Perekonomian Papua Tengah Terkontraksi, Kemenkeu Beberkan Penyebabnya

Jayapura – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) mencatat pertumbuhan ekonomi di wilayah Papua secara umum masih relatif terjaga.

Hampir seluruh provinsi di Papua mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif hingga November 2025.

Provinsi Papua Pegunungan menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi dari 3,19 persen secara year on year (yoy) menjadi 4,35 persen.

Sementara itu, Provinsi Papua induk mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,21 persen (yoy). Provinsi Papua Selatan juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,16 persen.

“Namun, Papua Tengah mengalami kontraksi ekonomi cukup dalam, yaitu minus 16,11 persen,” ungkap Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Papua, Izharul Haq dalam konferensi pers realisasi APBN 2025 di Gedung Keuangan Negara (GKN) Jayapura, Rabu (31/12/2025).

Izharul menambahkan, kondisi tersebut disebabkan tingginya ketergantungan Papua Tengah terhadap sektor pertambangan dan penggalian.

“Ketika sektor tersebut mengalami stagnan, perekonomian daerah turut terkontraksi,” jelasnya sembari menyampaikan jika tanpa sektor pertambangan dan penggalian, ekonomi daerah otonomi baru tersebut tumbuh sebesar 4,03 persen.

Sementara, dari sisi inflasi, Papua Pegunungan mencatatkan tertinggi sebesar 4,05 persen, jauh di atas inflasi nasional yang tercatat 2,72 persen.

Dia bilang, tingginya inflasi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan akses logistik.

“Distribusi barang kebutuhan pokok ke daerah tersebut sebagian besar harus melalui transportasi udara, sehingga berdampak pada mahalnya harga komoditas,” ucapnya.

Sementara, inflasi di Papua induk relatif rendah, hanya sebesar 0,8 persen hingga triwulan III 2025. Angka ini jauh di bawah tingkat inflasi nasional.

Untuk nilai tukar petani (NTP) di seluruh daerah di wilayah Papua masih berada di bawah rata-rata nasional. Hal ini, kata Izharul, menunjukkan sektor pertanian masih menghadapi tantangan untuk ditingkatkan.

“Tetapi nilai tukar nelayan untuk wilayah Papua secara konsisten berada di atas nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor perikanan masih menjadi tulang punggung utama dalam menopang perekonomian Papua secara keseluruhan,” kata Izharul. (Sari)

Related posts

Paguyuban di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom Dukung Pasangan MDF-AR

Jems

Telkomsel Resmi Luncurkan Layanan eSIM

Fani

BEI Papua Sebut Saham Antam Merosot Disebabkan Sejumlah Faktor

Fani

Kasus Aerosport Mimika: Kuasa Hukum Terdakwa Pertanyakan Dasar Hukum Dakwaan Jaksa

Fani

Koperasi Merah Putih di Tanah Papua Dikebut, Kemendes Siapkan Posko Khusus

Bams

Dandim Merauke, TNI dan Polri Siap Amankan Jalannya Pilkada 2024

Fani

Leave a Comment