Hadir Di Merauke, BSI Turut Mendukung Pengembangan Ekonomi Syariah Di Kawasan Selatan
MERAUKE-Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) di Kabupaten Merauke Provinsi Papua Selatan menambah khasanah di dunia perbankan yang dapat dipilih masyarakat untuk mempercayakan dananya tersimpan secara aman dan menguntungkan. BSI merupakan bank syariah terbesar di Indonesia, hasil merger PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah pada 1 Februari 2021.
Berfokus pada perbankan syariah yang modern dan universal serta menyediakan layanan keuangan lengkap, termasuk digital banking BYOND by BSI. Bank ini juga diakui sebagai bank BUMN dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. BSI menyediakan layanan yang mempermudah nasabah dalam bertransaksi, antara lain Digital Banking (BYOND by BSI): Aplikasi super (super-app) untuk transfer, pembayaran, pembelian, top-up eWallet, QRIS, hingga pembukaan rekening dan deposito.
Menyediakan tabungan haji, gadai emas, cicil emas, Griya (KPR), Mitraguna dan Hasanah Card.
BSI berkomitmen menjadi energi baru pembangunan ekonomi nasional dan bagian dari kelompok bank syariah terkemuka global. “Kita tidak hanya mencari keuntungan untuk bisnis tetapi lebih kepada pengembangan ekonomi syariah di Kabupaten Merauke dan Papua Selatan pada umumnya.
Apalagi kawasan selatan mengalami perkembangan yang cukup pesat termasuk di sektor ekonomi, ” terang Branch Manager BSI KCP Merauke, Rajendra Wishnu Tristantyo kepada Pasific Pos di kantor BSI KCP Merauke, Jumat (20/2). Ia berharap ke depan dapat memenuhi ekspetasi pemerintah dengan jangkauan layanan yang lebih meluas bahkan hingga luar negeri.
Dijelaskan, BSI resmi hadir di Kabupaten Merauke pada 10 Februari 2025 lalu tetapi secara legalitas perusahaan bank ini lahir pada 1 Februari 2021. Dengan usia baru menginjak 5 tahun, BSI melesat begitu cepat dan semakin banyak membuka cabang hingga di atas angka 1.000.
Satu lagi kabar gembira, BSI resmi memperoleh izin bulion jasa simpanan emas. Dengan izin tersebut maka BSI kini memiliki tiga kegiatan usaha bulion yakni Simpanan Emas, Perdagangan Emas dan Penitipan Emas. Izin sebagai Bank dengan jasa simpanan emas diperoleh pada 10 November 2025.
Untuk aset, BSI sudah mencapai angka fantastis. Dari sisi kualitas pembiayaan yang disalurkan juga terjaga dengan indikasi NPF gross di level 1,81%, lebih baik dari tahun lalu dan NPF Nett 0,47%. Perbaikan kualitas adalah hasil dari strategi pengelolaan manajemen eisiko yang tepat sesuai segmentasi bisnis dan nasabah serta disiplin memonitor perkembangan industri.
Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI juga tumbuh jauh di atas industri mencapai 16,20% (YoY) menjadi Rp.380 triliun, didominasi dana murah (CASA) sebesar 61,62% atau Rp.234 triliun, dengan Tabungan sebagai engine growth yang tumbuh 15,72% (YoY) mencapai Rp162,63 triliun. Pertumbuhan DPK mendorong total aset BSI naik 11,64% (YoY) menjadi Rp.456 triliun.
Untuk layanan, luar negeripun dirambah oleh bank dengan banyak keunggulan ini, salah satunya di Dubai dan direncanakan akan membuka cabang baru di Arab Saudi. Khusus untuk di kawasan selatan Papua, tidak menutup kemungkinan bakal dibuka kantor cabang di tiga kabupaten pemekaran seperti Asmat, Boven Digoel dan Mappi. Bank ini juga fokus dengan memberdayakan SDM lokal sehingga membantu penyerapan tenaga kerja dari daerah.
Dengan demikian, ketika bisnis BSI semakin besar maka akan semakin banyak pula menyerap tenaga kerja yang tentunya dari daerah itu sendiri. Pihaknya juga berkomitmen menambah fasilitas pendukung sehingga layanan semakin lengkap dan tentunya lebih modern. Yang tidak kalah penting, BSI bersifat universal sehingga terbuka bagi kalangan manapun, tidak hanya untuk nasabah Muslim.(iis)
