Disdikbud Kota Jayapura Gelar Penyusunan Kamus Bahasa Nafri Selama Empat Hari

Jayapura, – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura menggelar kegiatan Penyusunan Kamus Bahasa Nafri bertempat di SIP Azana Hotel Jayapura, Papua. Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari yakni Selasa – Jumat, 27,28,29,30 Oktober 2026.

 

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku dalam sambutannya mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan bahasa daerah yang luar biasa.

 

“Dari sekitar 718 bahasa daerah yang teridentifikasi di Indonesia, lebih dari 400 bahasa berada di wilayah Papua. Khusus di Kota Jayapura, terdapat tujuh bahasa yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Port Numbay,”paparnya.

 

Grace menjelaskan, tujuh bahasa tersebut meliputi bahasa Kayu Batu dan Kayu pulau, bahasa Tobati-Enggros, bahasa Nafri, bahasa Skouw Yambe, Skouw Mabo dan Skouw Sae, bahasa Waena dan Yoka, bahasa Mosso, serta bahasa Koya Koso.

 

“Meskipun memiliki kekayaan bahasa daerah, tapi jumlah penutur aktif semakin sedikit. Sebagian masyarakat hanya memahami bahasa daerah ketika mendengarnya, tetapi tidak lagi mampu menuturkannya,” ujar Grace dengan nada prihatin.

 

Lanjut dikatakan, berdasarkan penelitian Balai Bahasa pada 2004 dan kerja sama Balai Bahasa dengan Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kota Jayapura pada 2011, bahasa-bahasa di Port Numbay diperkirakan menghadapi ancaman kepunahan apabila tidak ada upaya pelestarian.

 

Karena itu, Pemerintah Kota Jayapura memberikan perhatian terhadap pelestarian bahasa daerah melalui pendokumentasian kosakata dalam bentuk kamus.

 

Grace mengungkapkan, pada 2024 pemerintah telah menyusun Kamus Bahasa Skouw, kemudian pada 2025 menyusun Kamus Bahasa Tobati-Enggros, dan pada 2026 dilanjutkan dengan penyusunan Kamus Bahasa Nafri.

 

“Kalau kosakata tidak di dokumentasikan, bahasa itu akan pergi bersama penutur aslinya. Sangat disayangkan jika generasi kita selanjutnya tidak mengetahui bahasanya sendiri,”kata Grace.

 

Untuk itu, Grace berharap para penutur asli bahasa Nafri dan tenaga pendidik yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat membantu proses penyusunan kamus sekaligus mempelajari bahasa Nafri untuk diajarkan kepada anak-anak di sekolah.

 

Adapun guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah-sekolah di wilayah Kampung Nafri, Kelurahan Abe Pantai, Kelurahan Asano, dan Kelurahan Awiyo serta melibatkan para pemuda khususnya dari kampung Nafri.

 

Menurut Grace, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui pembelajaran muatan lokal.

 

Selain itu, kata Grace, Pemerintah Kota Jayapura juga telah memiliki payung hukum berupa Peraturan Wali Kota Jayapura Nomor 105 Tahun 2025 tentang pembelajaran bahasa daerah di sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal.

 

Oleh karena itu, ia menegaskan, bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, melainkan bagian penting dari identitas dan kebudayaan masyarakat adat.

 

Bahkan ungkapnya, berbagai kegiatan adat, seperti upacara adat, perkawinan, pembayaran mas kawin, hingga pembayaran kepala, menggunakan bahasa ibu dalam penyampaiannya.

 

“Kalau bahasa ini hilang, bagaimana masyarakat menyampaikan budayanya? Jika bahasa daerah hilang, budaya juga terancam hilang dan masyarakat bisa kehilangan identitasnya. Jadi, pelestarian bahasa ini sangat penting,” tegas Grace.

 

Grace menambahkan, kegiatan penyusunan Kamus Bahasa Nafri sebelumnya telah dibuka pada 15 Oktober 2026 di GSG GEREJA GKI Petra Nafri, Pelaksanaan kegiatan kemudian dilanjutkan setelah sejumlah pihak mengikuti Kongres Bahasa Daerah pada 19–22 Oktober 2026 di Sasana Krida, Kantor Gubernur Papua.

 

“Kongres tersebut yang pertama di Indonesia menjadi momentum penting bagi upaya pelestarian bahasa daerah, dengan Provinsi Papua menjadi tuan rumah penyelenggaraannya,”ungkapnya.

 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Yopi Yoram Hanuebi, mengatakan pihaknya telah melakukan penyusunan sejumlah kamus bahasa daerah sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa ibu.

 

Dengan demikian, penyusunan kamus tersebut diharapkan dapat dilanjutkan dengan pembuatan perangkat ajar dan modul pembelajaran bagi siswa mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

 

“Kami berharap kamus-kamus yang disusun ini nantinya diikuti dengan penyusunan perangkat ajar untuk anak-anak kita, sehingga bahasa dan budaya daerah dapat diajarkan di sekolah dan terus dikenang oleh generasi berikutnya,”harapnya

 

Menurutnya, dokumentasi bahasa melalui kamus dan penyusunan modul pembelajaran sangat penting agar penggunaan bahasa daerah tidak semakin berkurang di tengah masyarakat.

Sementara itu, Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Papua, Ester Rita Embram, yang mewakili Ketua Balai Bahasa Provinsi Papua, menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura atas upayanya melestarikan warisan budaya masyarakat Port Numbay.

 

Menurutnya, penyusunan Kamus Bahasa Nafri merupakan langkah penting dalam menjaga harkat, martabat, dan jati diri masyarakat adat Suku Nafri.

 

Bahkan pihaknya menilai, kepedulian pemerintah daerah dalam mendokumentasikan kekayaan budaya, khususnya bahasa daerah, merupakan langkah maju yang perlu diapresiasi.

 

“Program dari Bidang Kebudayaan Kota Jayapura ini merupakan langkah maju yang perlu kita apresiasi bersama. Belum semua pemerintah daerah di Papua memiliki upaya untuk mendokumentasikan kekayaan budaya, salah satunya bahasa,”kata Ester.

 

Ester menjelaskan, bahwa penyusunan kamus bahasa daerah dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan, pengumpulan atau inventarisasi kosakata dari para penutur asli, pengolahan data, validasi, hingga finalisasi.

 

“Dalam proses tersebut, keterlibatan para penutur asli bahasa Nafri sangat penting untuk memastikan kosakata yang dihimpun sesuai dengan penggunaan bahasa di tengah masyarakat,” pungkasnya.

 

Dengan melalui penyusunan Kamus Bahasa Nafri, Pemerintah Kota Jayapura berharap bahasa daerah dapat terdokumentasi dengan baik dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga tetap menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat Port Numbay.(Tiara).

Related posts

Ajak Karyawan Jadi Pelopor Keselamatan, Astra Motor Papua Gelar Edukasi di Main Dealer

Fani

Langganan Banjir, Warga Jalan Delima Entrop Minta Pemkot Jayapura Segera Bangun Drainase

Bams

Keluarga Besar Lantamal X dan Jalasenastri Korcab X DJA III Ikuti Sharing Motivasi

Bams

Dinkes dan UNICEF Perkuat Peran Kader dan Nakes dalam Penurunan Stunting di Jayapura

Bams

Pelatihan Jurnalistik Dorong Anggota BMP Papua Cerdas Saring Informasi dan Tangkal Hoaks

Jems

Pastikan Produk Aman Selama Ramadhan dan Jelang Idul Fitrii 2025, BBPOM Lakukan Pengawasan Takjil

Bams

Leave a Comment