnya melalui dialog bisa diselesaikan dengan baik,” kata Freddy Numberi kepada Pasific Pos ketika bertemu di Hotel Borobudur Jakarta, pada akhir pekan kemarin.

“Jadi, kita di Indonesia ini, jangan tabu dengan dialog itu. Untuk itu mekanisme dialog ini, harus kita bangun bagaimana caranya supaya kita merangkul semua pihak,” tekannya.

Apalagi lanjut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini, di Papua ada banyak faksi. Berbeda dengan di Aceh yang ada satu faksi. Nah, untuk bisa merangkul semua faksi tadi, butuh tahapan-tahapan dialog yang jelas, dengan melibatkan semua stakeholder, baik tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan dan lainnya yang mengerti masalah, termasuk yang berseberangan.

“Dan yang berseberangan pun tidak masalah dilibatkan. Ini negara kita, kenapa kita harus takut? Laksanakan dialog itu, yang penting dilakukan secara bermartabat dan terhormat, sehingga mata luar negeri yang tadinya menyoroti Indonesia itu, menjadi berubah. Bahwa Indonesia itu, adalah negara demokrasi yang berkembang baik, apalagi dia punya dasar Pancasila sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa dan di negara di dunia tidak ada dasar Pancasila itu. Jangan justru kita punya dasar Pancasila, malah kemanusiaannya diabaikan,” tukasnya.

Menurut Freddy Numberi, nilai – nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi karena kita mempunyai dasar – dasar Pancasila.

“Harapan saya polisi di depan dibantu TNI. Jika ekskalasinya meningkat, TNI ke depan. Jadi, tidak ada salahnya. Ini negara kita, kita kelola sendiri kok. Kita tidak perlu ada intervensi dari mana-mana. Kita harapkan tidak ada lagi pelanggaran kemanusiaan sehingga kembali berdamai lagi, pemerintahan berjalan. Jadi, memang ini tergantung pada bagaimana pemerintah mengelola masalah ini di Papua,” ujar Fredy Numberi.

Selain itu, ia juga menilai jika pemerintahan tidak berjalan dengan maksimal, lantaran leadership tidak ada.

Dikatakan, jika ada leadership ada, berarti mereka bisa koordinasi dengan Pangdam dan Kapolda sedemikian rupa, sehingga bagaimana mengatasi situasi secara bersama-sama.

“Itulah gunanya adanya Forkompinda atau Forum Komunikasi Pimpinan Daerah itu, harus ada untuk dimanfaatkan terutama dalam rangka mensejahterakan rakyat Papua. Jika Forkompimda tidak berjalan, ini salah satu akibatnya adalah berlarut-larutnya masalah yang ada di Tanah Papua. Sehingga itu salah satu dari aspek leadership ya,” terangnya.

Yang kedua, kata Fredy Numberi, kita lihat bahwa dalam situasi aman dan damai seperti ini, dalam situasi bukan perang,

Untuk itu, ia menyarankan harus lebih mengedepankan polisi dalam semua aspek dalam rangka keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Saya berlatar belakang TNI lho. Tapi saya melihat ini bahwa kita sudah merumuskan bahwa kriminal itu harus polisi dikedepankan dan diback up oleh TNI. Manakala ekskalasinya meningkat, baru TNI masuk. Jadi, TNI sah-sah saja datang ke Papua. Itu sah, karena kita ingin daerah kita aman kan,” tuturnya.

Hanya saja tandas Freddy Numberi, yang dikhawatirkan adalah ekses-ekses daripada operasi militer di masa damai ini, karena itu sangat ditentang oleh luar negeri, manakala ada rakyat yang tidak berdosa meninggal atau rumah di kampung dibakar dan sebagainya, hanya karena mengejar para oknum KKB tersebut.

“Ya saya setuju pembasmian KKB harus sampai keakar-akarnya, termasuk orang-orang yang mendanai mereka itu,” tegas Fredy Numberi.

Kemudian kata Fredy Numberi, dari mana mereka (KKB) dapatkan uang untuk beli senjata? Kalau tidak punya uang. Apalagi, mereka hidup di kampung dan di tengah hutan.

“Dapat uang darimana? Nggak mungkin kjan beli senjata pakai daun, itu semua harus pakai rupiah,” cetusnya.

Terkait soal adanya indikasi KKB menggunakan dana desa dengan memaksa para kepala kampung? Mantan Danlantamal V Irian Jaya – Maluku ini ketika itu, menegaskan bahwa apapun dananya, itu uang dari Republik Indonesia.

“Jadi ada system khan didalamnya. Berarti dana itu sampai ke mereka itu khan, pasti ada oknum-oknum yang memberikan. Itu yang juga harus dibasmi sampai ke oknum-oknum yang memberikan dana kepada KKB supaya ditangkap juga, dan mata rantainya kita putus juga,” tandas Fredy Numberi.

Ketika disinggung soal adanya indikasi donator dari luar negeri, Freddy Numberi mengaku jika ia melihat bahwa dana yang dipasok untuk KKB membeli senjata itu, masih dari dalam negeri sendiri.

Fredy Numberi menambahkan, jika pengawasannya yang masih kurang. Sehingga menurut saya inteligen harus baik dan semua aspek itu, inteligen juga harus masuk dulu, punya penggalangan dulu untuk memilah mana oknum-oknum yang betul-betul terlibat, dan mana masyarakat yang terlibat.

“Apalagi ini sama-sama famnya. Misalnya, fam Kogoya, ada Kogoya yang NKRI dan ada Kogoya yang OPM khan. Jadi harus dibedakan itu, jangan disama ratakan semua,” tutup Fredy Numberi. (TIARA).

Leave a Comment