Frangklin Pasik : Monitoring dan Evaluasi Merupakan Bagian Penting Dalam Pelayanan Kesehatan

Jayapura,- Dinas Kesehatan Kota Jayapura melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), khususnya program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), menggelar pertemuan monitoring dan evaluasi program P2PTM Puskesmas se-Kota Jayapura Tahun 2026.

 

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Jayapura, R. Indra Beodisusanto, SKM., MPH., yang berlangsung di salah satu Hotel di Kota Jayapura, Rabu, 4 November 2026, siang.

 

Mewakili Kabid P2P, Kepala Seksi P2PTM dan Kesehatan Jiwa (Keswa), Frangklin Pasik, S.ST .MKM menjelaskan, monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian terhadap capaian program.

 

“Kegiatan ini bertujuan memantau kinerja serta pencapaian target program P2PTM yang telah diberikan kepada seluruh Puskesmas sepanjang tahun 2026,” kata Frangklin Pasik kepada sejumlah awak media disela sela kegiatan.

 

Dengan melalui kegiatan tersebut, pihkanya pun dapat melihat sejauh mana capaian pelayanan. Mulai dari penanganan kasus penyakit tidak menular, ketersediaan logistik, bahan medis habis pakai (BMHP), hingga sumber daya manusia atau tenaga kesehatan.

 

“Evaluasi juga dilakukan untuk mengetahui berbagai kendala yang dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan, sekaligus mengidentifikasi faktor pendukung yang dapat memperkuat pelaksanaan program,” jelasnya.

 

Dengan demikian, hasil monitoring dan evaluasi tersebut diharapkan menjadi bahan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada tahun berikutnya.

 

Apalagi saat ini kata Frangkiln, pola penyakit di masyarakat mengalami pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan perubahan pola hidup dan perilaku masyarakat.

 

“Di Kota Jayapura, sejumlah penyakit tidak menular yang menjadi perhatian antara lain obesitas, hipertensi, diabetes, stroke, kanker, hipercholestrol dan beberapa penyakit tidak menular lainnya,”bebernya.

 

Namun, diantaranya terdapat dua penyakit tidak menular yang menjadi perhatian khusus, yakni hipertensi dengan 9604 kasus dan diabetes melitus 4006 kasus (Data dinkes kota januari-september 2026), karena dapat juga memicu beberapa kompliklasi penyakit yang mengancam jiwa.

 

Menurutnya, kedua penyakit tersebut juga masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang menjadi salah satu penilaian kinerja kepala daerah.

 

“Karena itu, hipertensi dan diabetes melitus betul-betul menjadi perhatian kami. Capaian kedua penyakit ini dilaporkan secara rutin setiap bulan sebagai bagian dari penilaian kinerja kepala daerah di bidang kesehatan,”terangnya.

 

Untuk itu, Frangklin berharap hasil evaluasi tahun ini dapat mendorong peningkatan pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan, terutama bagi Puskesmas yang capaian programnya belum maksimal.

 

Selain peningkatan pelayanan, pihaknya juga berharap dukungan anggaran, khususnya untuk memenuhi kebutuhan peralatan pemeriksaan dan BMHP yang digunakan dalam pelayanan penyakit tidak menular.

 

“Kami berharap tahun depan dukungan anggaran dapat lebih maksimal sehingga kebutuhan teman-teman di Puskesmas, terutama alat dan BMHP, dapat terpenuhi. Dukungan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan Layanan yang langsung kepada masyarakat” katanya,”harapnya.

 

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan, bahwa pentingnya pemantauan secara rutin terhadap pasien hipertensi dan diabetes. Sebab, kedua penyakit tersebut merupakan penyakit jangka panjang yang membutuhkan perawatan, pengobatan serta pengawasan berkelanjutan agar tetap dapat terkendali.

 

Oleh karena itu tandas Frangklin, pasien harus rutin melakukan pemeriksaan dan kontrol ke fasilitas kesehatan agar kondisi penyakit tetap terkendali serta tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.

 

“Harapan kami, teman-teman di Puskesmas terus melakukan deteksi dini penyakit tidak menular dan jika ditemukan kasus dapat mengingatkan dan memantau pasien agar tetap melakukan kontrol secara rutin. Jangan sampai kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat karena tidak mendapatkan penanganan secara berkelanjutan,”tekannya.

 

Frangklin menambahkan, melalui pertemuan monitoring dan evaluasi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Jayapura berharap capaian program P2PTM pada tahun mendatang semakin meningkat.

 

“Ketersediaan logistik pelayanan semakin baik, serta kasus penyakit tidak menular dapat dikendalikan,” pungkasnya. (Tiara).

Related posts

26 Rumah di Jayapura Ludes Dilahap Api, Kerugian Ditaksir Capai Miliaran Rupiah

Fani

Astra Motor Papua Sediakan Fitur Panggilan Darurat di Aplikasi Motorku X

Fani

Turunan Panjang? Jangan Asal Ngerem, Berikut Tips agar Terhindar dari Rem Blong

Fani

Christian Sohilait Hadiri Acara Syukuran IKEMAL Papua

Bams

Jelang Mudik Lebaran, Astra Motor Papua Gelar Edukasi Keselamatan Berkendara

Fani

Legislator Papua Soroti Kerusakan Kali Anafre, Pemkot Diminta Tindak Pendulang Ilegal

Bams

Leave a Comment