Pasific Pos.com
Headline Kriminal

TIK Pastikan Penembak Pendeta Yeremia Adalah Anggota TNI

Aktivis HAM, Haris Azhar. (Foto : Instagram Haris Azhar).

Jayapura – Tim Independen Kemanusiaan (TIK) untuk Intan Jaya mengungkap temuan terbaru terkait kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, pada 19 September lalu.

Tim ini terdiri sejumlah tokoh agama, akademisi, dan aktivis HAM di Papua. Diantaranya Pendeta Dora Balubun, aktivis dan jurnalis Viktor Mambor, dan aktivis HAM Haris Azhar.

Tim mencatat setidaknya ada rentetan peristiwa yang terjadi di Distrik Hitadipa, baik berupa baku tembak antara TNI-Polri dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), kekerasan terhadap warga sipil Hitadipa hingga perampasan ruang hidup masyarakat setempat.

“Dan itu terjadi selama setahun terakhir,” kata Haris Azhar, Kamis (29/10/2020) dalam keterangan kepada pers.

Lebih jauh Haris mengatakan eskalasi kekerasan dimulai dari peristiwa penembakan terhadap 3 tukang ojek pada 2019. Dilanjutkan, terjadi lagi penembakan terhadap 2 anggota TNI AD oleh TPNPB, pada 17 Desember 2019.

Ia melanjutkan ada sejumlah kematian diduga akibat pembunuhan di luar jalur hukum (arbitrary killings) oleh aparat. Diantaranya pada 26 Januari 2020, Alex Kobogau, seorang warga sipil meninggal karena diduga karena tembakan TNI.

Ada juga kekerasan terus berlanjut pada 20 Februari 2020 di mana dua warga sipil lainnya yakni Kayus Sani (51 tahun), kepala suku Yoparu dan Melki Tipagau (11 tahun), siswa kelas VI SD YPPK Bilogai, Sugapa meninggal diduga tertembak oleh TNI.

“Rentetan peristiwa ini menunjukkan adanya eskalasi kekerasan yang tidak hanya menimbulkan korban dari aparat dan kombatan, tetapi lebih banyak berasal dari masyarakat sipil bahkan beberapa adalah anak-anak,” imbuh Haris.

Tim juga merilis kronologi detail bagaimana Pendeta Yeremia tertembak pada 19 September silam. Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, Pendeta Yeremia sempat menyebut bahwa penembaknya merupakan anggota TNI bernama Alpius, yang diakui merupakan anggota yang sering ia bantu dan dianggap sebagai anak.

Pendeta Yeremia, adalah mantan Ketua Klasis GKII Hitadipa Intan Jaya; sampai saat meninggal Pendeta adalah Ketua Sekolah Tinggi Alkitab Theologia di Hitadipa sekaligus penasihat GKII Wilayah 3 Papua di Hitadipa Intan Jaya Pendeta rutin memberikan pelayanan di dua wilayah Janambu dan Bulapa.

Pendeta dikenal sebagai orang yang memiliki prinsip dan tegas, salah satunya ketika mencari dua anak asal Hitadipa yang hilang sejak 21 April 2020.

Keterlibatan aparat dalam pembunuhan Pendeta Yeremia dikuatkan temuan tim gabungan pencari fakta bentukan pemerintah. Saat ini proses hukum disebut tengah berlangsung.