Pasific Pos.com
Papua Barat

Penebangan Kayu Tanpa Izin di Km. 14, Bintuni

Penyidik Ditreskrimsus akan Gelar Perkara dengan Dinas Kehutanan

 

Manokwari, TP – Kasus dugaan penebangan kayu tanpa izin di Km. 14, Kampung Wesiri, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, sejak September 2017 hingga Februari 2018, akan memasuki babak baru.

Pasalnya, penyidik Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ditreskrimsus Polda Papua Barat akan melakukan gelar perkara penetapan tersangka bersama Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua Barat.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Papua Barat, Kombes Pol. Budi Santosa mengaku, dalam perkara ini, masih ada beberapa tahap yang perlu dilakukan penyidik.

“Perkara ini agak lama, karena kita mengecek titik koordinat lokasi penebangan. Kita juga menghitung barang bukti yang ada, apakah milik IPK atau IPHK,” jelas Budi Santosa kepada para wartawan di salah satu hotel di Manokwari, Senin (11/6).

Ia menambahkan, setelah penyidik melakukan klarifikasi dengan perusahaan yang bersangkutan, memang mereka memiliki izin dan mempunyai hubungan kerja sama dengan industri primer dari PT. Kharisma Candra Kencana.

Ditanya apakah setelah penyelidikan dan penyidikan aktivitas PT NKA dihentikan, Budi Santosa mengatakan, selama izin melakukan aktivitas sesuai, dipersilakan. “Persoalanya ada dua, pertama, masalah kehutanan dan kedua masalah proyek jalannya,” kata Direskrimsus.

Berdasarkan catatan Tabura Pos, kasus ini terbongkar berdasarkan laporan masyarakat yang menyebut ada kayu tidak jelas di Km. 9, Kampung Wesiri, sebagai lokasi industri primer PT. Kharisma Candra Kencana.

Setelah melakukan pengecekan ke Km. 9, penyidik Tipiter Ditreskrimsus Polda Papua Barat menemukan kayu log, tetapi terdapat juga kayu tebangan baru (fresh cut) yang didatangkan dari Km. 14 oleh PT. Nurhazanah Karya Abadi (NKA) milik HA, salah satu pengusaha ternama di Papua Barat, yang saat itu sedang melakukan pekerjaan jalan.

Setelah melakukan pengembangan, penyidik menemukan beberapa hasil penebangan kayu secara ilegal, diantaranya 92 palet kayu olahan panjang campuran, 132 palet kayu olahan panjang 14 meter, 17 batang kayu log panjang 4 meter, 3 batang kayu log panjang 3 meter, dan 3 batang kayu log panjang 2 meter.

Selain itu, terdapat juga barang bukti berupa 5 unit dump truck, 1 truck, dan 1 mesin senso yang telah diamankan ke Polda Papua Barat, termasuk 2 excavator merek Caterpilar jenis 320d. [BOM-R1]