Pasific Pos.com
Papua Barat

SMA Santo Paulus Bersaing di Bidang Keterampilan

Manokwari,  TP  – Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Santo Paulus , Alexius Dance Tange, S.Pd mengatakan, meski belum diimbangi dengan fasilitas sekolah yang standar, namun perkembangan SMA Santo Paulus yang dinahkodainya mengalami perkembangan yang cukup baik.

       Ia menjelaskan, saat ini SMA Santo Paulus yang terbagi dua jurusan yakni, IPA dan IPS masih menerpakan kurikulum KTSP, sedangkan kegiatan eksternal sekolah seperti, musik, olahraga dan pramuka.

Untuk pengembangan motivasi siswa, Dance mengaku bahwa pihaknya kerap menggelar kegiatan pentas seni yang diapresiasi dengan memberikan sertifikat sebagai bentuk penghargaan. “ Kami terus memantau perkembangan setiap anak didik,” kata Dance kepada Tabura Pos, Rabu (4/7).

Disinggung tingkat kelulusan tahun ini, Dance menambahkan bahwa seluruh anak didiknya lulus 100 persen dalam pelaksanakan ujian nasional. “ Masih ada beberapa siswa yang nilai rendah tetapi dapat lulus semunya,” ujarnya.

Sementara itu, Atik Latifah, SE selaku Guru Bidang Studi sekaligus panitia penerimaan siswa baru di SMA Santo Paulus mengaku bahwa saat ini SMA Santo Paulus salah satu sekolah swasta yang baru berkembang di Manokwari, namun jika dilihat dari dari sisi yang berbeda,  anak didik SMA Santo Paulus banyak yang menonjol di bidang keterampilan tertentu.

“ Kalau sekolah lain lebih menonjol nilai akademik tetapi di SMA Santo Paulus sedikit berbeda, anak didiknya banyak yang memiliki keterampilan di berbagai bidang tertentu. Saat ini kami telah mencoba untuk mengembangkan di bidang keterampilan yang bisa meningkatkan keterampilan siswa seperti,  muatan lokal Terumbu Karang dan pembuatan pupuk organik,” terangnya.

Ditambahkannya, SMA Santo Paulus  terus melakukan pelatihan untuk pengembangan kurikulum, karena penerapan kurikulum masih terkendala dengan jumlah siswa yang ada. Bukan hanya itu, hal tersebut juga berpengaruh pada penilaian kinerja.

“ Kalau jumlah siswanya masih sedikit otomatis mempengaruhi jumlah jam mengajar kami, saya juga agak sedikit menyesalkan istilahnya sistem rayonisasi yang kurang pas di Papua Barat. Mungkin saat ini pihak dinas maupun pihak sekolah negeri sudah berusaha melaksanakan sistem rayonisasi tersebut, umumnya malah justru dari peserta didik maupun orang tua yang maunya memaksakan harus di terima di sekolah tersebut, padahalkan outputnya sama saja,”ujarnya..

Untuk itu, Ia berharap mutu pendidikan saat ini agar bisa mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah, termasuk sarana dan prasarana dalam pengembangan sekolah. [CR 51-R2]