Hari Kesehatan Mental Sedunia, Nasyiatul Aisyiyah Merauke Hadirkan Psikolog 

MERAUKE-Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Merauke menggelar kajian rutin bulanan dengan tajuk “Sahabat Rajin, Gerakan Mengaji Nasyiah” bertempat di SMP Muhammadiyah, Sabtu (10/10).

 

Kegiatan ini menjadi wadah untuk meningkatkan ilmu, memperkuat iman dan meraih keberkahan. Kali ini Nasyiatul Aisyiyah menghadirkan Indra Kusumawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai pemateri.

 

Adapun yang menjadi tema kajian yaitu “Ruang Healing Back to Your Self”. Nur Lailly Enny Haryanti, S.Psi., M.Pd., Gr selaku Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Merauke menyampaikan, kesehatan tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik tetapi juga mencakup kesehatan jiwa atau mental.

 

Oleh sebab itu perlu diwaspadai ketika terjadi gejala tertentu terkait dengan gangguan kesehatan mental. Seperti diketahui bahwa 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia sehingga sinergi dengan tema kajian,

 

Diharapkan seluruh peserta dapat menyimak materi dengan baik termasuk saat melaksanakan praktek sehingga dapat mengukur diri masing-masing apakah masih dalam kategori normal atau tidak.

 

“Harapannya kita semua sehat, selain sehat fisik juga sehat jiwa. Saya mewakili bidang kesehatan sangat senang menjembatani peserta untuk lebih sadar terhadap kesehatan masing-masing,” ujar Nur.

 

Ia menegaskan, datang ke psikologi bukan berarti orang tersebut mengalami gangguan jiwa atau gila. Sebagai perempuan harus menyadari kesehatan mentalnya karena perempuan mengemban peran yang cukup banyak. Baik sebagai istri, sebagai anak dari orang tua masing-masing, aktif di organisasi dan lain sebagainya. Harus diingat, seorang ibu yang sehat di dalam keluarga berawal dari mental yang sehat.

 

Sementara itu Indra Kusumawati dalam materinya menjelaskan tentang Art Therapy (terapi seni) sebagai metode psikoterapi yang memadukan teknik konseling psikologi dengan proses kreatif pembuatan karya seni seperti menggambar, melukis, mewarnai, membuat patung dari clay atau menulis untuk membantu seseorang mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 

Terapi ini tidak menuntut pesertanya untuk memiliki bakat atau keahlian seni khusus. Dapat dilakukan berbagai kalangan usia mulai anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia. “Psikologi dapat dibarengi dengan seni, tidak hanya mengobrol saja. Setelah mengikuti kajian diharapkan para peserta dapat merefleksikan diri, menjadi lebih tenang, lebih bahagia dan ada efek yang ditimbulkan khususnya dari sisi mental, ” jelasnya.(iis)

Related posts

TK Pertiwi XI Gelar Acara Pelepasan 107 Anak Didik 

Bams

PMDB Hadirkan Solusi Berbasis Teknologi

Fani

Astra Motor Papua Menerima Penghargaan Universitas Cenderawasih

Fani

Sinergi Astra Motor dan United Tractor Papua dalam Safety Riding

Fani

Tanpa SDM yang Siap, Program Kesehatan Dinilai Tidak Efektif

Bams

Sosialisasi Safety Riding School Tanamkan Kesadaran Berkendara Aman

Fani

Leave a Comment