Pasific Pos.com
Headline

Merasa Terancam Saksi Jania Basir Minta Perlindungan LPSK

Mantan kepala dinas perhubungan Kabupaten Mimika, Jania Basir sesaat sebelum bersaksi di persidangan kasus korupsi pengadaan pesawat dan helikopter John Rettob.

Jayapura – Mantan kepala dinas perhubungan Kabupaten Mimika, Jania Basir, minta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) selama proses kasus pengadaan pesawat Cesna dan helikopter Airbus milik pemkab Mimika. Permintaan ini disampaikan saat sidang mendengarkan keterangan saksi saksi di Pengadilan Tipikor Jayapura, Papua.

Hal itu disampaikan Jania Basir sebagai saksi fakta dalam sidang perkara kasus pengadaan pesawat cesna caravan dan Helikopter Airbus milik Pemkab Mimika di Pengadilan Tipikor Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Selasa(4/7/2022).

Dalam sidang pokok perkara ini, saksi Jania Basir yang saat itu menjabat Kepala Dinas Perhubungan dicecar berbagai pertanyaan terkait kasus dugaan korupsi yang dituduhkan kepada Johannes Rettob dan Direktur Utama PT. Asian One, Silvi Herawaty.

“Majelis yang mulia, saya hanya tanya satu boleh kah ? Saya minta perlindungan LPSK?,” kata saksi Jania Basir saat diberikan kesempatan untuk bertanya oleh ketua majelis hakim.

Pertanyaan saksi minta perlindungan LPSK itu langsung dijawab ketua majelis bahwa semua saksi punya hak untuk minta perlindungan dan itu diatur undang-undang.

Saksi Jania Basir, ditanya soal pengadaan pesawat cesna caravan dan helikopter airbus milik pemkab mimika.

“Yang masalah cuma helikopter airbus karena tidak bayar pajak, sementara pesawat cesna caravan tidak,” jelas Jania.

Ketika ditanya, terkait laporan polisi di Polda Papua, Jania mengaku tidak pernah melapor PT. Asian one maupun Johannes Rettob.

“Saya tidak melapor, hanya mendampingi ibu Jenny Usmani yang saat itu menjabat Pj Sekda Kabupaten Mimika,” ujarnya.

Sementara, terdakwa Johannes Rettob dan Silvi Herawaty membantah keterangan saksi fakta Jenny Usmani dan Jania Basir.

“Yang mulia, kami bantah semua keterangan dari saksi Jenny Usman dan Jania Basir karena tidak sesuai fakta,” kata Johannes Rettob.