Pasific Pos.com
Headline Sosial & Politik

Tingkatkan Kapasitas, Pimpinan dan Anggota DPR Papua Ikuti Bimtek di Batam

Wakil Ketua I DPR Papua, DR.Yunus Wonda, SH.MH didampingi Wakil Ketuw III DPR Papua, Yulianus Rumbairussy, SSos,MM dan Asisten I Setda Provinsi Kepulauan Riau, Raja Hery Mokhrizal ketika membuka acara Bimtek Pimpinan dan Anggota DPR Papua yang ditandai pemukulan Gong digelar di Swisbell Hotel Batam, baru-baru ini. (foto Tiara).

Jayapura – Pimpinan dan Anggota DPR Papua baru – baru ini mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam rangak pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua, Pemekaran dan Produk Hukum Daerah yang dilaksanakan selama tiga hari di Swisbell Hotem Batam, Provinsi Kepulauan Riau, terhitung dari 5 – 7 Juli 2022.

Hal itu dilakukan dalam upaya untuk lebih meningkatkan kapasitas Pimpinan dan anggota DPR Papua.

Sekedar diketahui, acara Bimtek ini dibuka dengan resmi oleh Ketua I DPR Papua, DR. Yunus Wonda, SH MH didampingi Wakil Ketua III DPR Papua, Yulianus Rumbairussy, SSos,MM dan Asisten I Setda Provinsi Kepulauan Riau, Raja Hery Mokhrizal.

Namun suatu kebanggaan sebab, Asisten I Setda Provinsi Kepulauan Riau, Raja Hery Mokhrizal mewakili Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) menyambut hangat kedatangan pimpinan dan anggota DPR Papua bersama staf sekretariat DPR Papua.

“Kami selaku Pemprov Kepulauan Riau mendapat kehormatan, yang dapat membanggakan dari kami sendiri, atas kedatangan bapak ibu, pimpinan dan anggota DPR Papua di Kota Batam, Kepulauan Riau. Salam hangat dari bapak Gubernur kami,” kata Raja Hery Mokhrizal dihadapan pimpinan dan anggota dewan disela sela kegiatan Bimtek yang sedang berlangsung.

Pada kesempatan itu, Raja Hery juga menginformasikan jika Provinsi Kepulauam Riau memiliki 2.403 gugus pulau, dimana 380 pulau telah bernama dan berpenghuni, selebihnya masih kosong. Kepulauan Riau memiliki luas darat 8000,2 km, dengan luasan laut 96 persen, sehingga lebih banyak lautnya dari pada daratan.

Wakil Ketua III DPR Papua, Yulianus Rumbairussy, Ssos, MM dan Sekretaris DPR Papua, Dr.Juliana J. Waromi,SE,MM foto bersama pimpinan dan Anggota Komisi IV DPR Papua serta Asisten I Setda Provinsi Kepulauan Riau disela sela kegiatan Bimtek di Swisbell Hotel Batam

Hanya saja lanjut Raja Hery, PAD yang lebih dominan adalah pajak kendaraan bermotor dan saat ini Pemprov Kepri masih perjuangkan retribusi dari labuh jangkar, karena letak geografis dengan menghadap beberapa benua dan lintasan kapal per tahunnya mencapai 180 ribu kapal.

“Akibatnya, kami masih melihat-lihat dan mendapatkan bagian dari PAD dari retribusi labuh jangkar. Tapi, ada hal-hal yang tarik ulur untuk PAD labuh jangkar ini,” terangnya.

Namun, Raja Hery mengaku jika Provinsi Kepulauan Riau berbeda dengan Papua, apalagi Papua memiliki kekhususan dengan adanya Otsus.

“Di Papua ada Otsus, dengan berpikir mengedepankan anak cucu ke depan, karena itu anugerah dari Tuhan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat asli Papua,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPR Papua, DR Yunus Wonda, SH, MH mengatakan, jika kegiatan bimtek dalam rangka peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPR Papua ini, merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun.

“Bimtek ini menghadirkan narasumber dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan. Apalagi, setiap tahun selalu ada perubahan-perubahan regulasi, sehingga dengan menghadirkan narasumber ini dapat menjadi bekal bagi pimpinan dan anggota dewan, sehingga tidak ada kepincangan antara pemerintah daerah dan pusat,” jelas Yunus Wonda.

Apalagi, ungkap Yunus Wonda, materi yang diberikan dalam bimtek ini, diantaranya Strategi Penyelesaian Perdasi dan Perdasus sesuai Amanat UU Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua dan Latar Belakang serta Perkembangan Implementasi Pemekaran Provinsi Papua, Gambaran Umum Pengelolaan Dana dalam Rangka Otsus Papua dan Penganggaran Otsus Papua.

Dijelaskannya, dipilihnya Batam, Provinsi Kepulauan Riau atau Kepri sebagai tempat pelaksanaan Bimtek Pimpinan dan Anggota DPR Papua, lantaran Batam, Provinsi Kepri memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup tinggi.

“Di Kepri, pajak kendaraan bermotor sangat tinggi. Padahal, di Kota Jayapura, Papua masih menggunakan plat nomor dari luar Papua, padahal plat nomor PA sudah diberlakukan beberapa tahun lalu, sehingga kelihatan kita belum bisa mengejar target PAD,” kata Politikus Partai Demokrat ini.

Selain itu juga, kata Yunus Wonda, dari sisi industri di Batam, Kepri cukup banyak sehingga membuat mampu menyerap tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dan tentu memberikan kontribusi PAD yang besar bagi daerah.

“Nah, ini menjadi tantangan bagi Papua. Kami juga ingin memiliki kawasan industri, namun sampai saat ini, pemerintah pusat tidak memberikan ruang untuk itu, bagaimana memberikan jaminan keamanan bagi investor yang akan masuk ke Papua, sehingga ada industri-industri masuk ke Papua seperti pabrik Semen, tekstil, kayu dan lainnya, kenapa tidak bisa hadir di Papua? Padahal bahan bakunya tersedia melimpah di Papua,” ujarnya.

Kendati demikian, Yunus menegaskan meski banyak regulasi dan pemekaran di Papua, namun selama tidak ada industri di Papua, maka Papua tidak akan pernah maju dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi paling timur Indonesia ini.

“Untuk itu, kami anggota DPR Papua mencoba melihat pulau kecil di Kepri ini, namun bisa memberikan PAD yang tinggi bagi daerah, meski mereka tidak memiliki Otonomi Khusus seperti di Papua,” imbuhnya.

Yunus Wonda menambahkan, meski Papua memiliki kekhususan, namun implementasinya tidak sesuai yang diharapkan rakyat Papua. (Tiara)