Tak Pernah Bermimpi Jadi GM PLN, Roberth Rumsaur Cetak Sejarah

Jayapura,- Roberth Rumsaur kini mencatatkan sejarah baru di lingkungan PT PLN (Persero). Putra asli Papua ini dipercaya mengemban jabatan sebagai General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, menjadikannya anak Papua pertama yang memimpin PLN di tanah kelahirannya sendiri.
Penunjukan tersebut menjadi sejarah penting dan terbukanya ruang kepemimpinan bagi putra-putri Papua kedepan untuk menjadi pemimpin di BUMN tersebut.
Perjalanan Roberth menuju posisi tertinggi di lingkungan PLN wilayah Papua dan Papua Barat bukanlah perjalanan singkat. Ia memulai karier di PT PLN sejak tahun 2000-an dengan penugasan awal di Sorong.
Selama lebih dari dua dekade mengabdi, Roberth menempuh berbagai penugasan di hampir seluruh wilayah Papua. Dari Sorong, ia pernah bertugas di Biak, Jayapura, Merauke, kembali ke Jayapura, hingga dipercaya menjadi Kepala PT PLN pertama di Kabupaten Nabire.
Pengalaman itu kemudian membawanya ke tingkat yang lebih luas. Roberth mendapat kesempatan menjalankan tugas di luar Papua, mulai dari Parepare, Sulawesi Selatan, Mojokerto, Jawa Timur, hingga Kalimantan sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukannya sebagai kepemimpinan yang mengantarkannya ke posisi General Manager.
Meski demikian, Roberth mengaku tidak pernah bermimpi akan memimpin PLN di Papua.
“Menjadi GM PLN di Papua saya tidak bermimpi, tapi prinsip saya kerja saja. Ada yang melihat, mencatat, mengevaluasi, menetapkan dan memutuskan,” ujar Roberth kepada wartawan di Jayapura, Rabu kemarin.
Roberth menyadari bahwa jabatan yang kini diembannya bukan hanya amanah pribadi, tetapi juga membawa harapan besar bagi generasi Papua kedepan.
Menurutnya, keberhasilan menjalankan tugas menjadi penting agar semakin banyak anak Papua mendapat kesempatan menduduki posisi strategis di PT PLN di masa mendatang.
“Tugas dan tanggung jawab dari pimpinan ini menjadi beban sendiri, dan beban besar melekat pada diri saya untuk menghadirkan Roberth lain ke depan untuk menjadi GM PLN di tanah Papua,” katanya.
Roberth juga menegaskan bahwa kegagalannya menjalankan amanah dapat menjadi hambatan bagi kesempatan anak-anak Papua lainnya.
Karena itu, ia berpesan kepada seluruh pegawai Papua di lingkungan PLN agar terus menunjukkan integritas, etos kerja, dan hasil nyata.
“Kapan saya gagal maka tidak ada lagi orang Papua, jadi jabatan ini saya akan bekerja dengan baik dan mohon dukungan dari semua pihak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari PLN bukan hal mudah. Karena itu, mereka yang sudah mendapatkan kesempatan diminta menjaga kepercayaan dan memberikan kinerja terbaik.
“Sejak saya bekerja, keluarga itu jadi pilihan kedua, pekerjaan jadi nomor satu,” ucapnya.
Ke depan, Roberth berkomitmen membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Tanah Papua agar program-program ketenagalistrikan dapat berjalan optimal dan menjangkau masyarakat lebih luas.
Dengan pengalaman yang dimiliki selama bertahun-tahun, ia optimistis PLN di Papua dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan yang semakin baik.
“Saya tidak bermimpi, dan saya tetap bersyukur bisa lolos menjadi pegawai PLN. Dari keluarga yang seadanya bisa sukses seperti ini. Semoga Tuhan menolong kita semua,” tutupnya.

Related posts

Persipura Dipermalukan, Euforia Suporter Berubah Jadi Sunyi

Bams

Pemprov Papua Siap Bantu Koni, Tapi Sesuai Kemampuan Anggaran

Bams

Soft Opening IndigoSpace Papua, Telkom Dorong Kolaborasi dan Pertumbuhan Ekonomi Digital

Fani

Jawab Tudingan Awen Magai Diusir Bupati Mimika, Asisten I : Justru Saat itu Dia Terobos Masuk Saat Sesi Foto Bersama Forkopimda

Fani

Ribuan Masyarakat Mimika Hadiri Deklarasi JOEL

Fani

Laga PSBS Versus PSIS di Jayapura

Bams

Leave a Comment