Hadir di Perayaan HUT ke-70 Sekolah Minggu Jemaat GKI Abepura, Alberth Merauje Sampaikan Rasa Syukur

Jayapura,- Anggota DPR Papua dari Fraksi NasDem, Albert Merauje, yang juga merupakan guru Sekolah Minggu menghadiri peryaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 70 Sekolah Minggu Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Harapan Abepura pada Rabu 4 November 2026, malam.

 

Perayaan HUT tersebut kali ini mengangkat tema “Anak Mendengar dan Taat kepada Firman Tuhan”, berdasarkan Roma (10:16-21).

 

Momentum ini menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panjang pelayanan Sekolah Minggu GKI Harapan Abepura sejak tahun 1956, sekaligus memperkuat komitmen dalam membimbing dan membina generasi muda gereja.

 

Ketua Majelis Jemaat GKI Harapan Abepura, Pdt. E. Kwalepa, S.Th., M.Sos., mengatakan, perayaan HUT ke-70 menjadi momentum mensyukuri perjalanan panjang pelayanan Sekolah Minggu sejak 1956.

 

Ia menjelaskan, Sekolah Minggu dibentuk sebagai wadah pembinaan iman anak-anak agar dapat bertumbuh dalam persekutuan, kesaksian, dan pelayanan kasih.

 

Namun, ia berharap, melalui Sekolah Minggu dapat lahir generasi penerus yang memiliki iman kuat serta mampu menjadi pemimpin gereja, pemerintah, dan masyarakat.

 

“Generasi boleh berlalu, tetapi pemberitaan Injil harus terus berjalan sampai Yesus datang. Kami berharap anak-anak yang bertumbuh melalui Sekolah Minggu kelak menjadi pemimpin dan membawa berkat bagi banyak orang,”kata

Pdt. Kwalepa kepada media usai perayaan HUT.

 

Sementara itu, Anggota DPR Papua dari Fraksi NasDem, Dr. Ir. Albert Merauje, A.Md. Tek. ST, MT, IPM yang juga merupakan guru Sekolah Minggu sejak tahun 1980 hingga saat ini, menyampaikan rasa syukur atas perayaan HUT ke-70 Sekolah Minggu GKI Harapan Abepura.

 

Ia akui, perayaan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya selama dirinya menjalani pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu.

 

“Peringatan hari ulang tahun dapat dilaksanakan berdasarkan penelusuran sejarah berdirinya Sekolah Minggu pada 4 November 1956,” ujarnya.

 

Lanjut dikatakan, perjalanan pelayanan Sekolah Minggu sejak dahulu tidak terlepas dari berbagai tantangan dan keterbatasan.

 

“Bahkan, para pengasuh harus berjalan kaki untuk menjangkau anak-anak dan jemaat binaan di sejumlah wilayah pelayanan,” ungkapnya.

 

Bahkan, Albert menceritakan saat pelayanan ke Koya Barat, Arso 4, Arso 8 hingga Arso 14 yang pada masa itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Selain pelayanan rohani, dirinya bersama sejumlah pihak juga terlibat dalam upaya mengamankan aset tanah gereja seluas kurang lebih satu hektare demi kepentingan pelayanan gereja di masa mendatang.

 

“Dulu kita menghadapi banyak tantangan. Belum ada kendaraan seperti sekarang, sehingga untuk melayani jemaat binaan kita harus berjalan kaki. Tetapi karena Tuhan, semua pekerjaan pelayanan itu dapat kita jalankan,”tuturnya.

 

Oleh karena itu, tandas Albert, Sekolah Minggu bukan hanya menjadi tempat anak-anak belajar firman Tuhan, tetapi juga wadah pembentukan karakter, etika, perilaku, serta pendidikan iman sejak dini.

 

Pada kesempatan tersebut, Alberth juga menjelaskan, pembinaan Sekolah Minggu di GKI Tanah Papua berlangsung secara berjenjang, mulai dari kelas PAUD, TK, Anak Kecil (SD kelas 1–3), Anak Tanggung (SD kelas 4–6), Remaja (SMP), Kelas Alkitab (SMA), hingga kelas Katekisasi sebagai persiapan untuk diteguhkan menjadi Anggota Sidi Jemaat.

 

Setelah itu, mereka memasuki persekutuan jemaat dewasa dan Persekutuan Anak Muda (PAM).

 

Menurut legislator Papua itu, pembinaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan pertumbuhan iman warga gereja sejak usia dini hingga dewasa dan lanjut usia. Dalam pembagian kelompok pelayanan, usia 0–17 tahun disebut Jemaat Kecil, usia 17–70 tahun Jemaat Besar, sedangkan usia 70 tahun ke atas masuk dalam kelompok Jemaat Lansia.

