Pasific Pos.com
Papua Barat

Yuliana Rasyid Bantah Jadi Otak di Balik Pembunuhan Suaminya

Manokwari, TP – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari yang diketuai Sony A.B. Laoemoery, SH melanjutkan sidang kasus pembunuhan almarhum Abdul Hakim Hafid, pemilik warung Coto Makassar di Kompleks Pasar Wosi, Manokwari, Kamis (8/2) sekitar pukul 17.30 WIT.

Kali ini, jaksa penuntut umum (JPU), Kejari Manokwari, Ramli Amana, SH menghadirkan terdakwa, Yuliana Rasyid sebagai saksi atas terdakwa, Achmad Yani. Namun, untuk kesekian kalinya, Yuliana Rasyid selalu menyangkal sebagai otak pembunuhan suaminya ketika ditanya hakim, JPU, maupun penasehat hukum terdakwa, Achmad Yani, Achmad Junaedi, SH.

Yuliana Rasyid mengatakan, dirinya tidak tahu jika terdakwa, Achmad Yani mau datang ke rumahnya untuk membunuh suaminya. “Sebelum kejadian itu, saya pikir Achmad Yani datang untuk bertamu,” kata Yuliana Rasyid.

Padahal, dari keterangan Yuliana Rasyid pada sidang sebelumnya, dia menceritakan tentang awal perencanaan pembunuhan suaminya diatur bersama terdakwa, Achmad Yani.

Usai Yuliana Rasyid memberikan keterangan, hakim memanggil terdakwa, Achmad Yani. Dalam keterangannya, dia mengaku kalau rencana pembunuhan itu dimulai dari Yuliana Rasyid dan rencana itu sudah direncanakan ketika mereka berada di rumah kakak Achmad Yani di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Terdakwa mengatakan, di saat mencekik leher almarhum, terjadi perlawanan sekitar 10 menit dan saat itu saksi Yuliana Rasyid berada di samping suaminya. Namun, dia tidak berteriak minta pertolongan, hanya diam, kemudian pindah ke atas kasur ketika suaminya melakukan perlawanan tanpa berbuat sesuatu.

Pada kesempatan itu, terdakwa mengaku di hadapan majelis hakim, JPU, dan penasehat hukumnya, dan keluarga almarhum bahwa dirinya menyesal atas tindakan yang dilakukannya.

“Saya memohon maaf kepada keluarga korban dan dirinya berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya,” janji Achmad Yani.

Setelah mendengarkan keterangan Yuliana Rasyid dan Achmad Yani, majelis hakim menutup persidangan dan akan dilanjutkan dengan agenda tuntutan JPU, Senin (19/2).

Usai persidangan, JPU mengatakan, ada beberapa hal tidak diakui Yuliana Rasyid tentang niat awal siapa yang mempunyai inisiatif pertama melakukan pembunuhan terhadap almarhum.

Ditanya tentang kesimpulan sementara atas keterangan kedua terdakwa, ungkap Amana, dari fakta-fakta sudah terungkap di persidangan sebagaimana dakwaan JPU. Awal perencanaan pembunuhan ada pada terdakwa, Yuliana Rasyid berdasarkan keterangan semua saksi yang terungkap di persidangan, termasuk keterangan terdakwa, Achmad Yani.

Meski di beberapa sisi terdakwa Yuliana Rasyid masih membantah tentang niat awal pembunuhan, tetapi itu keterangannya sebagai terdakwa dan keterangannya untuk dia sendiri.

Sementara penasehat hukum terdakwa Achmad Yani, Achmad Junaedi mengaku, ketika dirinya bertanya kepada saksi, kesaksiannya tidak jelas. “Kadang iya, kadang tidak. Keterangan saksi mulai dari fakta-fakta persidangan itulah yang nanti memutuskan. Jaksa akan menuntut apakah ada unsur dia rencanakan atau tidak, tapi dari fakta persidangan, saya melihat memang ada unsur. Jadi, otak dari pelaku pembunuhan direncanakan saksi Yuliana Rasyid,” tukas Junaedi.
Dikatakan Junaedi, kliennya sudah sempat membantah sejumlah keterangan Yuliana Rasyid jika keterangannya ada yang benar dan ada yang tidak benar.

“Klien saya sebutkan yang memberikan handphone kepada klien saya adalah saksi Yuliana Rasyid. Kemudian, yang memberikan foto letak rumah almarhum Abdul Hakim Hafid kepada klien saya adalah saksi juga. Yang memerintahkan untuk membunuh adalah saksi, tapi klien saya dengan lantang dan tegas mengatakan bahwa dia yang berinisiatif membawa pisau,” papar Junaedi.

Sebab, sambung Junaedi, kliennya takut jika dalam aksinya menghabisi korban, yakni suami Yuliana Rasyid dengan mencekik korban, ada perlawanan, sehingga Achmad Yani berinisiatif mencari benda tajam dan ternyata ada 2 pisau.

“Satu pisau kecil dan satu lagi pisau besar yang diambil dari dapur korban dan akhirnya terdakwa Achmad Yani membawa pisau kecil untuk berjaga-jaga, kalau aksi mencekik leher korban gagal, maka dirinya akan menusuk korban,” tambahnya.

Dari pantauan Tabura Pos, persidangan yang mulai pada pukul 17.30 WIT dan berakhir sekitar pukul 20.00 WIT, dihadiri anggota keluarga korban. [FSM-R1]