Pasific Pos.com
Headline

Ekonomi Tumbuh Kencang Tak Bikin Rakyat Papua dan Maluku Makmur

Proyek Pembangunan Smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Java Integrated Industrial Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur

Jakarta – Laju pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Papua pada kuartal I-2024 tak membuat daya beli masyarakat di dua daerah itu kuat, tercermin dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang masih rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah Maluku dan Papua mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal I-2024 sebesar 12,15%. Pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua pada kuartal I-2024 yang tumbuh tinggi mencapai 12,15% ditopang utamanya oleh aktivitas pertambangan dan penggalian.

“Pertumbuhan ekonomi di pulau Maluku dan Papua yang mencapai double digit didorong oleh aktivitas ekonomi di provinsi Papua, dengan sumber pertumbuhan yang didorong oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian,” kata Amalia saat konferensi pers di kantornya, Jakara, Senin (6/5/2024).

Adapun urutan kedua ialah pertumbuhan di Sulawesi sebesar 6,35% turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 6,99%. Pertumbuhan di Sulawesi terutama ditopang pertumbuhan di Sulawesi Tengah karena adanya industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, serta konstruksi.

Pertumbuhan ekonomi wilayah atau spasial tertinggi ketiga ialah Kalimantan sebesar 6,17% dari sebelumnya 5,82%. Disumbang oleh pertumbuhan tertinggi di wilayah Kalimantan Timur dengan adanya aktivitas pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan.

Adapun pertumbuhan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada kuartal I-2024 sebesar 5,07% naik dari sebelumnya 4,75%. Ditopang oleh aktivitas ekonomi di Bali seperti penyediaan akomodasi dan makan-minum, jasa keuangan dan asuransi, serta administrasi pemerintahan.

Di wilayah Jawa, pertumbuhan ekonominya pada kuartal I-2024 sebesar 4,84% dari sebelumnya 4,96%. Ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di wilayah DKI Jakarta melalui aktivitas sektor industri informasi dan komunikasi, perdagangan, dan konstruksi.

Terakhir adalah wilayah Sumatera dengan pertumbuhan sebesar 4,24% dari sebelumnya 4,79%. Didorong oleh pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara melalui aktivitas perdagangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta konstruksi.

Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, dengan laju pertumbuhan ekonomi itu, sayangnya tingkat konsumsi masyarakatnya rendah. Menandakan pertumbuhan ekonomi tinggi di daerah itu tidak langsung membuat rakyatnya makmur.

Bahkan, ia mengatakan level konsumsi di Maluku dan Papua jauh lebih rendah dari tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara nasional yang tercatat sebesar 4,91% pada kuartal-I 2024. Padahal, produk domestik regional brutonya (PDRB) tumbuh kencang dua digit.

“Konsumsi di kedua provinsi itu masih relatif rendah. Untuk Maluku Utara misalnya lebih detail itu tumbuhnya 4,12% padahal pertumbuhan PDRB nya 11,8%. Di Papua tumbuhnya 17,49% tapi pertumbuhan konsumsinya 4,3%” kata Dendi saat konferensi pers, Senin (14/5/2024).

Baca:Menteri Jokowi Buka-bukaan Potensi RI Resesi, Ini Penjelasannya!
Dendi menilai fenomena ini juga membuktikan pertumbuhan ekonomi yang didorong sektor pertambangan dan pengolahannya tidak punya efek signifikan dalam mendukung roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Alih-alih rakyat sejahtera, konsumsinya saja masih rendah.

“Karena di Maluku Utara kan ada pertambangan dan pengolahan nikel. Di Papua juga sama pertambangan, di Freeport, dan ini adalah sumber pertumbuhan yang men-drive sehingga kedua provinsi itu tumbuh tinggi,” ucap Dendi.

Oleh sebab itu, fakta ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, supaya laju pertumbuhan ekonomi yang kencang tidak hanya sekedar menjadi angka-angka belaka, melainkan betul-betul mampu memperbaiki kondisi ekonomi dan memakmurkan rakyatnya.

“Saya pikir ini karakteristik dari sektor pertambangan yang tidak terlalu punya keterkaitan yang erat dengan sektor ekonomi lokal,” tegas Dendi.

“Ini tantangan ke depan, bagaimana sektor pertambangan tersebut bisa berdampak langsung dan juga melibatkan ekonomi masyarakat di daerah tersebut, sehingga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat secara umum, termasuk di dalamnya adalah konsumsi dan mendrive daya beli,” ungkapnya. (CNBC Indonesia)