Empat Sekolah di Mimika Dipalang Masyarakat Adat Terkait Pembebasan Lahan
Mimika – Sebanyak empat sekolah di Mimika dipalang oleh sekelompok masyarakat, pada Rabu (14/1/2026) sehingga ribuan siswa terpaksa diliburkan.
Aksi ini terjadi di SMA Negeri 1 Mimika dan SMA Negeri 7 Mimika di Jalan Yos Soedarso Timika, SMP Negeri 7 Mimika di Gang Solter Elmas serta SD Inpres Inauga di Jalan Budi Utomo Ujung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lokasi, palang telah dilakukan sejak Selasa 13 Januari 2026 malam. Palang ini terjadi karena persoalan sengketa tanah yang kabarnya belum diselesaikan.
Kelompok ini melakukan pemalangan dengan menggunakan papan dan kayu balik yang dipakukan di semua pintu pintu kelas.
Sementara itu di pintu gerbang, mereka juga membentangkan spanduk dengan bertuliskan sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah Kabupaten Mimika, terutama kepada Bupati Mimika, serta kepala dinas dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Pantauan media ini di lapangan, sekitar pukul 07.00 WIT para guru hingga pelajar dari empat sekolah tersebut sudah berdatangan. Namun tidak dapat memasuki halaman sekolah, sehingga terpaksa dipulangkan dan diliburkan.
Aparat keamanan dari Polres Mimika dan Polsek Mimika Baru pun segera mengadakan negoisasi agar palang dibuka. Namun hingga menjelang siang negoisasi belum berhasil.
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Mimika, Nona Yeni Gogani mengatakan kepada media ini, bahwa sejak pagi sebanyak 1400 siswa berhamburan di jalan sekitaran lingkungan sekolah. Namun, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, ia selaku kepala sekolah pun memulangkan anak didiknya dan menjalankan proses pembelajaran dari rumah.
“Jadi bukan libur, tapi belajar di rumah, saya berharap apa yang terjadi hari ini kan sudah mengganggu proses belajar mengajar, di sini ada guru-guru mungkin bisa dilihat masih menunggu karena ini kan pendidikan ini kan harus berjalan. Kalau ada masalah mungkin bisa dibicarakan, didiskusikan bagaimana caranya supaya ada jalan keluarnya, bukan mengorbankan siswa untuk belajar,” ujar Yeni.
Ia pun berharap persoalan ini dapat segera terselesaikan sehingga para siswa-siswi bisa kembali menjalani proses belajar mengajar di sekolah.
Senada dengan Yeni, Kepala Sekolah SD Inpres Inauga, Ny. Diana Domakubun saat ditemui juga mengaku menyesali tindakan ini.
Katanya, aksi pemalangan ini bukan baru pertama kali dilakukan. Namun, ia menilai bahwa tindakan ini justru mengorbankan masa depan generasi muda terutama dalam menimba ilmu di sekolah.
“Saya berharap semua pihak berkompeten segera menyelesaikan masalah-masalah sekolah ini karena ini menyangkut masa depan anak-anak bangsa,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, palang belum dibuka, aktivitas belajar mengajar di empat sekolah tersebut pun terhenti untuk sementara.
