Pasific Pos.com
Papua Selatan

Kedelai Didorong Agar Bisa Swasembada

Anggota Komisi IV DPR RI, H.Sulaeman L.Hamzah (foto:iis)

 

MERAUKE,ARAFURA,- Anggota Komisi IV DPR RI, H.Sulaeman L.Hamzah mengemukakan bahwa di bidang pertanian, komoditi yang saat ini lebih intens dikembangkan adalah padi, jagung dan kedelai (pajale).Untuk padi dan jagung sudah surplus pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi untuk kedelai belum pernah swasembada sama sekali. Bahkan tahun ini masih mengimpor 2,8 juta ton dari luar.

Untuk mendorong agar kedelai bisa swasembada maka ia sudah memulai terobosan, dimana dirinya berupaya untuk mencapai 1 juta hektar kedelai secara nasional dan target ini diupayakan tercapai hingga 2024.

Sulaeman sudah memulai dari Keerom dan Merauke dimana untuk Keerom mencapai 50 hektar. Untuk panen perdana direncanakan pada November mendatang. Sedangkan di Merauke ada 15 hektar yang sudah siap tanam. Ia juga akan meninjau langsung ke lokasi guna memastikan 13.000 hektar yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian apakah sudah cocok atau tidak, dalam hal ini mencakup 4 distrik yaitu Jagebob, Muting, Ulilin Dan Elikobel.

“Kita harapkan pada 2024 nanti bisa mencapai swasembada, itupun kalau semua pihak mendukung. Apalagi untuk teknologi budidaya kedelai juga sudah kita kuasai,”jelas Sulaeman kepada wartawan di Rumah Aspirasi, Kamis (22/9).

Ia menambahkan, tahun lalu swasembada dalam pertanian berhasil dicapai bahkan sudah bisa ekspor. Namun tahun ini memang diakui ada masalah karena perubahan iklim dan rata-rata di Pulau Jawa gagal panen. Oleh sebab itu harus segera diantisipasi dimana informasi awal yang disampaikan oleh Menteri Pertanian sebenarnya untuk mengantisipasi jika kekurangan stok.

“Padahal sampai akhir tahun lalu kita masih surplus. Oleh karena itu menteri menyarankan agar daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang masih dapat dikembangkan dapat berproduksi lebih maksimal.
Kerja sama antar negara sudah berjalan selama ini, nanti kita lihat karena negara-negara tetangga juga mengalami masalah yang sama sehingga kita berharap ada timbal balik. Jadi di saat kita kekurangan maka diharapkan mereka bisa membantu,”terang Sulaeman.

Ia belum mengetahui sumbernya dari negara mana, namun yang pasti Kementerian Perdagangan yang akan menghandle. Kalau di Kementerian Pertanian hanya fokus untuk produksi dalam negeri dan ketahanan pangan nasional.(iis)