Tokoh Adat Papua Minta Isu PSN dan Mama Yasinta Tidak Memecah Persatuan Masyarakat
SENTANI – Meningkatnya perhatian publik terhadap isu yang berkembang seputar Mama Yasinta Moiwend dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan mendapat sorotan dari sejumlah tokoh adat Papua. Mereka mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan persoalan tersebut sebagai pemicu perpecahan di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Pesan itu disampaikan Ondofolo Kampung Homfolo, Anderson Tokoro, dan Ondofolo Kampung Puay yang juga Ketua Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Jayapura, Yakob Fiobetauw, dalam konferensi pers di Sentani, Senin (8/6/2026).
Yakob Fiobetauw menilai narasi yang berkembang saat ini telah bergeser dari pembahasan mengenai PSN menjadi isu dugaan penculikan dan intimidasi terhadap Mama Yasinta. Menurutnya, masyarakat perlu melihat persoalan tersebut secara objektif dan tidak terbawa oleh informasi yang dapat memicu kegaduhan.
“Saya melihat ada keterkaitan antara isu yang berkembang saat ini. Awalnya berbicara tentang penolakan PSN, kemudian berkembang menjadi narasi penculikan dan intimidasi terhadap Mama Yasinta. Saya berpendapat ada pihak-pihak tertentu yang memainkan isu ini sehingga berpotensi menghambat pembangunan di Papua, khususnya di Papua Selatan,” ujar Yakob.
Ia mengatakan masyarakat perlu tetap berpikir positif terhadap program-program pembangunan yang dijalankan pemerintah karena bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.
“Kita harus berpikir positif terhadap program pembangunan yang diturunkan pemerintah pusat. Semua ini bertujuan membangun tanah Papua yang kita cintai. Karena itu, mari kita menjaga kebersamaan, keamanan, dan kedamaian agar seluruh program dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Anderson Tokoro mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang publik. Menurutnya, tidak semua informasi harus diterima begitu saja tanpa disaring terlebih dahulu.
“Masyarakat boleh mendengar berbagai pendapat, tetapi ambillah yang baik dan buang yang buruk. Jika yang disampaikan bertujuan membangun masyarakat dan daerah, silakan diterima. Namun jika justru menimbulkan perpecahan, jangan diikuti,” ujarnya.
Anderson menambahkan bahwa masyarakat di tingkat akar rumput sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika terjadi konflik atau perbedaan kepentingan di tingkat elite. Karena itu, ia berharap semua pihak mengedepankan dialog dan kebersamaan.
Terkait isu dugaan penculikan dan intimidasi terhadap Mama Yasinta, Anderson meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menyerahkan penanganannya kepada pihak yang berwenang.
“Jika memang ada persoalan terkait Mama Yasinta, serahkan kepada pihak berwenang. Biarkan aparat yang menjalankan tugasnya untuk memastikan keamanan dan keselamatan beliau. Kita hidup di negara hukum yang memiliki mekanisme untuk menyelesaikan setiap persoalan,” tegasnya.
Kedua tokoh adat tersebut menegaskan bahwa masyarakat Papua dikenal sebagai masyarakat yang cinta damai dan menginginkan kemajuan daerah. Karena itu, mereka mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Papua Selatan dan Kabupaten Jayapura, untuk tetap menjaga persaudaraan, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menciptakan situasi yang aman dan kondusif demi mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.
