Pasific Pos.com
Papua Barat

Wakil Ketua Komisi Akui Paramedis dari Pusat Dicemburui Paramedis PNS di Papua Barat

Manokwari, TP – Tenaga medis yang dikirim oleh Kementerian Kesehatan melalui sejumlah program, sering mengalami masalah dengan tenaga medis PNS di Papua Barat. Hal itu karena gaji tenaga medis yang ditempatkan Kementerian Kesehatan di Papua Barat lebih besar disbanding tenaga medis yang berstatus PNS di Papua Barat.

Hal itu diakui pula oleh Wakil Ketua Komisi D DPR Papua Barat, Demianus Enos Rumpaidus kepada wartawan di gedung DPR Papua Barat, Rabu (11/7).

Menurut Rumpaidus, tenaga medis dan dokter yang didatangkan dari Jakarta ke Papua Barat harus dijaga karena pendapatannya di Jakarta tidak sama dengan di sini. Jakarta merupakan kota besar dan pasien yang dilayani ratusan.

“Dengan demikian, pendapatannya lebih besar, maka kami akui itu, dan supaya mereka tidak meninggalkan tempat tugas mereka, maka diberikan “sesuatu”. Katakanlah gajinya dinaikkan lebih. Makanya dokter-dokter ini sedikit mahal pembiayannya dibandingkan kita yang ada di sini,” ujarnya.

Dia mengatakan, adanya keluhan itu karena dinas kesehatan tidak menyosialisasikan alasan-alasan itu kepada PNS bidang kesehatan di Papua Barat. Keluhan itu, kata dia, sebelumnya sudah disampaikan sejumlah PNS bidang kesehatan di Papua Barat.

“Ini memang waktu kita gali dari hasil hearing dengan dinas kesehatan ada beberapa PNS kesehatan yang sudah sampaikan masalah ini lebih dahulu. Oleh sebab itu, menjadi bahan referensi kita, sehingga waktu hearing dengan dinas kesehatan langsung tanya kenapa dokter dan tenaga spesialis dibayar lebih mahal daripada yang ada wilayah ini sekarang, dan ya itu alasan mereka,” tukasnya.

Sebelumnya, saat menerima 19 tenaga penugasan khusus Kementerian Kesehatan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Senin (9/7), Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Henri Sembiring mengingatkan bahwa tenag-tenaga khusus tersebut pasti dicemburui karena merupakan orang pusat yang ditugaskan di Puskesmas. Oleh karena itu, mereka harus pintar-pintar meyesuaikan diri.

“Jadi pinta-pntarnya kalian menyesuaikan karena dulu masih bidan PTT itu mereka dicemburui bidan pegawai negeri karena bidan PTT gajinya lebih besar jadi disuruh bidan pegawai negeri bilang kalian yang kerja, ya karena gajinya lebih besar,” ujarnya.

Dia juga mengharapkan para tenaga khusus menjaga disiplinnya dan tidak boleh sama dengan PNS. Sebagai tenaga terlatih, diakuinya, para tenaga khusus pasti memiliki disiplin yang lebih baik.

“Tidak boleh sama dengan yang PNS karena yang PNS itu kan terima gaji dulu baru malas kerja, kalau kalian seperti karyawan toko, kerja dulu baru nanti dibayar,” tandasnya. (CR44)