Pasific Pos.com
Papua Barat

Teluk Bintuni Raih Penghargaan di United Nations Public Services Awards

Manokwari, TP – Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat berhasil meraih penghargan pada United Nations Public Services Awards. Kabupaten Teluk Bintuni menjadi yang terbaik untuk kategori I Asia Pasifik dalam ajang yang dilaksanakan di Maroko 20 Juni lalu.

“Selaku Gubernur Papua Barat, saya megucapkan selamat kepada Pemkab Teluk Bintuni yang telah berhasil mengharumkan nama Provinsi Papua Barat maupun Indonesia atas keberhasilan mendapatkan penghargaan tingkat internasional dalam menyelesaikan masalah wabah malaria dengan program Early Diagnosis and Treatment pada tahun 2018,” sebut Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan pada pembukaan Rapat Koordinasi Bidang Organisasi Kabupaten/Kota se-Papua Barat Tahun 2018 di Valdos Hotel, Manokwari, Kamis (5/7).

Kabupaten Teluk Bintuni, kata dia, berhasil menjadi pemenang United Nations Public Services Awards sebagai satu-satunya inovasi dari Indonesia yang meraih penghargaan internasional kategori I Asia pasifik di Maroko pada 20 Juni lalu.

Keberhasilan Kabupaten Teluk Bintuni merupakan keberhasilan Indonesia dan Provinsi Papua Barat dan menjadi motivasi untuk membuat inovasi pelayanan publik demi mewujudkan Papua Barat yang aman, sejahtera, dan bermartabat.

Menurutnya, Papua Barat memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Oleh karena itu, dia menantang ASN untuk membuat inovasi layanan publik tidak hanya di bidang kesehatan, tapi juga di bidang-bidang yang lain.

“Saya tantang ASN sebagai pemikir, perencana, pelaksana yang bisa melihat semua potensi SDA yang ada untuk dipublikasikan dan disampaikan dalam berbagai kesempatan, sehingga tidak hanya sebatas pada inovasi pelayanan publik di bidang kesehatan yang sudah diraih itu, tapi juga yang lain berkaitan dengan OPD yang lain. Ini menjadi catatan penting bagi kita,” ujarnya.

Sekali lagi, dirinya menyampaikan terima kasih kepada Kabupaten Teluk Bintuni karena dari 21 inovasi layanan publik seluruh Indonesia yang dipresentasikan di Maroko, melalui penilaian dan seleksi, ternyata inovasi dari Teluk Bintuni yang meraih peringkat I. “Ini  luar biasa,” serunya.

Di Bintuni, lanjutnnya, tidak hanya inovasi layanan publik di bidang kesehatan, ada juga inovasi layanan publik di bidang perhubungan yang dengan inovasi itu, konektivitas dari terminal induk hinga ke halte-halte bahkan sampai ke tempat pelayanan publik atau ke kantor dan pasar, sudah ada.

“Ini yang kita juga persiapkan untuk tahun-tahun berikut untuk ikut dalam lomba inovasi pelayanan publik,” sebutnya.

Untuk angka malaria di Kabupaten Teluk Bintuni, dengan program Early Diagnosis and Treatment, sudah berhasil diturunkan hingga menjadi  0 persen lebih saja. Pada bulan Maret lalu, kata dia, saat di Bintuni dirinya dilaporkan bahwa angka malaria sudah menjadi 0,00 sekian persen.

“Ini perlu ditingkakan lagi hingga menjadi 0 persen. Ini penting karena di Papua Barat dan Tanah Papua ini penyakit malaria menjadi tanggung jawab bersama untuk diturunkan. Apalagi kalau kita bisa turunkan angka ini kita semakin sehat,” pungkasnya.

Deputi Pelayanan Publik pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Diah Natalisa pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa inovasi merupakan napas dalam pelayanan publik. Melalui inovasi, instansi pelayanan publik akan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Untuk Provinsi Papua Barat, kata dia, banyak orang yang tidak menyangka jika sudah ada kompetisi internal untuk membuat inovasi layanan publik. Bahkan, tidak hanya satu inovasi dalam setahun tapi sudah lebih dari itu.

Kabupaten Teluk Buntuni, misalnya, bisa memunculkan inovasi. Inovasi tersebut tidak hanya mendapatkan kepercayaan masyarakat di Kabupaten Bintuni, tapi untuk seluruh Indonesia. [CR44-R3]