 

Ia menyebut Sekolah Minggu sebagai jemaat kecil yang memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi emas keluarga, gereja, bangsa, dan negara.

 

Ia menekankan, pendidikan anak harus dibangun sejak usia dini, mulai dari PAUD, TK hingga jenjang pendidikan tinggi. Karena itu, para pengasuh Sekolah Minggu memiliki tanggung jawab untuk memberikan motivasi dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.

 

“Sekolah Minggu adalah jemaat kecil. Di sinilah kita meletakkan dasar-dasar iman, karakter, etika, dan perilaku anak-anak. Mereka inilah generasi emas keluarga, gereja, bangsa, dan negara,”ucapnya.

 

Untuk itu, sebagai anggota DPR Papua, Albert juga menyatakan dukungannya terhadap pembangunan fasilitas Sekolah Minggu.

 

Ia pun berharap perhatian terhadap sarana pelayanan anak dapat menjadi bagian dari program pembangunan, termasuk melalui bidang infrastruktur dan sumber daya manusia.

 

Menurutnya, keberadaan fasilitas Sekolah Minggu yang memadai sangat penting agar anak-anak dapat mengikuti kegiatan ibadah dan pembinaan iman dengan nyaman.

Dikatakan, sesuai tema perayaan HUT ke-70, “Anak Mendengar dan Taat kepada Firman Tuhan”. Dengan demikina, Albert berpesan agar anak-anak dibiasakan hidup dalam doa, ketaatan, dan rasa syukur kepada Tuhan.

 

Namun ia mengingatkan bahwa kebiasaan berdoa harus ditanamkan sejak bangun pagi, sebelum memulai aktivitas, sebelum makan, maupun dalam berbagai kesempatan.

 

“Ketika bangun pagi, hal pertama yang harus dilakukan adalah berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan karena masih diberikan kehidupan. Jangan pertama-tama mencari HP atau makanan, tetapi biasakan melipat tangan dan berdoa,” pesannya.

 

Selain itu, ia juga mengajarkan pentingnya berbagi melalui persembahan dan derma sesuai kemampuan anak-anak sebagai bentuk kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan.

 

Albert berharap pengalaman pelayanan yang telah dijalaninya selama puluhan tahun dapat menjadi motivasi bagi generasi berikutnya untuk terus mengambil bagian dalam pelayanan Sekolah Minggu.

 

“Kerinduan saya, pengalaman yang sudah saya jalani ini bisa diteruskan kepada anak-anak, sehingga ke depan muncul Albert-Albert berikutnya dan pengasuh-pengasuh baru yang mau melayani Tuhan melalui Sekolah Minggu,” ungkapnya.

 

Masih ditempat yang sama, mantan Ketua Sekolah Minggu GKI Harapan Abepura, Arnold Akobiarek, S.H., M.H., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Majelis Jemaat serta para guru Sekolah Minggu dari berbagai generasi yang telah mendukung terselenggaranya perayaan HUT ke-70 tersebut.

 

“Perayaan ini menjadi momen istimewa karena turut dihadiri para guru Sekolah Minggu senior yang telah melayani sejak era 1980-an dan 1990-an bersama para pengasuh yang masih aktif hingga saat ini,” ungkapnya.

 

Menurut Arnold, Sekolah Minggu tidak hanya menjadi tempat anak-anak belajar firman Tuhan, tetapi juga wadah pembentukan karakter, etika, dan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.

 

Arnold menambahkan, saat ini Sekolah Minggu GKI Harapan Abepura didukung sekitar 20 guru dengan jumlah anak mencapai 600 orang dalam pelayanan rutin.

 

“Sementara pada perayaan besar seperti Paskah dan Natal, jumlahnya dapat mencapai kurang lebih 1.500 anak,” jelasnya. (Tiara).

Related posts

Aksi Cosplayer Bikin Pecah! Sakura Fest 2025 Jadi Ajang Kreativitas Anak Muda Papua

Fani

Pengamanan Idul Fitri 1447 H, Kapolresta Didirikan 7 Pos di Kota Jayapura

Bams

Bangun Silaturahmi, Wali Kota dan Wakil Walikota Gelar Buka Puasa Bersama

Bams

Curas Subuh Hari di Yabansai, Polisi Amankan Parang dan Dalami Motif Pelaku

Fani

Dukung Pilkada 2024 Bersih Hoax, Mafindo Jayapura Bersama Koalisi AJI dan AMSI Gelar Kampanye Prebungking

Jems

Rustan Saru Apresiasi Peran Aktif Organisasi KOMPAK

Bams

Leave a Comment