Pasific Pos.com
Olahraga

Atlet Lolos Prakualifikasi Dicoret, IMI Papua Protes

IMI Papua
Pengurus IMI Papua foto bersama usai meninjau sirkuit balap motor PON XX di Kabupaten Merauke belum lama ini.

JAYAPURA – Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia (Pengprov IMI) Papua mengajukan protes ke IMI Pusat terkait pengurangan atlet Papua pada penyelenggaraan PON XX tahun 2021.

Ketua Harian IMI Papua, Iqbal Halim dalam keterangan persnya, Sabtu, 10 Oktober 2020, mengatakan sebagai tuan rumah PON, Papua memperoleh wild card. Tetapi juga ada atlet yang lolos setelah mereka memperoleh tiket pada babak prakualifikasi.

Dengan demikian, pada pelaksanaan PON nanti, Papua harusnya menurunkan dua tim. Namun, melalui surat Nomor 057/IMI-PON/A/XII/2020, perihal penyesuaian kuota atlet cabor bermotor PON XX Papua, sebanyak 7 atlet Papua yang lolos prakualifikasi dicoret dari daftar peserta perlombaan balap motor.

Sirkuit balap motor PON XX
Sirkuit balap motor PON XX di Kabupaten Merauke yang sedang dikerjakan.

Dalam surat tersebut menyebutkan menunjuk SK IMI Pusat No. 084/IMI/KEP/A/VIII/2020 tertanggal 19 Agutus 2020 perihal jumlah atlet cabang olahraga bermotor (balap motor dan motorcross) yang dapat mengikuti dan perlombaan pada PON XX Papua dan penyesuaian dengan ketentuan wild card dari IMI Papua (balap motor dan motorcross), maka data penyesuaian kuota atlet dengan jumlah 61 atlet.

Jadi, untuk cabor bermotor ini sejak PON 2008 di Kalimantan Timur hingga PON Jabar, tuan rumah memperoleh wild card maupun atlet yang meloloskan pebalapnya di prakualifikasi, berarti pada saat PON nanti Papua turun dengan dua tim, tetapi kenapa secara tiba-tiba IMI pusat mencoret atlet Papua yang lolos melalui babak prakualifikasi,” tanya Iqbal.

Iqbal mengaku, IMI pusat tidak berlaku adil dan tidak memberi solusi untuk pencoretan ini. “Kenapa PON Papua baru terjadi pencoretan atlet tuan rumah yang lolos babak prakualifikasi, sementara tiga PON sebelumnya tuan rumah mendapat jatah wild card maupun atlet yang lolos prakualifikasi,” bebernya.

Dikatakannya, IMI Pusat harus menjelaskan secara terbuka pencoretan atlet tuan rumah Papua, sebab ini sangat merugikan dan mengecewakan Papua.

Ia menuturkan, sesuai dengan buku pedoman teknik (technical hand book) dalam meeting manajer sebelum Prakualifikasi 2019 lalu, jumlah kuota atlet yang akan lolos ke PON Papua sebanyak 127 orang diluar jatah wild card tuan rumah. Namun, kenapa tanpa pemberitahuan kuota atlet menjadi 61 orang.

“Kalau memang hasil prakualifikasi tidak dipakai, kenapa tidak bilang, kita sudah keluarkan biaya sangat besar untuk ikut prakualifikasi,” paparnya.

Jumlah atlet PON Papua yang sedang mengikuti pemusatan latihan sebanyak 15 orang, dan jika 7 atlet dicoret. “Kalau atlet kita dicoret bagaimana pertanggungjawaban kami kepada KONI, mau dibawa ke mana pembinaan yang selama ini kami lakukan,” tandasnya.

Iqbal menyatakan, pihaknya sudah melaporkan masalah ini ke KONI maupun PB PON Papua, dan berharap IMI Pusat bisa berlaku adil dan tidak membuat keputusan dengan merugikan Papua sebagai tuan rumah.

“Saya harapkan aturan yang berlaku di PON sebelumnya untuk cabor balap motor harus diberlaku di PON Papua, jangan semena-mena membuat aturan hanya untuk merugikan kami Papua,” pungkasnya.

Artikel Terkait

PON XX, IMI Papua Prioritaskan Pembalap Lokal

Bams