Totalitas Peserta FLS3N Papsel, Tampilkan Karya Terbaik Di Hadapan Juri Demi Raih Juara

MERAUKE,- Para peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA, SMK dan SLB tingkat Provinsi Papua Selatan tampil maksimal di hadapan dewan juri, mengerahkan segenap kemampuan demi menjadi juara dan melenggang ke tingkat nasional.

Lomba berlangsung di Halogen Hotel, Sabtu (30/5) di bawah sorotan tema “Menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya”. Dari sejumlah mata lomba, dua di antaranya adalah monolog dan film pendek dengan tema khusus yang telah ditentukan oleh panitia. Seperti yang diketahui, monolog adalah percakapan atau pembicaraan yang dilakukan oleh satu orang.

Dalam konteks seni peran, sastra dan penceritaan, monolog adalah metode atau adegan di mana seorang karakter berbicara dengan dirinya sendiri atau menyuarakan isi pikirannya kepada penonton, tanpa ada interaksi atau respons dari lawan bicara.

Khusus untuk lomba monolog, panitia menghadirkan tiga dewan juri yang berkompeten, yaitu Wilhelmina Welliken, Shirley Resubun dan Pristia Wardanni. Penampilan peserta benar-benar memukau namun juri tetap harus menentukan pemenang dengan proses penilaian yang sangat ketat dan objektif tentunya.

Sejumlah poin penting menjadi fokus penilaian dewan juri, di antaranya ekspresi peserta, gesture, penggunaan property, artikulasi, busana, gaya penyampaian, narasi, literatur, pemilihan nama tokoh, durasi, kearifan lokal dan lain sebagainya. Juri juga memberikan masukan guna menjadi bahan evaluasi peserta agar mampu tampil lebih baik lagi.

Akhirnya setelah melalui penilaian yang cukup ketat, terpilih tiga pemenang dari tiga kabupaten yaitu Asmat berhasil meraih juara 1, Mappi juara 2 dan Merauke juara 3. Wilhelmina Welliken mengungkapkan, dewan juri dalam memberikan penilaian senantiasa bersikap objektif, jujur dan berpegang teguh pada nilai-nilai integritas juga berdasarkan hasil pengamatan dan analisa dari berbagai sudut pandang.

“Ketika panitia mempercayakan kami bertiga menjadi dewan juri maka kami berupaya melaksanakan dengan profesional dan benar-benar objektif, ” terang public speaker dan juga MC kondang Merauke ini. Sementara itu Pristia Wardanni mengungkapkan, banyak pertimbangan yang harus dilakukan dewan juri dalam mengambil keputusan untuk menentukan pemenang.

Oleh sebab itu telah ditentukan para juaranya dan diharapkan seluruh peserta dapat menerima keputusan juri. Bagi yang menjadi juara diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan bagi yang belum berhasil tidak berkecil hati. “Apa yang menjadi catatan juri, pesan -pesan kami mohon untuk dibawa sampai ke tingkat nasional.

Jangan sampai ada PR di sini yang tidak tertutupi. Bagi yang belum lolos tetap semangat karena pada dasarnya ananda sekalian adalah sosok yang hebat. Belajar lagi lebih giat, semoga pada kesempatan berikut bisa tampil lebih baik, “tukas Pristia.

Sementara itu untuk mata lomba film pendek, yang berhasil meraih juara pertama adalah peserta dari Kabupaten Merauke atas nama SMA Negeri 3 dan juara dua diraih oleh SMA Negeri 1 Asmat. Short film (film pendek) adalah karya sinematik yang umumnya berdurasi 40 menit atau kurang, termasuk kredit. Format ini mengharuskan pembuat film untuk bercerita secara padat, fokus pada gagasan inti tanpa banyak subplot dan menyampaikan pesan secara mendalam dalam waktu singkat.

Fuci Manupapami, salah satu juri mengemukakan bahwa seluruh peserta telah menampilkan karya yang terbaik dan patut dibanggakan karena bisa lolos ke tingkat provinsi bukan hal mudah. “Semua bagus dan pada dasarnya kalian adalah juara-juaranya. Ingat, untuk sampai ke tahap ini, di tingkat provinsi itu tidak gampang. Oleh sebab itu apa yang menjadi catatan juri harap diperhatikan dan lengkapi kekurangan yang ada. Ingat semua revisi, perbaiki, sehingga saat tampil di Jakarta nanti semua sudah beres,” tukas mantan wartawan salah satu TV swasta nasional ini.

Hal senada disampaikan oleh juri lainnya, Iwan Tri Laksana. Menurutnya, masing-masing peserta memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh sebab itu juri harus melihat secara jeli film yang dibuat dan bagi yang memiliki kelebihan lebih banyak akhirnya keluar sebagai juara 1. “Dari sisi tema, mereka yang juara 1 ini mampu merangkul semua aspek termasuk budaya, seni, kearifan lokal dan lain sebagainya,” jelas Iwan.

Kepala Sub Bagian Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Jefferi Anton Ngabalin saat ditemui Pasific Pos menyampaikan bahwa lomba film pendek diikuti oleh dua kabupaten yaitu Merauke dan Asmat. Setiap peserta telah berusaha tampil maksimal demi membawa harum nama sekolah dan juga provinsi. Juara 1 akan mewakili Provinsi Papua Selatan di tingkat nasional sehingga diminta untuk mempersiapkan diri dengan baik.

“Masih ada kesempatan bagi yang belum lolos ke tingkat nasional, bisa mencoba lagi tahun depan. Jadi anak-anak jangan berkecil hati, ” ungkapnya. Ia menambahkan, para juri telah bekerja dengan jujur, adil dan objektif. Juri tidak memihak ke siapapun. “Pasalnya, kita akan mewakili Papua Selatan ke tingkat nasional. Jadi bukan nama kabupaten lagi yang kita pertaruhkan tetapi lebih luas lagi yaitu Provinsi Papua Selatan, ” pungkasnya. (iis)

Related posts

Thobias Bagubau Tanggapi Pernyataan Ketua MRP Papua Tengah Terkait Pencalonan

Bams

Korban Speed Boat Terbalik di Sungai Bian Ditemukan Meninggal Dunia

Bams

Kaya Inovasi, Aditya Ciptakan Produk Kopi Kasuari Khas Kabupaten Merauke 

Bams

Perdana Menjalankan Tugas, Willem Wandik – Yotam Temukan Proyek Mangkrak dalam Sidak

Bams

Aparat Gagalkan Pengiriman Logistik ke KKB Aibon Kogoya

Fani

Warga Antusias Datangi Bazar, Danlanud Sebut Untuk Bantu Masyarakat

Bams

Leave a Comment