Dinas Pendidikan Siapkan Program Sekolah Kampung di Tobati dan Enggros
Jayapura, – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura menggelar pertemuan dengan sejumlah warga kampung Tobati dan Kampung Enggros yang berlangsung di Ruang Rapat Asisten I Setda Kota Jayapura, Selasa 13 Oktober 2026, pagi.
Tujuan dari pertemuan tersebut dalam rangka mempersiapkan program Sekolah Kampung di Kampung Tobati dan Kampung Enggros sebagai upaya merevitalisasi dan melestarikan bahasa ibu serta budaya masyarakat adat Port Numbay.
Turut hadir dalam pertemuan itu, salah satu Tokoh gereja dan juga sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat GKI Abara Enggros yang juga merupakan anggota DPR Papua, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM,
Kepada pers, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, mengatakan program Sekolah Kampung merupakan implementasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2022 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah Kota Jayapura.
“Program ini menyasar anak-anak asli Kampung Tobati dan Kampung Enggros berusia 10 hingga 17 tahun. Pada tahap awal tahun ini, kegiatan difokuskan pada pelestarian bahasa Tobati dan Enggros dengan melibatkan 15 peserta, terdiri atas tujuh anak dari Kampung Tobati dan delapan anak dari Kampung Enggros,”kata Grace kepada media usai pertemuan.
Dijelaskannya, guru-gurunya adalah penutur asli dari kampung tersebut yang benar-benar menguasai bahasa dan memahami budaya masyarakat Tobati dan Enggros,”kata Grace.
“Kegiatan pembelajaran direncanakan berlangsung sebanyak 24 kali pertemuan pada November hingga Desember 2026,” jelasnya.
Mengingat waktu pelaksanaan yang terbatas, sehingga pihaknya akan mengatur jadwal secara efektif agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Selain itu, pihaknya juga berupaya mendukung kebutuhan peserta selama mengikuti pembelajaran, termasuk menyediakan konsumsi dan membantu biaya transportasi bagi anak-anak yang harus menempuh perjalanan dari wilayah Abepura maupun Kotaraja menuju Kampung Tobati dan Kampung Enggros.
Sementara dukungan terhadap tenaga pengajar, diharapkan dapat diperhatikan oleh pemerintah kampung masing sesuai dengan kewenangan dan kemampuan anggaran yang tersedia.
Bahkan, Grace pun akui, kondisi bahasa ibu di kedua kampung tersebut semakin memprihatinkan karena jumlah penutur aktif terus berkurang.
Berdasarkan hasil diskusi dalam rapat tersebut, penutur asli yang masih aktif menggunakan bahasa di Kampung Enggros diperkirakan hanya tersisa tiga hingga empat orang. Sementara di Kampung Tobati, jumlahnya sekitar empat hingga lima orang. Sebagian besar penutur tersebut telah berusia di atas 60 tahun.
“Ini menjadi perhatian serius karena bahasa ibu merupakan warisan leluhur yang harus dijaga. Harapan kami, melalui sekolah kampung ini, anak-anak dapat memahami, mengucapkan, dan mengenal budaya mereka sehingga memiliki identitas diri serta rasa percaya diri yang kuat,” harapnya.
Apalagi kata Grace, kehidupan masyarakat adat di tengah perkembangan perkotaan turut memengaruhi penggunaan bahasa daerah.
“Sebagian anak bahkan sering merasa malu ketika menggunakan bahasa kampungnya sendiri dalam kehidupan sehari-hari,”ujar Grace dengan nada prehatin.
Karena itu, Grace menambahkan, dengan melalui Sekolah Kampung, pemerintah berharap tumbuh kembali kebanggaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya leluhur sehingga dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menanggapi hal tersebut, salah satu Tokoh gereja dan sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat GKI Abara Enggros yang juga merupakan anggota DPR Papua, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, menyambut baik program Sekolah Kampung sebagai upaya melestarikan bahasa ibu masyarakat Tobati dan Enggros.
Menurutnya, semakin berkurangnya penutur aktif menjadi perhatian serius sehingga pelestarian bahasa harus dimulai dari keluarga dan lingkungan kampung.
“Bahasa itu menunjukkan jati diri kita. Apa yang Tuhan telah berikan kepada masyarakat Tobati dan Enggros harus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu kita,”tegas Alberth Merauje.
Untuk itu, legislator Papua itu mendorong pemerintah kampung ikut mendukung keberlangsungan program, termasuk memperhatikan tenaga pengajar dari penutur asli.
Alberth menekankan jika pentingnya praktik penggunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya leluhurnya.
“Kalau bahasa ini tidak kita lestarikan dari sekarang, suatu saat mungkin hanya tinggal cerita. Karena itu, warisan leluhur harus kita jaga dan turunkan kepada anak cucu,”ucapnya.
Selain itu juga, kata Alberth, masyarakat sangat berharap kepala kampung Tobati dan Enggros tinggal di kampung agar dapat mengawal langsung program pembangunan.
Oleh karena itu, Wali Kota Jayapura diminta mengambil sikap tegas jika kepala kampung tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
“Sebab, masyarakat menilai orang luar bisa lebih mencintai dan membangun kampung dibandingkan anak kampung sendiri,” tutupnya. (Tiara).
