Pasific Pos.com
Papua Barat

Warinussy Menanggapi Pernyataan Jhon Warijo

Manokwari, TP – Pernyataan Plt. Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Domberay, Jhon Warijo dan pihak lain, ditanggapi Ketua Steering Committee Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua Wilayah III Domberay, Yan C. Warinussy.

Sebelumnya, Plt. Ketua DAP menilai pelaksanaan Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua Wilayah III di Sorong merupakan kegiatan ilegal dan sarat kepentingan politik. Namun, Warinussy menegaskan, kegiatan itu sah dan legal.

“Pernyataan mereka sangat disayangkan. Mereka salah, Konferensi Besar itu legal dan sah, karena Panitia Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua Wilayah III Domberay diangkat oleh SK dari Ketua Dewan Adat Papua, Yan P. Yarangga. SK itu saya juga pegang,” kata Warinussy kepada Tabura Pos via ponselnya, semalam.

Lanjut dia, mereka yang menilai kegiatan itu ilegal, salah, karena jika dilihat dalam statuta atau pedoman dasar DAP, tidak ada yang namanya pelaksana tugas atau plt. Menurutnya, Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua itu sudah sesuai roh dari DAP.

“Terkecuali di Sorong mereka melakukan Kongres Masyarakat Adat Papua atau masyarakat mana ka, ity baru bisa dibilang ilegal. DAP merupakan organisasi yang dilahirkan pasca-Kongres II 2000, yang mana ada manifesto mengenai hak-hak dasar orang asli Papua yang dimuat dalam UU No. 21 Tahun 2001. Itulah yang membuat DAP lahir, jadi DAP itu legal,” terangnya.

Dijelaskan Warinussy, DAP Wilayah III Domberay hanya sebagai koordinator wilayah adat, dimana DAP Wilayah ini yang mengkoordinir terbentuknya Dewan Adat Daerah (DAP), misalnya Mnukwar, Sorong, Raja Ampat, Fakfak, Kaimana, dan seterusnya.

“Kemudian, syarat orang menjadi Ketua DAP di daerah, minimal menjadi kepala suku, tidak bisa yang bersangkutan itu pejabat dari suatu instansi pemerintah. Seorang Ketua DAP, dia harus bebas dari birokrasi,” tekannya.

Dirinya punya menyayangkan pernyataan Plt. Ketua DAP, karena pernyataan itu tidak tepat. “Jadi, saya minta lebih baik menghentikan serang-menyerang supaya DAP tetap kokoh menjadi pilar kedua yang bisa menolong orang asli Papua. Orang Papua hanya berharap kepada pertama, gereja, karena Papua mayoritas Kristen dan Katolik. Kemudian, DAP. Kalau DAP sendiri dirongring, maka orang asli Papua berharap kepada siapa lagi,” tutup Warinussy. [FSM-R1]