Pasific Pos.com
Papua Barat

Polisi Autopsi Organ Bayi Dugaan Korban Malprektek di RSUD Manokwari

Manokwari,  TP – Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri wilayah timur hingga kini masih mengautopsi organ bayi yang diduga menjadi korban Malprektek di RSUD Manokwari, tanggal 27 Februari 2018, lalu.

Dikatakan Dirreskrimsus Polda Papua Barat, Kombes Pol. Budi Santosa, proses autopsi dilakukan untuk mengetahui apakah pada organ korban terkandung toksin atau kandungan zat lain zat berbahaya lain.

“Organ-organya masih di autopsi apakah ada toksin atau kandungan zat lain sebagai  penyebab kematian, kita tunggu saja hasilnya,” ungkap Dirreskrimsus kepada para wartawan di Mapolda Papua Barat, Senin (2/7).

Diungkapkan Dirreskrimsus, sambil menunggu proses autopsy, sejauh ini pihaknya sudah memeriksa para perawat RSUD Manokwari yang bertugas pada saat korban (bayi) dilahirkan.

Ditanya terkait identitas perawat yang diperiksa dan apakah ada yang terindikasi sebagai tersangka dalam kasus Malprektek di RSUD Manokwari, Dirreskrimsus meminta, agar dapat berkoordinasi langsung dengan penyidik.

Sebelumnya, Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri wilayah timur didampingi Penyidik Ditresktimsus Polda Papua Barat membongkar makan bayi yang diduga menjadi korban Malprektek di RSUD Manokwari.

Dalam keterangan Penyidik Subdit I (Indagsi) Ditreskrimsus Polda Papua Barat, AKP Musa Permana, pembongkaran makam bayi tersebut dalam rangka outopsi, untuk menindaklanjuti proses penyidikan dugaan Malprektek di RSUD Manokwari yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Dirinya menjelaskan, autposi dilakukan untuk membuktikan kematian korban secara detail, sampel DNA dari  jenazah bayi  akan diambil dan diperiksa di Labfor.

“Kita sudah berkoordinasi dengan pihak keluarga dan sudah mendapat persetujuan.  Kita doakan saja semoga proses ini berjalan lancar,” kata Penyidik kepada para wartawan di TPU Pasir Putih, Sabtu (2/6).

Lanjut dia, proses otopsi memang sangat diperlukan untuk melengkapi berkas penyidikan sehingga memperkuat alat bukti dan bisa ditentukan siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus tersebut.

Sebab, menurutnya,  melalui proses otopsi pihaknya bisa mengetahui seperti apa penanganan terhadap bayi setelah dilahirkan hingga menyebabkan bayi tersebut meninggal.

“Beberapa sampel akan kita ambil dan dibawa ke labfor Makassar, kurang lebih sekitar satu bulan kedepan hasilnya sudah bisa kita dapatkan,” tandas dia. [BOM]