Pasific Pos.com
Ekonomi & Bisnis

Tambang dan Penggalian Masih Dominan, Ekonomi Papua Tumbuh Minus 2,39 Persen

Ekonomi Harus Diprioritaskan di Wilayah Meepago
Ilustrasi

Jayapura – Dalam konteks pertumbuhan ekonomi regional, pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua menunjukkan downtrend dan terkoreksi cukup dalam yakni minus 2,39 persen pada triwulan I tahun 2023 dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

“Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Papua masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian,” jelas Moudy Hermawan selaku Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) yang juga Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Papua dalam konferensi pers ALCo, di Gedung Keuangan Negera Jayapura, Rabu (5/7/2023).

Moudy menyebut, menurunnya produksi emas dan tembaga akibat curah hujan dan longsor menyebabkan sektor lapangan usaha pertambangan dan penggalian terkontraksi sebesar minus 11,64 persen.

“Perekonomian Provinsi Papua diharapkan kembali menguat baik dari sisi produksi maupun konsumsi di Triwulan II 2023. APBN terus bekerja keras untuk melindungi daya beli masyarakat dan menopang pemulihan ekonomi di Papua. Selain itu, kewaspadaan dan mitigasi tetap dilakukan mengantisipasi ketidakpastian di sepanjang tahun 2023,” ucapnya.

Moudy menambahkan, meski pertumbuhan ekonomi Papua dengan tambang terkoreksi cukup dalam, namun pertumbuhan ekonomi tanpa tambang cenderung stabil dan positif.

Dia mengatakan bahwa prospek ekonomi Papua yang akan kembali menguat ditunjukkan baik dari sisi produksi maupun konsumsi, yang antara lain didukung permintaan pada saat lebaran. Penguatan dari sisi produksi ditunjukkan oleh pertumbuhan konsumsi listrik yang mencapai 74,72 persen secara year on year (yoy).

“Tumbuhnya elektrifikasi di Papua mengindikasikan produktivitas masyarakat dan dunia usaha di Papua yang meningkat. Selain itu, pertumbuhan penjualan semen domestik pada Mei 2023 menunjukkan lonjakan yang signfikan, tumbuh 16,7 persen yoy,” jelasnya.

Kenaikan penjualan semen di Papua dipicu oleh dimulainya akselerasi pembangunan di sejumlah daerah, utamanya oleh pemerintah. Sementara dari sisi konsumsi, kata Moudy, penjualan kendaraan bermotor terus mengalami peningkatan tiap bulannya, dengan kepemilikan tertinggi pada jenis sepeda motor yang mencapai 1,09 juta.

Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor mengindikasikan peningkatan konsumsi Rumah Tangga dan Produk Domestik Bruto atau PDB sektor perdagangan.

“Sementara apabila dilihat dari tingkat okupansi hotel, geliat aktivitas leisure masyarakat Papua meningkat seiring okupansi hotel yng tumbuh 34,83 persen (yoy). Pada bulan Juni dan Juli diperkirakan akan ada kenaikan okupansi Hotel dikarenakan adanya momen liburan anak sekolah,” ujar Moudy.

“Selanjutnya, tingkat inflasi domestik per Maret mencapai 3,69 persen (yoy), yang merupakan andil dari hampir seluruh kelompok pengeluaran,” sambungnya.

Pengendalian inflasi pangan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga terutama di masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Inflasi yang terkendali, kata Moudy, menjadi hal positif dan membantu meningkatkan daya beli masyarakat.

Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Perdagangan (NP) masih melanjutkan surplus. NP Mei 2023 surplus sebesar USD587,39 juta, dengan ekspor USD620,17 juta dan impor USD32,78 juta. Ekspor Mei 2023 kembali menguat dan tumbuh positif sebesar 33,86 persen (yoy), setelah pada tiga bulan pertama sempat mengalami kontraksi.

Outlook pertumbuhan ekonomi Papua 2023 relatif stabil, didorong oleh peningkatan permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi. “Meski demikian, ketidakpastian global masih harus tetap diwaspadai,” pungkasnya.

Saat menggelar konferensi pers ALCo Regional Papua, Moudy didampingi Staf Ahli Pengawasan Pajak Kementerian Keuangan, Nufransa Wira, Staf Khusus PKF Regional Kementerian Keuangan, Candra Fajri dan Wibawa Pram selaku Kepala Kanwil DJKN Papua, Papua Barat dan Maluku. (Zulkifli)